Part 48 - Calon Istri Baru

957 110 101
                                        

Backsound chapter ini adalah Mahadewa - ElangSilakan putar di plarform musik yg kalian pakai!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Backsound chapter ini adalah Mahadewa - Elang
Silakan putar di plarform musik yg kalian pakai!

Happy Reading!
Enjoy!
.
.
.

Jin bangun dari duduknya, lalu merapat jaket yang dia pakai. Senyumnya merekah menyambut seorang perempuan berhijab abu-abu gelap yang sedang berjalan menuju ke arahnya. Jin melangkahkan kakinya menyongsong perempuan cantik itu dengan hati yang bahagia. Tangannya langsung mengambil alih koper besar yang perempuan cantik itu geret.

"Assalamualaikum, Bidadarinya Abang?" sapa Jin lembut membuat perempuan itu tersenyum lebar mendengarnya.

"Waalaikumsalam," jawabnya singkat namun wajahnya berseri. Mereka berdua berjalan beriringan menuju parkiran. Tidak ada lagi percakapan, mereka hanya menikmati moment saja. Meski sudah pukul setengah sebelas malam, suasana bandara masih cukup ramai. Perempuan itu menikmati suasana tanah kelahiran ayahnya dengan hati yang penuh. Sudah lama sekali dia tidak pulang ke Indonesia.

"Masuk, Dear! Sudah malam, kamu harus segera istirahat." Jin membukakan pintu penumpang bagian belakang, melindungi puncak kepala perempuan itu dan memastikan dia duduk aman dan nyaman. Setelah itu, barulah Jin menuju pintu mobil yang satunya dan masuk ke dalamnya. Keduanya duduk bersisian di kursi penumpang bagian belakang.

"Mang No, kenalin perempuan ini salon istri saya. Tolong diingat wajahnya yah! Nanti saya kirimkan juga fotonya. Ke depannya Mamang bakal sering ketemu sama dia juga," jelas Jin memperkenalkan calon istrinya pada Mang Nono.

"Salam kenal, Neng. Nama saya Nono, panggil Mamang saja yah." Perempuan cantik itu mengangguk dan menyatukan tangannya sopan.

"Salam kenal juga, Mang. Maaf kalau kedepannya saya akan sering merepotkan Mamang."

"Sudah kewajiban saya, Neng. Lagian Aden di rumah juga jarang banget ngerepotin, gimana lagi nanti nambah ada Eneng, bakal tambah tidak direpotkan Mamang sama Bibi. Karena Aden sudah ada yang mengurus." Mereka bertiga terkekeh mendengar keluhan, becandaan, sekaligus pujian tersebut.

"Aku kira Abang nyetir sendiri?" tanya perempuan itu sambil menyandarkan punggungnya penuh ke jok mobil.

"Nggak diizinin sama Adek-Adek, mereka bawel banget gara-gara Abang mimisan tadi pas beres teleponan sama kamu," jawab Jin dan perempuan itu mendengus mendengarnya.

"Udah dibilangin tapi dasar Abangnya ajah yang bandel banget!" Jin tertawa renyah mendengar protesan perempuan cantik itu.

"Abang kayaknya perlu driver deh, sekalian beli mobil lagi," lanjutnya memberikan saran. Jin berpikir sejenak mengenai saran tersebut.

"Abang nggak percaya disetirin orang yang belum Abang tahu kemampuannya."

"Kan nanti di test dulu, Bang! Kan nanti diseleksi. Kondisi Abang nggak memungkinkan loh buat nyetir terus-terusan!"

ABANG (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang