23 Maret 2023 - 29 Maret 2024
INI HANYA FIKTIF BELAKA!
PLEASE, NO PLAGIAT!
Hanya cerita tentang sebuah keluarga.
Berisi tujuh orang bersaudara.
Hidup bersama sejak orang tua mereka tiada.
.
.
.
Jika ada yang mampir ke sini sesama creator/author wa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Backsound chapter ini adalah Thank You for The Memories - Ost Dr. Romantic 3 Silakan putar di platform musik yg kalian pakai! Pakai mode putar ulang yah! Panjang soalnya.
Lagunya berasa perpisahan bgt wkwkk. Spesial di hari terakhir tahun 2023.
Chapter ini panjang (5.206 kata) & tidak di revisi. Maaf kalau ada typo. 🙏🏻
Happy Reading! Enjoy! . . .
Jin dan Rendi sudah sampai di Aribana Building, salah satu gedung serba guna milik AK.Corp. Rendi sedang memutar mobilnya ke area basement, karena barcode undangannya dan Jin adalah undangan prioritas. Undangan regular dan media parkir di area luar.
"Penjagaannya ketat banget, agak berlebihan nggak sih?" tanya Rendi pada Jin karena penjagaan acara ini sangat berlapis-lapis.
"Wajar sih Ren, ini acara Om Kris dan Om Adi, power mereka besar banget. Pasti lawan bisnis mereka juga nggak main-main, mereka cuma mau acara ini berjalan lancar tanpa hambatan," jawab Jin, Rendi mengangguk paham. Masuk akal sekali apa yang Jin sampaikan.
Pada akhirnya Jin memutuskan untuk menghadiri undangan dari Abidzar, meski sebenarnya dia sangat malu untuk hadir. Rendi sudah memarkirkan mobilnya dengan aman, tapi dia belum keluar mobil karena melihat Jin termenung dengan pikiran melayang.
"Kita jadi turun nggak? Atau balik lagi pulang?" tanya Rendi memastikan.
"Gue ragu," jawab Jin, dia menghembuskan nafasnya kasar lalu mengusap wajahnya frustrasi.
"Apa yang lo raguin sih? Soal lo belum baikan sama keluarga Di? Padahal lo itu nggak ribut sama mereka, yang ribut kan adek-adek lo, santai ajalah! Pak Abidzar nggak mungkin mengundang lo kalau dia tahu keluarga Di bakal nggak nyaman," nasihat Rendi.
"Lo nggak ngerti masalahnya, Ren! Gue bener-bener malu, tapi gue juga pengen banget masuk ke dalem." Jin benar-benar bimbang.
"Apa gue pulang ajah yah? Lagian nggak sopan banget gue pakai sandal ke sini." Jin mencoba mencari alasan untuk kembali pulang, dia semakin ragu untuk masuk ke dalam saat dia sudah sampai di tempat acara.
"Ya namanya juga kaki lo lagi luka, orang-orang juga paham kali orang kaki lo diperban kayak gitu. Udah kita masuk ajah! Menurut gue Pak Abidzar malah akan kecewa kalau tahu lo udah dateng kesini tapi malah pulang lagi." Rendi mencoba meyakinkan sahabatnya, dia tahu Jin sangat ingin masuk ke dalam. Dia tidak suka sahabatnya itu banyak pikiran terus.
"Ok, kita masuk sekarang!" Rendi tersenyum puas saat Jin memutuskan untuk benar-benar masuk ke dalam gedung acara.
Rendi keluar lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Jin karena dia harus membantu Jin berjalan. Kaki Jin membengkak, meski sudah diperiksa Ken dan hasilnya tidak papa, tapi sampai sekarang Jin masih kesakitan saat berjalan.