23 Maret 2023 - 29 Maret 2024
INI HANYA FIKTIF BELAKA!
PLEASE, NO PLAGIAT!
Hanya cerita tentang sebuah keluarga.
Berisi tujuh orang bersaudara.
Hidup bersama sejak orang tua mereka tiada.
.
.
.
Jika ada yang mampir ke sini sesama creator/author wa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Backsound chapter ini adalah Sang Dewi Silakan putar di platform musik yg kalian pakai!
Happy Reading! Enjoy! . . .
"Happy birthday!" seru semua orang saat Jin turun untuk sarapan, bibirnya langsung tertarik membentuk sebuah senyuman yang meneduhkan. Ternyata drop-nya kemarin membawa berkah tersendiri, mereka tidak perlu mengatur jadwal berkumpul untuk merayakan ulang tahun Jin yang jatuh di keesokan harinya.
Alexa maju ke hadapan Jin sambil membawa kue ulang tahun untuk calon suaminya tersebut. Tidak ada nyanyian yang heboh karena mereka tahu bahwa Jin tidak menyukai kehebohan.
"Berdoa, Dear!" pinta Alexa lembut, Jin tersenyum segera memejamkan mata untuk berdoa dengan khidmat sambil mengangkat tangannya, setelahnya Jin mengusapkan tangannya ke wajahnya sambil bergumam aamiin yang diaminkan pula oleh yang lainnya.
"Abang bingung nentuin urutan potongan kue, jadi kuenya silakan ambil ajah bagi yang mau," ujar Jin sambil terkekeh.
"Kamu ini, Bang! Ada-ada saja," sahut om Kris.
"Ya sudah kita urutan dari yang tua dulu saja yah!" ucap om Tian yang maju ke hadapan Jin lebih dulu. Dia menatap mata Jin dalam, mata yang mirip sekali dengan Herman, sahabatnya.
"Selamat bertambah dewasa jagoan nya Om, semakin sehat dan selalu optimis ok! Jangan buat Om berhutang pada Ayahmu! Paham kan maksud Om?" Jin tersenyum dan mengangguk meski hatinya sendiri tidak yakin. Om Tian memeluk Jin hangat sambil berbisik di telinga Jin penuh pengharapan.
"Tolong hidup lebih lama, Nak! Jangan lelah untuk bertahan dan berjuang," pinta nya serius membuat Jin bingung harus menjawab apa dan memberikan reaksi seperti apa. Jin lagi-lagi hanya mampu mengangguk saja.
Orang kedua yang maju adalah om Kris dan tante Emily, Jin mencium tangan keduanya khidmat. Om Kris juga dengan hangat memeluk Jin, perasaannya bercampur aduk kala Jin bertambah usia. Om Kris berusaha mengendalikan dirinya sebaik mungkin.
"Bang?" panggil om Kris lembut dengan suara mulai serak menahan tangis. "Kenapa, Om?" jawab Jin tidak kalah lembut.
"Terima kasih banyak Abang sudah hadir di tengah keluarga kami, terima kasih sudah menyembuhkan luka keluarga Prasetya," ujar om Kris tulus, air mata pria paruh baya itu akhirnya jatuh juga. Jin yang menyadari hal tersebut segera mengeratkan pelukan nya untuk menenangkan.
"Segera sembuh yah, Bang! Kami semua selalu ada untuk Abang," tambah tante Emily mengelus kepala Jin sayang. Jin tersenyum hangat dan mengangguk mengiyakan.
Om Kris mengecup puncak kepala Jin lama dan kembali memeluk Jin erat. "Tolong jangan buat Om dan Tante kehilangan anak laki-laki lagi yah, Bang!" pinta om Kris tulus, dada Jin terasa penuh dan hangat mendengarnya.