23 Maret 2023 - 29 Maret 2024
INI HANYA FIKTIF BELAKA!
PLEASE, NO PLAGIAT!
Hanya cerita tentang sebuah keluarga.
Berisi tujuh orang bersaudara.
Hidup bersama sejak orang tua mereka tiada.
.
.
.
Jika ada yang mampir ke sini sesama creator/author wa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Backsound chapter ini adalah Kehilangan (instrumental) - ost Heart Silakan putar di platform musik yg kalian pakai dengan mode putar ulang! Karena chapter ini cukup panjang.
Happy Reading! Enjoy! . . .
"Yoon, boleh tolong bantuin Abang tata piring dan tuang susu? Nasi goreng Abang tinggal diangkat ajah kok." Yoongi bergerak melakukan apa yang Jin perintahkan meski tanpa menjawab sepatah katapun. Jin menghembuskan nafasnya pelan, Yoongi sepertinya memang sedang tidak dalam mood yang baik pagi ini, karena selama menyiapkan sarapan dia tidak banyak bicara.
"Yoon, kok diem ajah? Maafin Abang udah ganggu paginya kamu dengan minta bantuan bikin sarapan." Jin berinisiatif meminta maaf lebih dulu. Sebenarnya Jin sengaja meminta bantuan pada Yoongi bukan pada adiknya yang lain, karena dia tidak mau Yoongi menjaga jarak darinya, Jin tahu pertengkaran adik-adiknya semalam lewat CCTV rumah.
"Gak papa, santai ajah, Bang," jawab Yoongi ala kadarnya. Jin hanya bisa pasrah sambil meletakkan wadah nasi gorengnya ke meja makan.
"Yoon?" panggil Jin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pusing, penglihatan memburam.
"Ckckk apaan sih, Bang! Susu masih satu gelas belum keisi," decak Yoongi kesal sambil menyelesaikan tugasnya.
"Kepala Abang nyeri banget," keluh Jin jujur. Yoongi mendengus semakin kesal mendengar keluhan abangnya.
"Kalau tahu bakal sakit lo nggak usah ngelakuin kegiatan yang bikin lo capek! Besok-besok nggak usah nyusahin diri sendiri! Kita sarapan yang ada ajah atau suruh bibi yang masak!" omel Yoongi yang kekesalannya semakin berlipat. Dia mengomeli Jin tapi tidak membantu abangnya sama sekali meski melihat Jin kesulitan menyeimbangkan diri. Jin bertumpu pada meja makan dan menyisirnya hingga sampai ke kursi yang biasanya dia tempati, lalu mendudukan diri di sana.
"Kenapa ribut-ribut sih?" tanya Jungkook dan si kembar yang turun sudah siap dengan seragam SMA mereka, kebetulan ini adalah hari pertama sekolah mereka pasca liburan.
"Tuh! Abang batu banget!" adu Yoongi sambil menunjuk Jin dengan dagunya.
"Abang kenapa?" tanya Jungkook lembut pada Jin yang tengah memijat kepalanya sendiri. Dia khawatir melihat wajah Jin yang tampak pucat.
"Jangan terlalu lembut! Yang ada Abang malah tambah keras kepala!" tegur Yoongi pada Jungkook.
"Kok nyolot sih, Bang! Ya kali orang sakit kita maki-maki!" sahut Jimin tidak suka dengan perkataan Yoongi.
"Udah-udah! Jangan bertengkar! Abang gak papa. Yoongi niatnya baik kok, dia nggak mau Abang memaksakan diri." Penglihatannya sudah membaik lagi meski nyeri di kepalanya masih belum reda. Tapi tiga adek masih sangat khawatir pada abang sulung mereka.
"Makan sekarang yuk, Dek! Jangan terlalu cemas! Udah waktunya Abang minum obat loh," ujar Hoseok yang baru saja sampai di meja makan dengan Namjoon.
Mereka semua menempati kursi masing-masing. Hoseok menyempatkan diri memeluk Jin lebih dulu, semalam dia sudah tahu apa yang abangnya berikan untuk Ayana.