Part 19 - Rasa Bersalah

881 100 63
                                        

Double Up!!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Double Up!!

Backsound chapter ini adalah
Virgoun - Saat Kau Telah Mengerti
Silakan putar di platform musik yg kalian pakai!
WAJIB! wkwk

Bagi yg belum baca chapter tadi pagi dan kemarin, silakan baca terlebih dahulu chapter-chapter sebelum ini. Gampangnya, yg kelewat bisa lihat tanggal di setiap akhir chapter ajah yah. Thanks.

Biar nyambung, jadi harus baca chapter sebelum-sebelumnya.

Happy Reading!
Enjoy!
.
.
.

Jin berjalan terburu-buru menuju sebuah ruangan. Siang tadi dia dipanggil oleh pihak sekolah terkait adiknya. Sepertinya adik bungsunya membuat masalah. Suasana sekolah sudah lumayan lenggang karena sudah jamnya pulang sekolah.

"Assalamualaikum? Permisi, Pak?" Jin mengucapkan salam setelah mengetuk pintu ruang pertemuan wali murid.

Saat masuk sudah ada Jungkook di sana dengan satu orang guru.

"Silakan duduk, Pak!" Setelah dipersilakan duduk, Jin duduk di salah satu kursi di sana.

"Terima kasih banyak Pak atas kehadirannya. Begini-" Jin cukup berdebar, dia sudah menduga dari awal jika adik bungsunya membuat masalah. Tapi tetap saja sebenarnya dia tidaklah siap.

"Begini, ananda Jungkook dan teman-teman satu tim basketnya melakukan perkelahian dengan tim basket SMA Pertiwi." Benar kan! Jin menghela nafas dalam, mempersiapkan diri untuk apa yang akan selanjutnya pihak sekolah sampaikan.

"Kami sebagai pihak sekolah yang menyaksikan turnamen minggu lalu sangat paham kenapa ananda Jungkook dan anggota tim memicu perkelahian. Tapi tetap saja tindakannya tidak dapat kami benarkan, dengan berat hati semua anggota tim basket kami skors tiga hari, menurut peraturan harusnya diskors satu minggu, berhubung kami paham alasan anak-anak kami melakukan tindakan tersebut, jadi kami memberikan sedikit toleransi." Jin mendengarkan dengan seksama, tangannya meraih amplop berisi surat skors yang pihak sekolah berikan.

"Maaf sebelumnya, Pak. Boleh tolong jelaskan kronologisnya secara rinci?" pinta Jin, dia ingin mengetahui rentetan kejadiannya secara utuh.

"Anak-anak basket sekolah kami, yaitu ananda Jungkook dan kawan-kawan yang memancing perkelahian lebih dulu lewat pesan WhatsApp. Mereka menentukan tempat bersama, yaitu Jl. Panglima tepat di lapangan merah, lalu bolos dari sekolah masing-masing. Ya selanjutnya berkelahi sampai akhirnya diamankan oleh petugas keamanan setempat. Lalu pihak sana menghubungi sekolah kami dan SMA Pertiwi," jelas guru tersebut dengan rinci, Jin mengangguk-nganggukan kepalanya paham.

"Maafkan kami, Pak. Meski ananda Jungkook siswa berprestasi tapi kami tetap tidak dapat menghilangkan fakta kesalahan yang ananda Jungkook buat. Kami harus memberikan sanksi padanya sama seperti pada murid yang lain." Jin mencoba tersenyum setulus mungkin, meski hatinya kecewa berat adiknya melakukan tindakan demikian.

ABANG (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang