23 Maret 2023 - 29 Maret 2024
INI HANYA FIKTIF BELAKA!
PLEASE, NO PLAGIAT!
Hanya cerita tentang sebuah keluarga.
Berisi tujuh orang bersaudara.
Hidup bersama sejak orang tua mereka tiada.
.
.
.
Jika ada yang mampir ke sini sesama creator/author wa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Backsound chapter ini adalah Kamu dan Kenangan - Maudy Ayunda Silakan putar di platform musik yg kalian pakai dengan mode putar ulang!
Happy Reading! Enjoy! . . .
"Sshh!" Elliana sedikit meringis perih saat cairan alkohol menyentuh lukanya. Jin sedikit menggigit bibir bawahnya seolah merasakan perih juga.
"Kakak ngelamun apa gimana sih sampai luka begini?"
"Lagi ngupas mangga muda terus meleset pisaunya." Diandra berdecak mendengar alasannya.
"Udah tahu pegang pisau malah gak hati-hati!" omel Diandra.
"Ini Si Papah pas liat luka ini habis kamu, Kak!" Elliana malah tertawa diomeli demikian. Lagi-lagi tawa itu menarik Jin untuk memperhatikannya dengan intens. Sudut bibir Jin tertarik melihat interaksi dua perempuan itu, Diandra dengan omelannya dan Elliana dengan tawanya.
"Tawamu indah, Kak," batin Jin entah untuk keberapa kalinya. Hari ini dia sering sekali membatin tentang perempuan cantik yang baru dia kenal itu.
Lagi, lagi, dan lagi semua adik-adik Jin saling pandang satu sama lain seolah saling berkata, "Cielah!!! Abang kita jatuh cinta! hahaha."
Setelah luka di telapak tangan kiri Elliana diobati, Diandra memasangkan perban transparan anti air di sana. Diandra berhenti mengomel dan tersenyum puas menatap hasil kerjanya.
"Terima kasih banyak, Sayang." Elliana mengecup pelipis Diandra dan hal itu berhasil meluruhkan kekesalan Diandra dengan mudah.
"Sayang, cuci tangan lagi gih! Kita mau kupas buah-buahan soalnya," titah Jin pada adik perempuannya itu karena beberapa mbak pekerja di rumah keluarga Prasetya sudah datang ke ruang tengan mengantarkan berbagai jenis buah-buahan dan bahan-bahan untuk rujakan. Diandra mengangguk, dia segera membereskan kotak P3K dan beranjak untuk mencuci tangan lagi.
"Kita pakai hand sanitizer ajah, Abang tahu kalian mager," lanjut Jin sambil membersihkan tangannya sendiri, lalu melemparkan hand sanitizer tersebut pada adik-adiknya.
"Abang pengertian banget sih!" seru Jungkook dan si kembar berbarengan. Elliana tertawa melihat kelakuan tiga anak itu.
"Eh, eh, eh! Gak usah, Kak!" cegah Jin saat Elliana meraih pisau dan dan mangga yang baru dia kupas sekali kupasan tadi di dapur.
"Nanti kalau luka lagi tangannya gimana?" Jin memandang Elliana dengan raut cemas.
"Gak usah lebay!" jawab Elliana tegas.
"Bukan lebay! Ini namanya khawatir, Kak!" balas Jin tidak kalah tegas. Tanpa mendebat lagi, dia segera mengambil alih mangga dan pisau dari tangan Elliana. Gadis cantik itu menghela nafas lalu memilih beralih membuat sambal rujaknya. Adik-adik Jin saling pandang, fiks abang mereka benar-benar jatuh cinta kalau sudah care sebegitunya pada lawan jenis.