23 Maret 2023 - 29 Maret 2024
INI HANYA FIKTIF BELAKA!
PLEASE, NO PLAGIAT!
Hanya cerita tentang sebuah keluarga.
Berisi tujuh orang bersaudara.
Hidup bersama sejak orang tua mereka tiada.
.
.
.
Jika ada yang mampir ke sini sesama creator/author wa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Backsound chapter ini adalah Rossa - Khanti Silakan putar di platform musik yg kalian pakai! Silakan putar berulang, karena lagunya pendek.
Liriknya ngena sekali:
Tak bisa ku merampungkan Harus sabar tanpa kesudahan - Namun selalu dalam keindahan Ada harga yang harus kita tebus Semesta kasihan melihat aku Bertubi-tubi Tuhan Mengujiku
Happy Reading! Enjoy! . . .
Jin sibuk berkutat dengan peralatan dapur sejak pukul tiga pagi. Semalam dia baru pulang setelah dua mingguan berada di luar kota, dia bertekad untuk memperbaiki hubungan dia dengan adik bungsunya. Berusaha mengembalikan ke situasi sebelum Wijaya.Corp. terkena badai. Meski dia tahu, dia akan lebih kesulitan membagi waktu yang ada.
Jin memasukkan ayam, tempe, dan tahu yang sudah di ungkep ke wadah kedap udara. Lalu memastikan sup daging siap untuk sarapan adik-adiknya. Setelah selesai, dia bergegas mandi untuk sholat subuh.
Setelah membangunkan semua adiknya, dia menunggu adik-adiknya di mushola. Saat pertama memasuki mushola, air matanya luruh, dia baru sadar sudah lama sekali dia tidak sholat subuh berjamaah dengan adik-adiknya. Belakangan dia selalu pergi kerja sebelum subuh. Pantas saja Jungkook marah padanya, pikir Jin.
"Kenapa berdiri di tengah-tengah Bang? Ayo sholat, Bang!" Ternyata adik-adiknya sudah menyusulnya ke mushola.
"Heem ayo!" Jin segera mengambil posisinya di sajadah imam.
Selesai sholat, seperti biasa mereka menyalimi abangnya. Jin rasanya ingin sekali menangis, dia merasa terharu tapi juga sedih dalam waktu bersamaan, entah kenapa.
"Kalian siap-siap gih! Kalian belum mandi kan? Abang tunggu di bawah, Abang udah bikin sarapan." Jin menampilkan senyum teduhnya pada mereka.
"Woohhh Abang bikin sarapan?" seru Jimin senang.
"Abis keluar kota lama kayaknya kesibukan Abang udah di tunaikan di sana yah? Biasanya subuh udah nggak ada di rumah," tambah Taehyung.
"Iishh kalian itu! Harusnya bersyukur dong." Namjoon menggeleng-gelengkan kepala sok santai, meski sejujurnya dia juga senang, cuma dia tidak heboh saja.
"Udah-udah, sana siap-siap!"
Semua adik Jin langsung bubar menuju kamar masing-masing. Jin langsung beranjak dari posisi silanya dan menahan Jungkook, dia langsung memeluk adik bungsunya dengan erat. Jungkook memang tidak lagi merasa risih, tapi dia juga tidak membalas pelukan abangnya.
"Dek, Abang nggak tahu kamu udah maafin Abang atau belum. Tapi Abang nggak akan bosan minta maaf sama Adek. Maafkan Abang yah, maaf kalo Abang belum bisa gantiin sosok Ayah buat Adek." Jin mengelus belakang kepala Jungkook sayang, lalu mengecup kening Jungkook lembut.