"ayo cepat cepat, kenapa lama sekali? sudah Mommy katakan untuk menyiapkan buku sedari malam Lian..kenapa baru membereskannya sekarang?" omel Jennie.
"Honeyyyyy..." teriak Lisa dari kamar utama.
"Mom semalam Daddy mengajak Lian bermain game, aku melupakan bukuku. mianhe" balas Lian. "Mommy maafkan, tapi jangan di ulangi lagi...kau seharusnya lebih prepare, karena semua perlu disiapkan Lian" balas Jennie
"Mommmm..." teriak Lisa lagi dari kamar.
Jennie menghela nafasnya, "Daddy mu pasti tidak menemukan dasinya, padahal sudah Mommy siapkan..astaga" gerutu Jennie.
"hehehe i love you Mommy, yang sabar Mom" kata Lian
"sudah selesai, ke bawah tunggu yang lain untuk sarapan bersama"
Lian melakukan gerakan hormat pada Jennie, dia berlalu keluar dari kamar dengan membawa ransel yang sudah Jennie bantu rapihkan. "Mom, kau melihat jepit warna hitam milikku?" tanya Hana yang tiba-tiba nongol dibalik pintu kamar Lian.
"semua jepit milikmu bukankah kau simpan di meja rias?"
"huh Mom jika ada, aku tidak akan bertanya" balas Hana.
"Mommy Honeyyy.." teriak Lisa lagi dan lagi.
"iya sebentar Dad" teriak Jennie, "ayo Mommy bantu cari, dimana adik?" tanya Jennie.
Semua kamar tidur berada di lantai atas, memudahkan Jennie untuk mengurus 4 bayi besarnya.
"adik di kamar, dia bilang tidak sekolah hari ini karena kepala sekolah sedang ada acara. jadi aku biarkan dia untuk tidur kembali" jawab Hana dengan polos.
Jennie berhenti melangkah, dia berbalik badan dan kini berhadapan dengan Hana. "wae Mom?"
"Hana Kim Manoban, apa kau lupa jika kalian satu sekolah? dan apa urusannya kepala sekolah memiliki acara lalu murid diliburkan?" tanya Jennie dengan heran. Hana menutup mulutnya dengan wajah terkejut, cengiran muncul dari bibir mungilnya.
Dengan langkah cepat Jennie masuk ke kamar dua anak gadisnya, dan benar saja. Si bungsu keluarga Manoban ini tengah nyaman tidur disaat semua orang sibuk di Senin pagi. "Ya Tuhan, huh sabar Jennie..lihat monster kecil ini adalah anakmu. jangan kasar jangan..huh huh sabar" gumam Jennie dengan mengatur nafasnya.
Jennie berjalan ke arah meja rias, dia mencari jepit hitam yang menjadi favorite Hana, itu pemberian dari Neneknya. Jepit biasa, bahkan tidak mahal sama sekali, namun bernilai karena itu adalah milik Ibu kandung dari Hana.
"this, sudah Mommy temukan..tunggu di bawah bersama Lian oke? Mommy perlu mengurus dua bayi lagi" kata Jennie
Hana terkekeh, "Mommy memiliki sihir yang luar biasa..padahal aku sudah mencari di sekitar sana beberapa kali tapi tidak terlihat" Hana naik ke kursi meja rias lalu mengecup pipi Jennie. "gomawo Mom..i love you" katanya.
"i love you more..tunggu dibawah, jalan perlahan oke"
Setelah Hana keluar dari kamar Jennie hanya menggeleng melihat kelakuan anak bungsunya ini. "kenapa dia sangat berbeda dari kakak kakaknya? padahal aku mendidiknya sama seperti kakak kakaknya, haish" gumam Jennie
"Mommy astaga, aku sudah memanggilmu daritadi kenapa tidak datang?" omel Lisa yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
Jennie membuat nafas lemah, "apa yang suamiku butuhkan hum? bukankah semua sudah lengkap di ranjang? kau hanya perlu memakainya"
"bukan itu, aku sudah memakai semuanya..tapi aku mencari ponselku, kau bilang sedang di charge namun tidak ada" ucap Lisa, dia melihat Lille yang masih tidur nyaman di kasur membuatnya dahinya berkerut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Wedding Story
RomanceIn marriage, it's not about finding someone you can live with. It's about finding someone you can't live without. Lika-Liku perjalanan pernikahan Lalisa Manoban seorang Kapten Pilot Korean Air dan Jennie Kim seorang Dokter Anak di Asan Medical Cente...
