🍒17

2.1K 94 11
                                        

  Hari demi hari berlalu. Hari ini, ujian terakhir telah selesai dilaksanakan. Beomgyu merasa lega sekaligus lelah. Setelah beberapa hari terakhir otaknya diperas habis-habisan, dia sudah merencanakan untuk menghabiskan sisa harinya di kamar. Tidur, mendengarkan musik, atau sekadar memandangi langit-langit. Tapi... kenyataan berbeda dari rencana.

Begitu pintu kamarnya terbuka, beomgyu terpaku,

Di sana, duduk di kursi meja belajarnya, seseorang yang menjadi sumber dari mimpi buruknya. Jung Jeno.

Sejenak, Beomgyu tidak bisa berkata apa-apa. Semua rasa lelahnya sirna. Dadanya bergemuruh dengan amarah yang sudah lama ia pendam, bercampur ketakutan yang perlahan mencengkeram dirinya.

"Mau apa lagi?" sapanya dingin, tanpa sekalipun menatap langsung ke arah pemuda itu.

“Gyu... gue nggak tahu harus mulai dari mana, tapi... gue minta maaf.” Suara Jeno terdengar pelan, hampir berbisik.

Beomgyu mendongak, matanya merah penuh emosi. Ia tertawa keciil, tawa yang pahit, hampir menyeramkan.

“Minta maaf?” ulangnya, menatap Jeno seolah pemuda itu adalah lelucon terburuk yang pernah ia dengar. “Seorang Jung Jeno minta maaf, ya? Setelah semua yang kak  Jeno lakukan?!” Beomgyu mendongakkan wajahnya, cukup untuk membuat Jeno bisa merasakan panas kemarahannya.

"Setelah semua hasil kerjamu berhasil menghancurkan hidupku kak jen!?” teriaknya, suaranya pecah seperti kaca yang dihantam palu.

Jeno bangkit dari kursinya, mencoba mendekati Beomgyu. “Gue....Gue bener-bener nyesel…”

Namun, langkah Jeno justru memicu sesuatu yang lebih dalam di diri Beomgyu. Tubuh Beomgyu bergetar hebat. Napasnya tersengal, seperti sedang berusaha mencari udara di tengah ruangan yang tiba-tiba terasa sempit. Wajahnya memucat, dan sorot ketakutan terpancar jelas di matanya.

“Jangan... Jangan mendekat!” Beomgyu berteriak, tubuhnya mundur beberapa langkah hingga punggungnya membentur dinding. Ia mendekap dirinya sendiri, seperti sedang melindungi sisa-sisa dirinya yang masih utuh.

“Gue cuma mau....”

“Pergi!” Beomgyu berteriak sekeras mungkin, suaranya pecah, menggema di seluruh ruangan.

Jeno terdiam. Langkahnya terhenti, tangannya yang terulur perlahan jatuh ke samping. Ia tak pernah melihat Beomgyu seperti ini sebelumnya rapuh, hancur, dan penuh ketakutan. Tapi ia tahu, ini salahnya. Semua ini salahnya.

Tepat saat itu, Mark yang kebetulan lewat di depan kamar Beomgyu mendengar suara teriakan. Tanpa pikir panjang, Mark membuka pintu kamar dan mendapati pemandangan yang membuatnya terkejut

“Beomgyu apa yang terjadi?!” Mark memandang mereka berdua dengan tatapan tajam. Matanya segera tertuju pada Beomgyu yang terduduk di lantai, tubuhnya gemetar hebat, wajahnya basah oleh air mata.

Tanpa menunggu jawaban, Mark menoleh ke arah Jeno, Jeno hanya bisa berdiri diam, wajahnya penuh rasa bersalah. Tapi Mark tidak peduli. Ia memandang tajam ke arah Jeno ekspresinya berubah dingin. “Lo ngapain di sini?!” bentaknya.

“Gue cuma…” Jeno mencoba bicara, tetapi Mark langsung memotong.

“Keluar. Sekarang.” Suara Mark rendah tapi penuh ancaman, seperti guntur sebelum badai.

Jeno hanya bisa menunduk, memandang Beomgyu sejenak sebelum akhirnya berbalik dan berjalan pergi.

Setelah pintu tertutup, Mark segera berlutut di depan Beomgyu.“Hei, Gyu… kak mark di sini.” Suaranya lembut, penuh perhatian.

Beomgyu tidak merespons. Dia hanya duduk di lantai, tubuhnya terguncang hebat oleh isak tangis yang tak bisa ia tahan lagi.

Mark menghela napas panjang, menarik beomgyu ke dalam pelukannya, menahan emosi yang membuncah di dadanya. Apa pun yang telah dilakukan Jeno, jelas meninggalkan luka yang sangat dalam pada Beomgyu. Luka yang mungkin tidak akan pernah sepenuhnya sembuh.

Jung BeomgyuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang