Sudah hari kedua Beomgyu terbaring di ranjang rumah sakit dengan mata yang masih terpejam. Keluarga dan teman-teman bergantian menjaga, namun hanya Jeno yang tidak pernah meninggalkan sisinya. Bahkan, Jeno masih mengenakan pakaian yang sama sejak dua hari lalu kemeja kusut tanpa dasi yang kini entah di mana.
Jeno duduk di sisi ranjang, menatap Beomgyu tanpa henti. Hatinya dipenuhi rasa cemas, lelah, sekaligus rindu yang menyesakkan. Jemarinya yang dingin mengusap lembut punggung tangan Beomgyu yang sama lemasnya.
“Adek… Bangun, sayang. Kakak rindu, Dek…” bisiknya pelan, suaranya serak karena terlalu banyak menangis. “Ayo, minta apa aja ke Kakak. Apapun yang Adek mau, Kakak pasti usahakan. Tapi bangun, ya. Kamu juga harus lihat Sion, Dek… Dia lebih mirip Kakak dari pada kamu, lho,” lanjutnya dengan senyum kecil yang penuh kepahitan. Sesaat, Jeno tertawa kecil, namun tawa itu terasa hambar, lebih seperti usaha menyembunyikan luka yang menganga di hatinya. Wajahnya sembap, dengan lingkaran hitam di bawah matanya yang jelas menunjukkan kelelahan.
Pintu kamar terbuka perlahan, namun Jeno tidak bergeming. Pandangannya tetap tertuju pada wajah Beomgyu yang damai namun terasa jauh.
“Jen… Lo makan dulu, ganti baju. Gue bawain semuanya,” suara Mark terdengar pelan, tetapi penuh kepedulian. Ia berdiri di dekat pintu, menatap prihatin pada adiknya yang sudah nyaris tak terurus.
Namun, Jeno menggeleng lemah tanpa menoleh. “Nggak, Kak. Gue nunggu Adek bangun dulu. Gue mau makan bareng dia,” jawabnya lirih, tatapannya tetap terpaku pada Beomgyu.
Mark mendekat, meletakkan tas kertas berisi pakaian bersih di meja. “Jen, lo nggak bisa begini terus. Kalau Beomgyu sadar dan lihat lo seberantakan ini, dia pasti sedih. Tega lo bikin dia sedih di hari dia bangun?” ucap Mark, nada suaranya sedikit tegas, tetapi penuh perhatian.
Ucapan itu seperti pukulan telak bagi Jeno. Ia terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil. Dengan langkah berat, ia membawa tas kertas itu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah Jeno pergi, Mark duduk di kursi yang tadi diduduki Jeno. Ia menatap Beomgyu yang masih terlelap, mencoba menyembunyikan rasa sedihnya di balik senyuman kecil. “Sayangnya Abang… Masih betah tidur, ya, Dek? Jangan lama-lama, dong. Katanya kangen abang? Abang udah pulang ini sayang....nanti Kalau kelamaan, Sion lebih nempel sama Kak Haechan, lho,” ucap Mark dengan nada bercanda, meski jelas terdengar getaran emosi dalam suaranya.
Dua hari ini, Taeyong, Haechan, dan Jungkook bergantian merawat Sion. Yeonjun tidak ikut serta karena mual hebat yang beberapa Hari ini menyerangnya, Semua orang merasakan kekosongan tanpa kehadiran Beomgyu yang selalu membawa kehangatan dalam keluarga mereka.
Mark menghela napas, lalu menatap Beomgyu sekali lagi. “Ayo, Dek… Bangun. Semua orang nungguin kamu…” bisiknya, berharap keajaiban segera datang.
"Jeno kemana, Bang?" tanya Jaehyun yang baru saja tiba bersama Taehyung dan juga jungkook. Wajahnya tampak letih, tetapi matanya menunjukkan kekhawatiran yang mendalam.
Mark, yang masih duduk di samping ranjang Beomgyu, menganggukkan kepala ke arah kamar mandi. “Dia lagi bersihin diri,pah." jawabnya dengan suara rendah, mencoba menutupi rasa khawatirnya.
Sementara Jaehyun berbicara dengan Mark, Taehyung melangkah mendekat ke arah Beomgyu yang masih terbaring dengan tenang. Ia duduk di tepi ranjang, menatap wajah putrinya dengan penuh cinta dan kesedihan. Dengan lembut, ia mengecup dahi Beomgyu yang dingin. Hatinya terasa remuk melihat keadaan putrinya yang tak kunjung membuka mata.
“Sayang… dada dan papamu , ada di sini, Dek. Nggak mau nyapa kita dulu, hm?” bisiknya, suaranya penuh kelembutan yang bercampur kesedihan. Jemarinya mengusap pelan rambut Beomgyu, seolah berharap sentuhannya bisa membangunkan putrinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jung Beomgyu
Fanfiction✿꙳Completed꙳✿ Kamu tau apa yang aku inginkan? Sederhana saja Kebahagiaan hanya itu saja tidak lebih Warning!! GS area!! Mohon pertimbangkan sebelum membaca Terimakasih.
