🍒the last

2.4K 54 26
                                        






Pagi itu begitu tenang, seolah dunia telah bersepakat untuk memberi ruang bagi kebahagiaan sederhana yang bersemayam di sebuah rumah di pinggir kota. Langit membentang biru, dihiasi gumpalan awan putih yang berarak pelan. Matahari memancarkan kehangatan lembut, sementara angin musim semi berhembus sepoi, membawa aroma segar dari taman belakang.

Di atas balkon, Taeyong berdiri memandang ke bawah, matanya teduh, wajahnya dibasuh sinar mentari pagi. Di taman belakang, tawa dan canda memenuhi udara. Jeno tengah bermain dengan Sion yang berada di delapan Beomgyu, sesekali membuat sin tertawa lebar bahkan beomgyu pun ikiy yerwawa melihat tawa putranya karena ulah lucu Jeno. Mark dan Haechan duduk gazebo, tangan Haechan sesekali mengusap perutnya yang membuncit, sementara Soobin sibuk membawakan jus untuk Yeonjun yang tampak kelelahan dengan perut hamilnya yang sudah besar.

Jaehyun melangkah pelan, menyentuh lembut pundak Taeyong dari belakang sebelum melingkarkan tangannya dengan erat. “Kau bahagia?” bisiknya, suaranya serak namun penuh kehangatan.

Taeyong tak segera menjawab. Ia menarik napas panjang, membiarkan pemandangan di hadapannya mengisi seluruh hatinya. “Sangat, Jae,” jawabnya akhirnya, suaranya lirih namun sarat rasa syukur. “Bahkan lebih bahagia dari semua mimpi yang pernah kubayangkan dulu.” Senyum tipis melengkung di bibirnya, matanya tetap tak lepas dari putra-putri mereka yang begitu hidup di bawah sana.

“Taeyong noona...” Jaehyun memanggil lembut, membuat Taeyong menoleh perlahan. Pandangan mereka bertemu, dan dalam keheningan singkat itu, seolah semua perasaan yang tersimpan selama bertahun-tahun mencuat tanpa kata.

“Terima kasih,” ucap Jaehyun dengan nada yang penuh kelembutan. “Terima kasih karena kau telah berdamai dengan masa lalu kita. Terima kasih telah menerima Beomgyu dengan sepenuh hati, mencintai Jeno tanpa ragu, dan menjadi ibu yang luar biasa bagi ketiga putra kita.” Suaranya serak, seolah setiap kata yang keluar adalah ungkapan dari lubuk hati yang paling dalam.

Taeyong menatap Jaehyun dengan mata berkaca-kaca sebelum melangkah maju dan memeluknya erat. Ia menyandarkan wajahnya di bahu Jaehyun, suaranya bergetar saat ia berkata, “Jae... seharusnya aku yang mengucapkan itu. Terima kasih telah menerimaku dengan segala kekuranganku. Terima kasih karena tak pernah lelah mencintaiku.”

Hening sejenak. Hanya suara angin dan tawa riang dari taman yang mengisi udara. Dalam dekapan itu, ada sesuatu yang tak terlihat, namun terasa, sebuah rasa saling memiliki, saling menyembuhkan, dan saling melengkapi.

Hari itu, di bawah langit biru yang menjadi saksi, Jaehyun dan Taeyong berdiri di balkon, memandang masa depan mereka dengan hati yang penuh, bersama keluarga kecil yang mereka bangun dengan cinta dan pengorbanan.








Di bawah balkon tempat Taeyong dan Jaehyun berdiri, suasana terasa hidup dan riuh. Suara gelak tawa memenuhi udara, bercampur dengan gemerisik angin pagi yang membawa aroma bunga dari taman belakang. Beberapa ekor burung kecil berkicau riang, seolah turut memeriahkan momen penuh kebahagiaan itu.

Di tengah taman, gazebo yang dihiasi tirai tipis berwarna putih menjadi pusat perhatian. Meja kayu di dalamnya penuh dengan berbagai camilan, sementara kelompok pemuda- pemudi berkumpul, bercanda, dan saling menggoda. Kehangatan terpancar dari setiap sudut, seperti sebuah lukisan keluarga besar yang sempurna.

Suasana semakin ramai ketika Jaemin muncul bersama Renjun, Sungchan, dan Shotaro. Langkah mereka terhenti sejenak di tengah taman, dengan Shotaro yang tampak malu-malu di belakang Sungchan yang wajahnya sedikit memerah.

“Aduh, pasangan baru kita kelihatan malu-malu,” ledek Soobin, yang langsung mendapat tatapan tajam dari Sungchan.

“Eh, gak baru, Bin. Eh, baru ding… baru di-publish maksudnya! Kayaknya si Sungchan udah gak tahan lama-lama backstreet,” tambah Jeno sambil menyeringai.

Jung BeomgyuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang