🍒51

1.4K 65 19
                                        










  Beomgyu menyandarkan tubuhnya di sofa, napasnya terdengar berat dan teratur. Usia kandungannya sudah menginjak 9 bulan, dan akhir-akhir ini, Beomgyu sering merasakan sakit di perutnya. Rasa sakit yang menjalar ke kakinya beberapa hari terakhir semakin tak tertahankan. Kakinya bengkak dan terasa begitu berat, seperti membawa seluruh dunia dalam setiap langkahnya. Melihat kondisi Beomgyu seperti itu, Jeno selalu berada di sisinya, waspada dan siap membantu, memastikan segala sesuatunya berjalan dengan baik.

Jeno duduk di sebelahnya, penuh perhatian. Dengan lembut, ia meletakkan kaki Beomgyu di pangkuannya dan mulai memijat perlahan, seolah ingin mengusir semua beban yang tak terlihat itu.

“Sayang, sakit banget, ya?” tanya Jeno, suaranya dipenuhi kekhawatiran. Tangannya tak berhenti, bergerak dengan penuh kasih sayang di atas kaki Beomgyu yang tampak lelah.

Beomgyu menggeleng pelan, senyum samar terukir di wajahnya meskipun matanya menyiratkan lelah yang mendalam. “Enggak, Kak… cuma pegel aja,” ujarnya lirih, tapi nadanya seperti berusaha menyakinkan dirinya sendiri, bukan Jeno.

Jeno menghela napas, menatap Beomgyu yang terlihat berusaha kuat meski tubuhnya jelas meminta istirahat. “sayang..., nda gak harus selalu bilang enggak apa-apa. Kakak tahu adek lelah. Kalau sakit, bilang ke kakak, ya?” ucap Jeno dengan suara lembut, nyaris seperti bisikan.

Beomgyu hanya menunduk, tangannya bergerak pelan untuk meremas jemari Jeno. hatinya terasa hangat oleh perhatian Jeno.
"Iya ayah..." ucap beomgyu pelan.

Dalam diam, ia merasa bersyukur meskipun lelah, ia tahu ada seseorang yang akan selalu memeluknya dengan cinta, apa pun yang terjadi.

"Kakak... Abang sama Kak Haechan kapan pulang sih? Adek kangen banget," ucap Beomgyu lirih, suaranya terdengar penuh kerinduan, sambil menutup matanya dan menikmati pijatan lembut Jeno di kakinya.

Mark dan Haechan sedang berbulan madu setelah pesta pernikahan megah mereka bulan lalu. Baru beberapa hari ini mereka bisa berangkat, setelah urusan kepindahan ke rumah pribadi mereka selesai.

Jeno tersenyum hangat, matanya penuh perhatian saat melihat Beomgyu yang tampak sedikit merana. “Kangen banget ya, sayang? Abang bilang nanti pulang kesini dulu.” tanyanya dengan lembut, tangannya terus memijat kaki Beomgyu, merasakan ketegangan yang mulai hilang.

Beomgyu mengangguk, senyum kecil terbentuk di bibirnya, meskipun ada sedikit kesedihan. "Iya... kangen banget," jawabnya pelan, matanya yang terpejam merasakan kenyamanan yang hanya bisa diberikan oleh Jeno.

Beomgyu tertidur nyenyak di sofa panjang, sepertinya pijatan lembut Jeno membuat tubuhnya rileks hingga kantuk datang begitu saja.

“Adek tidur, Jen?” tanya Jaehyun, yang baru saja datang menghampiri mereka dengan langkah pelan.

“Iya, Pa. Mau Jeno pindah, tapi gak tega, tidurnya nyenyak banget,” jawab Jeno dengan senyum lembut, matanya tak lepas dari Beomgyu yang terlelap.

Jaehyun menatap anaknya dengan penuh perhatian, kemudian berbicara pelan, “Jeno... ikut Papa ke kantor, ada rapat penting. Biar Bubu yang jagain adek.” Tadi sebenarnya Jaehyun tidak ingin mengganggu Jeno dan Beomgyu, mengingat akhir-akhir ini putrinya sering mengeluhkan sakit di perutnya. Namun rapat yang sangat penting menunggu, dan tentu saja, kehadiran Jeno sangat dibutuhkan.

Jeno menghela napas, rasa berat untuk meninggalkan Beomgyu begitu saja, namun ia tau tanggung jawab yang harus diemban. Setelah beberapa detik, ia mengangguk dengan pasrah. “Jeno siap-siap dulu, Pa,” jawabnya, kemudian meninggalkan Beomgyu yang terlelap dengan pelan. Sebelum keluar, Jeno menyentuh pelan kening Beomgyu, memberikan ciuman lembut sebagai tanda kasih sayang.

Jung BeomgyuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang