🍒67

850 40 20
                                        



Di tengah malam yang sunyi, Jeno duduk bersandar di sisi tempat tidur. Matanya tak lepas menatap sosok Beomgyu yang tertidur pulas di sebelahnya. Wajah istrinya begitu damai, napasnya teratur, seolah sedang bermimpi indah. Ada kehangatan yang menjalar di dada Jeno setiap kali melihat pemandangan seperti ini sesuatu yang tak pernah gagal membuatnya jatuh cinta lebih dalam.

“Ah, sepertinya malam ini dia absen menggodaku,” gumamnya sambil tersenyum kecil. Ia terkekeh pelan, mengingat kebiasaan Beomgyu yang sering menggodanya atau mengoceh sebelum tidur. Tapi malam ini berbeda Beomgyu terlalu lelah setelah hari yang panjang.

Namun, senyum di wajah Jeno perlahan memudar saat kenangan masa kecil tiba-tiba menyeruak ke permukaan, kenangan yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Seolah kejadian itu baru saja terjadi, jelas dan nyata seperti sebuah film yang diputar ulang di kepalanya.

Waktu itu, ia masih kecil, mungkin sekitar delapan tahun. Taeyong, yang saat itu terlihat berantakan setelah pertikaiannya dengan jaehyun, sedang marah besar karena ia ketahuan memberi cookies kepada beomgyu. Sebagai hukuman, Taeyong mencambuk pergelangan tangannya dengan penggaris kayu, cukup untuk meninggalkan rasa perih dan bekas kemerahan.

Di tengah malam, ketika Jeno meringkuk di sudut kamar, mencoba menahan air mata, suara langkah kecil terdengar mendekat. Pintu kamarnya terbuka perlahan, dan sosok mungil Beomgyu yang saat itu masih sangat kecil mengintip dari balik pintu. “Kakak... sakit, ya?” tanyanya dengan suara pelan, nyaris seperti bisikan.

Jeno tidak menjawab, hanya memalingkan wajahnya ke arah lain, mencoba menyembunyikan rasa perihnya. Tapi Beomgyu, dengan langkah pelan, mendekat dan duduk di sampingnya. Ia mengeluarkan plester kecil dari kantong piyamanya, lalu tanpa ragu meraih tangan Jeno.

Adek bantu,” katanya singkat, sebelum menempelkan plester itu di bekas cambukan. Gerakannya canggung, tetapi penuh perhatian. Setelah selesai, Beomgyu menatap Jeno dengan senyuman kecil, kemudian mencium pergelangan tangan Jeno yang sudah ia tempelkan plester “pain-pain go way.” ucapnya bagai mantra yang  mencoba mengusir rasa sakit Jeno.

Jeno tersenyum melihat tingkah adik kecilnya ada kebahagiaan tersendiri melihat beomgyu tapi Jeno tau bubunya tidak menyukai itu.

Jeno kecil selalu memperhatikan Beomgyu dari kejauhan, memastikan gadis kecil itu tidak terluka. Saat Bubu mereka, Taeyong, memarahi Beomgyu hingga gadis kecil itu menangis tersedu, Jeno tanpa ragu menghampiri. Ia menyodorkan sepotong kue kecil, tanpa banyak kata yang terucap dari bibirnya.

Beomgyu, yang masih terisak, mengangkat wajahnya, menatap Jeno dengan mata yang penuh air mata. Meski Jeno tidak pernah menunjukkan senyum, ada sesuatu dalam sikapnya yang membuat Beomgyu merasa aman.

“Makanya, jangan nangis terus,” ucap Jeno pendek, suaranya terdengar tegas namun ada kelembutan tersembunyi di baliknya.

Bagi Beomgyu, Jeno berbeda dari saudara-saudaranya yang lain. Jika yang lain memandangnya dengan kebencian atau sikap dingin, Jeno justru selalu ada di dekatnya. Wajahnya mungkin selalu serius, tanpa senyum, tetapi Beomgyu tahu Jeno peduli, meski ia jarang mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata.

Suatu hari, ketika Jaehyun, ayah mereka, harus keluar kota, Beomgyu jatuh sakit. Biasanya, Beomgyu hanya bisa tidur jika berada dalam dekapan Jaehyun. Malam itu, Jeno yang diam-diam mengendap masuk ke kamar Beomgyu. Ia berdiri di samping tempat tidur, menatap wajah pucat adiknya dengan sendu.

Setelah ragu beberapa saat, ia akhirnya berbaring di sebelah Beomgyu. Dengan hati-hati, ia menarik tubuh mungil Beomgyu ke dalam pelukannya, menepuk-nepuk punggungnya perlahan.

Jung BeomgyuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang