🍒29

1.8K 95 10
                                        


"Tapi apa? Perasaan apa? "

Suara itu bukan milik Jaemin. Keduanya langsung menoleh ke arah pintu. Di sana berdiri Mark, dengan ekspresi penasaran, diikuti jisung yang berdiri sedikit canggung di belakangnya.

 Mark dan Jisung datang dengan beberapa makanan di tangan mereka. Tanpa mereka sadari, suara percakapan yang terjadi sebelumnya sudah terdengar jelas oleh Mark, yang dengan tegas mendengar ucapan terakhir Jeno.

Jeno terkejut, tubuhnya kaku mendengar suara Mark yang baru saja masuk. Wajahnya berubah pucat, sementara Jaemin yang berdiri di sampingnya juga tampak terkejut. Dengan cepat, Jaemin hanya mengangkat bahu santai, seolah berkata, 'Tanyakan saja pada Jeno,' namun ekspresi wajahnya jelas menunjukkan bahwa ia sedang menahan diri, menghindari ketegangan yang kian memuncak.

Mark menatap mereka berdua dengan tatapan tajam, perlahan berjalan mendekat dengan langkah penuh kewaspadaan, sementara Jisung yang mengikuti di belakangnya tampak bingung, tak mengerti apa yang sedang terjadi di antara ketiganya.

"Kenapa kalian diam?" tanya Mark, suaranya lebih tegas dan penuh penyelidikan. "Ada apa, sebenarnya?"

Jeno, di sisi lain, tampak tegang. Tangannya yang masih menggenggam botol minum sedikit bergetar. Ia menatap Mark.

"Jeno?" desak Mark, kini melipat tangannya di dada.

Jaemin berdeham pelan, mencoba mencairkan suasana. "Ah, nggak ada apa-apa, bang. Cuma Jeno lagi... ngalamin drama internal yang rada berat aja,"ujarnya, dengan senyum tipis yang terlihat dipaksakan.

Tapi Mark tidak mudah dibohongi. Ia menatap tajam Jeno, lalu Jaemin, sebelum akhirnya berjalan mendekat ke tepi ranjang Jeno. "Drama internal macam apa yang sampai bikin kalian berdua sekaku ini?" tanyanya lagi, kali ini lebih lembut, tapi tak kalah tegas.

Jisung masih berdiri di dekat pintu yang tertutup, menelan ludah gugup. Ia tidak yakin apakah harus ikut bicara atau tetap diam. Tapi satu hal yang ia tahu, Mark dengan emosinya yang mulai naik akan sulit dikendalikan.

Mark, yang berdiri di sisi jeno, kini menatap Jeno tajam. "Gue nunggu, Jen. Jelasin sekarang, sebelum gue makin curiga," ucapnya, nadanya lebih tenang tapi jelas mengandung ancaman terselubung.

Jeno menghela nafasnya kasar "gue rasa, perasaan gue lebih dari sekadar saudara ke Beomgyu, Bang," ucap Jeno lirih. Ah, mungkin ini saatnya rahasia yang selama ini ia pendam terbongkar juga.

Mendengar itu, Mark dan jisung langsung menatap Jeno dengan tajam, wajah mereka menunjukkan keterkejutan bercampur kemarahan yang tertahan.

"Lo gila, Kak," akhirnya jisung bersuara, nadanya penuh ketidakpercayaan.

"Sejak kapan, Jen?" tanya Mark, dingin dan penuh tekanan.

"Empat tahun yang lalu," jawab Jeno dengan suara pelan, hampir seperti bisikan. Pandangannya kosong, jatuh ke lantai, menghindari tatapan dua saudaranya.

Mark membolakan matanya, tak percaya dengan apa yang baru saja didengar.
Sedang jisung menatap tak percaya, berbeda dengan jaemin yang hanya menghela nafas.

"Itu berarti... Pas lo dikirim Bubu ke rumah Grandma, dan Beomgyu baru kelas 9?" tanya mark, memastikan ucapannya sendiri.

Jeno hanya mengangguk lirih, kepalanya masih tidak berani mengangkat. Pikirannya melayang, penuh dengan berbagai emosi dan kenangan yang bercampur aduk.

"Bang... Lo tau kan alasan gue dikirim Bubu ke rumah Grandma?" suara Jeno mulai bergetar, mencoba menjelaskan sesuatu yang selama ini ia sembunyikan. "Karena bubu suka ngelampiaskan rasa sakitnya ke gue kan? ... Tapi ada alasan yang lebih besar yang nggak kalian tau."

Jung BeomgyuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang