🍒72

785 38 11
                                        







Lucas duduk bersila di ruang tamu kediaman Jaehyun, matanya fokus pada layar laptop yang terletak di depannya. Dengan cekatan, jari-jarinya menekan tombol-tombol di keyboard, beralih dari satu perintah ke perintah lainnya. Setelah beberapa saat, sebuah desahan keluar dari mulutnya, diikuti dengan senyum lebar. "Ah! Akhirnya!" serunya penuh kegembiraan, suaranya memecah keheningan. Semua mata di sekelilingnya langsung tertuju pada dirinya dengan penuh antusiasme.

"Bagaimana, Hyung?" tanya Soobin, wajahnya dipenuhi harapan dan rasa penasaran yang jelas terlihat.

Lucas menyengir, lalu memandang satu per satu pada Jaehyun, Taehyung, Mark, Sungchan, dan Soobin yang menatapnya dengan penuh harap. "Aku sudah berhasil meretasnya," jawab Lucas, nada suaranya penuh dengan kebanggaan, seolah dia baru saja mencapai sesuatu yang luar biasa.

"Good job, Lu," ucap Jaehyun dengan senyum bangga, sambil memberi tepukan pelan di bahu Lucas.

"Berarti, semuanya sudah siap," kata Mark, lalu memandang Sungchan dengan serius. "Sungchan, hubungi Komandan Kim Namjoon."

Sungchan mengangguk cepat. "Siap, Bang," jawabnya, suaranya mantap.

Taehyung, yang berdiri tak jauh dari mereka, mendekat dengan langkah tenang. Dia menepuk bahu Sungchan dengan penuh rasa terima kasih. "Anak muda, terima kasih... Berkat kau, aku yakin semuanya akan berjalan lancar. Kau pemuda yang luar biasa," ucap Taehyung dengan suara pelan namun penuh arti.

Lucas menoleh, matanya bertemu dengan mata pria paruh baya yang masih terlihat tampan meski usianya tak lagi muda. Wajahnya memancarkan rasa hormat yang mendalam. "Tidak perlu berterima kasih, Om," jawab Lucas lirih, suaranya lebih lembut. "Jeno sahabatku. Aku melakukan ini demi dirinya," lanjutnya, matanya sedikit berkaca-kaca.

Perasaan yang dalam tercermin dalam kata-kata itu. Semua yang ada di ruangan tersebut dapat merasakannya. Sebuah pengorbanan yang tak terucapkan, sebuah janji yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang menjalani jalan penuh liku ini.







꙳꙳꙳

Sudah lebih dari seminggu Beomgyu hanya terbaring lemah di kamar, terjebak dalam lautan kesedihan yang tak bertepi. Wajahnya pucat, lingkaran hitam menghiasi matanya akibat kurang tidur. Namun, keberadaan putranya, Sion, menjadi satu-satunya alasan Beomgyu tetap bertahan. Anak itu selalu berada di dekapannya, seolah mengerti bahwa ibunya sedang berada di titik terlemah.

Namun, kenyataan pahit tetap menghantuinya. Chanyeol, dengan dalih menjaga kestabilan emosinya, rutin memberinya obat penenang. Tepatnya, memaksanya. Obat itu membuat Beomgyu terlalu lemah untuk melawan, mengurungnya dalam kepasrahan yang menyakitkan.

Beomgyu menatap wajah kecil Sion yang tertidur lelap di lengannya. Ada kelembutan di matanya, bercampur dengan rasa sakit yang mendalam. "Sayang... Nda yakin apa yang mereka katakan tidak benar. Ayah masih hidup," bisiknya lirih. Tangan rapuhnya mengusap air matanya sendiri, namun tangisan itu terus saja mengalir tanpa henti.

Di sudut ruangan, Seungmin berdiri dengan pandangan sayu. Selama seminggu ini, ia setia menemani Beomgyu, menjadi satu-satunya pelindung yang bisa ia berikan. Namun setiap kali melihat kerapuhan Beomgyu, hatinya ikut hancur berkeping-keping.

"Beomgyu menderita... hanya karena ketamakan orang itu," pikir Seungmin dengan penuh kebencian. Ingin rasanya ia membawa Beomgyu dan Sion pergi jauh, menyelamatkan mereka dari neraka ini. Tapi ancaman Chanyeol terhadap dirinya dan keluarganya terlalu nyata, terlalu menakutkan untuk diabaikan.

Di ruang kerja yang berbeda, Chanyeol duduk santai di kursinya. Di tangannya, sebuah ponsel dengan layar menyala. Sebuah pesan baru saja masuk, dan setelah membacanya, senyum miring terukir di wajahnya. Matanya berkilat penuh rencana.

Jung BeomgyuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang