🍒56

1.1K 51 23
                                        



“Enggak! Enggak bisa begitu dong, Pa, Bu!” Jeno nyaris berteriak, suaranya pecah menembus ruangan yang tadinya tenang. Napasnya memburu, matanya menatap penuh protes kepada kedua orang tuanya. Seolah-olah dunia sedang runtuh hanya untuknya.

“Kan cuma seminggu, Kak,” ucap Taeyong, mencoba menjaga ketenangan. Ia tahu ini tak akan mudah untuk Jeno.

“Bu, seminggu itu lama! Lama banget buat Jeno, Bu…” Suara Jeno melemah, kini berbalut nada memelas. Ia menunduk sedikit, seolah mencari simpati yang entah kenapa tak kunjung ia dapatkan.

Sungchan, yang duduk di ujung sofa dengan posisi santai, mendengus pelan. “Aduh, bapak satu anak ini rewel banget, sion kalah rewel dari pada ayahnya,” ucapnya sambil memainkan remote TV, matanya tak sekalipun beralih ke Jeno.

“Seminggu doang, Jen. Gak usah lebay, deh,” Mark ikut menimpali, kali ini dari arah dapur. Ia menyandarkan tubuhnya pada meja sambil menyeruput teh, ekspresinya datar, nyaris bosan.

Jeno memutar kepala, matanya kini menatap Beomgyu yang tengah berdiri di sudut ruangan sambil menggendong Sion yang terlelap. “Bela Kakak dong, Dek,” pintanya dengan suara nyaris serak, mencoba menarik perhatian pujaannya itu.

Namun Beomgyu hanya menghela napas, menatap Jeno sekilas dengan mata lelah. “Enggak, ah. Males,” jawabnya pendek, tanpa nada emosi. Bahkan Sion tampak lebih peduli pada mimpi kecilnya di gendongan beomgyu dibandingkan drama Jeno.

Tawa kecil meledak dari Sungchan dan Mark, bahkan Taeyong tampak menunduk, menyembunyikan senyum simpul.

“Arrrrrrghhhhhh!!” Jeno mengacak rambutnya dengan frustrasi, tubuhnya bergerak gelisah seperti anak kecil yang tidak diizinkan membeli mainan di toko. Ia memandang Jaehyun, satu-satunya harapan terakhir. “Pa…” panggilnya lirih, nadanya penuh harap yang nyaris putus.

Namun Jaehyun hanya menatapnya dengan tenang, wajahnya datar tapi penuh ketegasan. “Enggak ya, Jen” ucapnya pelan, tapi cukup untuk mematahkan harapan Jeno hingga hancur berkeping-keping.

“Gak bisa dong, Pa!” Jeno masih berusaha, kali ini lebih putus asa. “Gimana kalau Sion nyariin Jeno, ha? Gimana kalau—”

“Tenang aja, Papa bakal bawain bajumu, kayak waktu Beomgyu di cina,” potong Jaehyun santai, seolah masalah ini tidak lebih besar dari sekadar siapa yang akan menjemur pakaian.

Haechan tiba-tiba masuk, membawa nampan berisi cookies yang masih hangat. Aroma manisnya memenuhi ruangan, tapi tidak cukup untuk mengusir awan gelap di kepala Jeno. “Udahlah, Jen. Seminggu doang, kok. Setelah ini, Beomgyu bakal 24 jam nempel sama kamu. Santai aja,” ujarnya sambil tersenyum, seolah tak menyadari betapa kacaunya hati Jeno saat ini.

Jeno memandang semua orang di ruangan itu dengan tatapan pilu. Mata mereka, ekspresi mereka, semuanya sama: tidak peduli. Tak ada satu pun yang memahami apa yang ia rasakan. “Kalian gak ngerti…” gumamnya pelan, sebelum akhirnya ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa.

Ia memeluk bantal erat-erat, wajahnya tenggelam di sana seolah dunia ini terlalu kejam untuk dihadapi. Di tengah rasa frustrasi Jeno yang mendalam, tawa kecil kembali terdengar dari sudut-sudut ruangan.

Dan Jeno tahu… Ia kalah. Lagi.

Di kamar yang hening setelah semua penghuni rumah kembali ke kamar masing-masing, Beomgyu dengan hati-hati meletakkan Sion di boks bayinya. Ia tersenyum kecil melihat si kecil yang akhirnya terlelap, lalu melangkah ke ranjang. Punggungnya ia sandarkan di kepala ranjang, mencoba menikmati momen tenang yang jarang didapat.

Pintu kamar terbuka pelan, memperlihatkan Jeno dengan langkah lesu. Wajahnya yang biasanya ceria kini terlihat muram. Beomgyu tahu, lagi-lagi Jeno gagal membujuk kedua orang tuanya.

Jung BeomgyuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang