🍒41

1.6K 74 17
                                        

 

  Matahari mulai menunjukkan atensinya di ufuk timur. Cahaya keemasan menembus celah-celah tirai, perlahan menerangi kamar yang masih sunyi. Beomgyu sudah terbangun sejak tadi. Tidurnya terasa lebih nyaman malam ini, seolah semua rasa resah dan gelisah yang menyerangnya semalam lenyap begitu saja.

Di sampingnya, Jeno masih terlelap. Matanya tertutup rapat, napasnya terdengar teratur, memberikan kesan damai yang menenangkan. Beomgyu memandangi wajah Jeno dengan seksama, memperhatikan setiap garis di wajah pria itu. Ada perasaan aneh yang menggelitik hatinya, perasaan yang tak ia mengerti. Mungkin ini bawaan dari bayinya, pikirnya mencoba menenangkan diri.

Lama ia terpaku dalam diam, memandangi wajah Jeno. Tangannya tanpa sadar tergerak, terulur untuk mengelus rahang tegas Jeno dengan gerakan lembut. "Tampan," gumamnya pelan, nyaris seperti bisikan, seolah takut suaranya akan membangunkan pria di hadapannya.

Namun, tanpa Beomgyu sadari, Jeno sebenarnya sudah terbangun sejak beberapa saat yang lalu. Ketika tangan Beomgyu menyentuh wajahnya, Jeno tiba-tiba meraih tangan itu, menggenggamnya erat.

Beomgyu tersentak kaget, jantungnya berdegup kencang. "Ka-kakak..." ucapnya gugup, wajahnya seketika memerah.

Jeno membuka matanya perlahan, menatap Beomgyu dengan pandangan setengah mengantuk. "Kakak tau kalo kakak tampan" ucapnya, suaranya rendah dan serak karena baru bangun tidur, tetapi cukup untuk membuat Beomgyu semakin salah tingkah.

Beomgyu jelas terkejut. Dalam sepersekian detik, mata mereka bertemu, dan suasana di antara mereka seolah membeku. Bahkan, andai saja suara jantung mereka bisa terdengar satu sama lain, niscaya detaknya akan terdengar seperti genderang perang cepat, keras, dan tak beraturan.

Tidak, tidak, posisi seperti ini benar-benar menyiksa Jeno. Ia setengah mati menahan hasrat yang berkecamuk di dalam dirinya, dorongan kuat untuk mencium wanita pujaannya. Namun, lagi-lagi Jeno kalah oleh keinginannya sendiri.

Tanpa sadar, ia mendekatkan wajahnya dan mengecup singkat bibir Beomgyu.

Beomgyu membeku. Jantungnya serasa berhenti berdetak seketika, pikirannya terhenti saat mencoba memproses apa yang baru saja terjadi. Harusnya ia marah, kan? Harusnya ia menolak atau mengamuk, bukan? Tapi, entah kenapa, ada perasaan lain yang melingkupinya perasaan yang ia sendiri tak mengerti. Ia menyukainya. Eh? Bagaimana mungkin?

Jeno, di sisi lain, sudah bersiap menerima amukan Beomgyu. Ia tahu tindakannya barusan bodoh, bahkan mungkin terlalu berani. Tapi dugaan Jeno meleset. Beomgyu hanya diam, tak berkata sepatah kata pun, ekspresinya tak terbaca.

Melihat reaksi itu, Jeno memutuskan untuk tak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan hati-hati, ia kembali mendekat, kali ini mempertemukan bibirnya dengan bibir Beomgyu sekali lagi. Namun, berbeda dari sebelumnya, ciuman ini lebih dalam, penuh kelembutan, seolah Jeno mencoba mengungkapkan perasaannya yang selama ini ia pendam.

Jeno melepaskan ciumannya ketika Beomgyu menepuk pelan dadanya dan di rasa Beomgyu kehabisan napas. Dengan enggan, ia menarik diri, menatap Beomgyu sejenak. Tanpa sadar, jarinya bergerak untuk mengusap bibir Beomgyu yang sedikit membengkak akibat ulahnya.

Beomgyu merasa bingung dengan dirinya sendiri. Setiap sentuhan Jeno membuatnya merasa terlarut dalam perasaan yang tak bisa ia mengerti. Otaknya mendadak terhenti, matanya mengerjap pelan, seolah ingin mencari tahu apa yang baru saja terjadi. Bahkan suaranya rasanya tersangkut di tenggorokan, tak mampu keluar.

Jeno, yang melihat kebingungannya, mendekap tubuh Beomgyu lebih erat, menariknya dalam pelukan yang penuh kehangatan. Perut buncit Beomgyu tak menghalangi kedekatan mereka.

"Kasih tahu kakak dek, kakak harus bagaimana dengan perasaan ini, hm?" ucap Jeno pelan, suaranya lembut namun cukup jelas untuk didengar oleh Beomgyu.

Beomgyu yang masih tertegun hanya mengerjapkan matanya dalam pelukan Jeno. "Kak..." gumamnya, bingung dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Semua ini terasa begitu tiba-tiba, perasaan yang tak terduga datang begitu saja, dan Beomgyu tak tahu harus bagaimana.

Jung BeomgyuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang