🍒27

1.9K 83 13
                                        


  Sesuai rencananya, Jeno akhirnya terbang ke Tiongkok dengan membawa alamat yang diberikan Jisung dan paspor yang juga sudah disiapkan atas bantuannya. Langkah ini bukan tanpa risiko, bahkan untuk sampai sejauh ini, Jeno harus melawan banyak hal, termasuk kekhawatiran Taeyong.

Awalnya, Taeyong tegas melarang. "Kau baru saja pulih, Jeno. Jangan nekat!" katanya dengan nada penuh kecemasan. Tapi Jeno, seperti biasa, memiliki cara untuk meluluhkan hati Taeyong. Dengan alasan yang dirangkai hati-hati, ia berhasil membuat bubunya percaya.

Namun, jika kalian berpikir Jeno benar-benar mendapat izin untuk pergi ke Tiongkok, jawabannya adalah tidak. Mana mungkin Taeyong mengizinkannya terbang sejauh itu dalam kondisi seperti sekarang? Sebagai gantinya, Jeno berbohong. Ia mengatakan bahwa ia hanya akan pergi ke Jeju untuk liburan singkat bersama Jaemin dan jisung, untuk "melepaskan penat."

Sungguh, malang sekali dua sahabatnya itu. Tanpa mereka sadari, nama mereka telah dijadikan tumbal demi misi Jeno yang bahkan mereka tidak tahu apa ujungnya.

Jeno menarik napas panjang begitu keluar dari terminal kedatangan, udara dingin Tiongkok menyusup melalui syal tebal yang melingkari lehernya. Senyum tipis mengembang di wajahnya, namun sorot matanya menyimpan gelisah yang sulit disembunyikan. Langkah pertamanya di tanah asing ini terasa seperti perjudian besar. Tapi, demi satu sosok itu, apa pun sanggup ia lakukan.

Jisung benar-benar menyelamatkannya kali ini. Temannya itu tak hanya mengurus keberangkatannya, tetapi juga memastikan penginapan Jeno berada tak jauh dari rumah Beomgyu. Semua dilakukan dengan sangat rapi dan tentu saja tanpa sepengetahuan Chanlee. Kalau gadis itu sampai tahu rencana ini, Park Jisung pasti akan menjadi sasaran amukan dari kekasihnya.

Perjalanan dari bandara ke penginapan berjalan singkat, tapi kepala Jeno terus dipenuhi pikiran-pikiran yang bercampur aduk. Sesampainya di kamar, ia hanya melempar koper seadanya ke pojok ruangan. Tak ada waktu untuk beristirahat. Alamat yang Jisung berikan sudah menanti di ponselnya. Tanpa membuang waktu, Jeno melangkah keluar, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Namun, semua harapannya di hari pertama berakhir tanpa hasil. Beomgyu tak menunjukkan diri, seolah sengaja menghindar meski Jeno tahu itu mustahil. Ia duduk di bangku taman seberang rumah, bersembunyi di balik topi dan masker, hanya berharap bisa menangkap bayangan wanita itu walau sekejap.

"oh God, kenapa ini begitu sulit?" gumamnya lirih, pandangannya terarah pada jendela di lantai dua rumah Beomgyu. Di sanalah ia pernah melihat Beomgyu tersenyum di layar ponsel, foto yang jisung kirimkan kepadanya beberapa waktu yang lalu, tentu foto itu dari kekasihnya.

Jeno tau ia gila. Nekat datang ke sini tanpa pemberitahuan, tanpa rencana jelas. Tapi semua ini bukan tanpa alasan. Beberapa hari terakhir, ia benar-benar ingin melihat Beomgyu seperti badai yang mengguncang segala logika. Ia tak ingin mengacau, tak ingin merusak apa pun. Ia hanya ingin melihat gadis itu. Dengan matanya sendiri. Mungkin dengan itu, hatinya bisa sedikit lebih tenang.

Tapi kenyataan di hadapannya berbeda. Tak ada Beomgyu yang muncul, tak ada pelipur rindu. Hanya keheningan malam yang membungkus tubuhnya dalam kesendirian.
"Oke besok gue kesini lagi"pikirnya.

  Sudah tiga hari berturut-turut Jeno setia berada di tempat yang sama. Selama itu pula, sosok Beomgyu tak pernah terlihat olehnya. Satu-satunya hal yang berhasil ia saksikan hanyalah mobil yang mungkin dikendarai oleh Taehyung atau Jungkook, bergantian melintas di depan rumah itu.

Namun, Jeno tidak menyerah. Hari ini, seperti sebelumnya, ia kembali duduk di bangku taman yang menghadap rumah Taehyung. Tatapannya tak pernah lepas dari jendela kamar Beomgyu, seolah-olah hanya dengan menunggu, keajaiban bisa terjadi. Dalam hati, ia menyimpan harapan besar bahwa kali ini ia akan melihat gadis itu, meski waktu terus berlalu tanpa tanda-tanda kehadirannya.

Jung BeomgyuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang