🍒28

1.8K 87 14
                                        


  Jeno tahu malam semakin larut, tapi ia masih setia duduk di bangku taman yang telah menjadi tempatnya selama beberapa hari terakhir. Ia berjanji pada dirinya sendiri hanya akan kembali ke kamar hotel ketika jam menunjukkan pukul 10 malam atau jika ada keperluan mendesak.

Saat ini, jam masih menunjukkan pukul 9 malam, dan Jeno masih betah memandangi rumah Taehyung. Besok malam ia berencana kembali ke Korea, sebuah keputusan yang berat hati ia buat. Sebenarnya, Jeno enggan meninggalkan tempat ini, tapi jika Papa dan Bubu-nya tahu keberadaannya, itu hanya akan menciptakan bencana baru yang tak ingin ia hadapi.

Namun, sesuatu menarik perhatian Jeno. Matanya menyipit, menatap ke arah jendela kamar Beomgyu yang hendak ditutup oleh pemiliknya.

"Itu kan... kemeja gue?" gumam Jeno pada dirinya sendiri. Ia mengenali kemeja yang beomgyu kenalan diluar baju tidurnya dengan sangat jelas, warna, motif, dan bahkan detail kecil di ujung lengan yang hanya ia yang tahu. Tapi bagaimana bisa kemeja itu sampai di sini?

Jeno berpikir keras sebelum akhirnya menyeringai. "Ah, gue tahu," ujarnya sambil menggeleng kecil. "Pasti ulah Jung Jaehyun. Gue yakin kemarin dia gak ke Jepang, tapi ke sini. Dasar licik!"

Ia mendengus kesal, membayangkan ayahnya yang selalu punya cara untuk membuatnya merasa kalah. Bisa-bisanya Jaehyun merahasiakan hal ini darinya. Siapapun tolong ingatkan Jeno sekali lagi, jika Jaehyun masih belum sepenuhnya memaafkannya atas kekacauan terakhir yang ia buat.

"Tapi kalau sampai Beomgyu pakai itu, artinya..." Jeno berhenti sejenak, membiarkan pikirannya bermain liar. Ada rasa hangat aneh yang menjalar di dadanya, senyumnya merekah menimbulkan bulan sabit penuh di matanya entah mengapa Jeno merasa bahagia saat ini.

✿✿✿✿

  Sesuai dengan "kesepakatan" yang lebih tepat disebut pemaksaan, Mark menyeret Jisung dan Jaemin ke bandara pagi-pagi sekali. Ia tidak memberi ruang untuk protes. Bagi Mark, yang ada di pikirannya saat ini hanyalah menyeret Jeno pulang secepat mungkin, tentu saja tanpa sepengetahuan Papa dan Bubu mereka.

Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, Mark langsung menuju hotel tempat Jeno menginap. Segala urusan logistik diserahkan pada Jisung, yang tampaknya sudah hafal dengan semua detail keberadaan Jeno.

"Jung Jeno!" seru Mark setengah berteriak ketika ia akhirnya berhasil masuk ke kamar adiknya. Negosiasi dengan resepsionis tadi cukup alot, tapi berkat ketegasan Mark, ia akhirnya diizinkan masuk.

Di dalam, Jeno yang masih terbungkus selimut di atas tempat tidur terkejut mendengar suara yang sangat dikenalnya. Ia perlahan melongokkan kepala dari balik selimut, matanya membulat melihat kakaknya berdiri di ambang pintu bersama Jaemin dan Jisung.

"Bang?! Apa yang lo lakuin di sini?" seru Jeno, suaranya parau karena baru bangun tidur.

Mark melipat tangan di dada, ekspresi wajahnya menunjukkan kombinasi antara kesal dan lelah. "Seharusnya gue yang nanya, Jeno. Apa yang lo lakuin di sini? Bukannya lo bilang mau ke Jeju?!"

Jeno menghela napas, menyadari dirinya tertangkap basah. Ia menatap Jaemin dan Jisung dengan tatapan menghakimi, tapi keduanya hanya mengangkat bahu tak berdaya.

Mark mendekat, melemparkan tas kecil yang ia bawa ke sofa. "Gue gak peduli alasan lo. Sekarang bangun, siap-siap, kita pulang."

"Bang, tunggu—"

"Gak ada tunggu! Lo pikir gue datang ke sini cuma buat liburan?" potong Mark tegas. Ia menunjuk Jeno dengan jari telunjuknya, tatapannya tajam. "Lo gak bakal kabur kali ini, Jeno."

Jeno menelan ludah, tahu bahwa ia tidak punya pilihan lain selain mematuhi kakaknya. Tapi di dalam hatinya, ia masih enggan meninggalkan tempat ini, meski alasan untuk tetap tinggal semakin sulit dipertahankan.

Jung BeomgyuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang