🍒34

1.8K 92 14
                                        


  Setelah memastikan semua orang sudah terlelap, Jeno bergegas menuju dapur. Rasa haus yang tak tertahankan menggerakkan langkahnya, setelah berjam-jam dia menyembunyikan diri.

Sesampainya di dapur, matanya terbelalak melihat Beomgyu yang tengah berusaha meraih susu dari lemari gantung diatasnya dengan kesulitan. Tanpa berpikir panjang, Jeno berlari mendekat, melangkah cepat untuk menangkap tubuh Beomgyu yang hampir terjatuh.

"Hati-hati," ucap Jeno, suaranya lembut namun tegas, Ia spontan memeluk Beomgyu untuk menahannya agar tidak terjatuh.

Beomgyu terdiam sejenak, tubuhnya terasa hangat dengan pelukan Jeno. Ia mengenali suara itu, serta bau harum yang menguar dari tubuh Jeno yang kini sangat dekat dengannya. Seketika, jantung Beomgyu berdetak lebih cepat. Harusnya ia memberontak, namun entah kenapa, kenyamanan yang datang justru membuatnya ingin tetap dalam pelukan itu. Rasa sakit di perutnya yang sedari tadi mengganggu tidurnya perlahan menghilang, digantikan oleh kehangatan yang menyelimuti dirinya.

Jeno, yang merasakan detak jantungnya sendiri semakin kencang, akhirnya melepaskan Beomgyu dengan perlahan. Walau hatinya merasa berat, ia tahu ia tidak ingin membuat Beomgyu merasa canggung atau tidak nyaman.

Jeno memandang Beomgyu dengan tatapan penuh perhatian. Tanpa berkata banyak, ia menuntun Beomgyu menuju meja makan, mendudukannya dengan hati-hati.

"Tunggu sebentar," ucap Jeno, suaranya penuh ketulusan, sambil memberikan senyum yang menenangkan.

Beomgyu hanya mengangguk, merasa kata-kata Jeno seperti sihir yang mengalir dalam dirinya. Digantikan dengan rasa tenang yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Beomgyu memandang Jeno yang sibuk mengaduk susu di depan meja. Matanya menatap setiap gerakan Jeno, dan pikirannya mulai melayang. Ia bingung, dengan dirinya sendiri yang tiba-tiba berdebar dan Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya?

Tak lama kemudian, Jeno datang kembali dengan segelas susu di tangan, menyodorkannya ke arah Beomgyu dengan senyum lembut yang tak bisa disembunyikan dari wajahnya.

"Te-terimakasih," ucap Beomgyu, suara sedikit bergetar. Ia menerima gelas itu dengan tangan yang masih gemetar, merasa jantungnya berdebar lebih keras dari sebelumnya.

Jeno hanya tersenyum, tetap memperhatikan beomgyu yang tengah memimum susu buatannya dengan intens.

Namun ketika beomgyu sadar akan tatapan jeno Ia tersedak "Uuhuk-uhuk!" Beomgyu terbatuk, dan dalam sekejap, Jeno langsung bergerak sigap, meraih punggung Beomgyu untuk menepuknya dengan lembut.

"Tenang, pelan-pelan," ujar Jeno dengan suara lembut, menyusuri punggung Beomgyu yang masih terguncang oleh batuknya.

Namun, yang lebih mengejutkan lagi, Jeno dengan sangat hati-hati menggunakan ibu jarinya untuk menghapus sedikit susu yang menempel di bibir Beomgyu, membuat Beomgyu terdiam.

Mata mereka bertemu, dan dalam sekejap, semuanya terasa melambat. Seolah dunia berhenti bergerak. Hening sesaat, sampai
Beomgyu dan Jeno sama-sama memutuskan untuk memalingkan wajahnya, wajah mereka memerah dengan cepat, keduanya merasa canggung dengan apa yang baru saja terjadi.

"Kembalilah ke kamarmu, udara malam tidak baik untukmu dan aegy," ujar Jeno dengan lembut, suaranya penuh perhatian. Beomgyu mengangguk, mengiyakan ucapan Jeno, dan bergegas untuk pergi. Namun, baru saja langkah Beomgyu mulai menjauh, Jeno mengucapkan sesuatu yang membuatnya berhenti.

"Beomgyu... Tolong lihat isi lacimu," kata Jeno, suaranya kali ini terdengar lebih dalam, seolah ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.

Beomgyu hanya mengangguk tanpa menoleh, namun hatinya dipenuhi kebingungan. Ia mempercepat langkahnya, berusaha menjauh dari perasaan aneh yang mengikatnya. Raut wajah Beomgyu terlihat bingung, pertanyaan besar terbersit di dalam dirinya. Apa maksud Jeno? Apa yang ada di dalam lacinya?

Jung BeomgyuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang