🍒55

1.3K 53 11
                                        






Beomgyu terduduk lemas di balkon kamarnya, menatap langit siang yang cerah. Matahari bersinar terang, namun bagi Beomgyu, hari ini terasa begitu suram. Angin sepoi-sepoi menyentuh kulitnya, tapi tak mampu menghapus rasa lelah yang menghimpit dirinya. Sepanjang malam hingga pagi ke siang ini, Sion, putranya yang biasanya ceria, terus-menerus rewel tanpa alasan jelas. Berbagai cara sudah ia lakukan menyanyikan lagu, mengayunkan pelan-pelan, bahkan berjalan mondar-mandir di dalam kamar sambil menggendong Sion namun tangisannya tak kunjung berhenti.

Hingga akhirnya Taeyong menghampirinya, mengambil alih Sion yang tampak kelelahan setelah lama menangis. "Adek istirahat, ya, sayang. Sini, biar Sion sama Bubu," ujar Taeyong lembut, sambil mengulurkan tangan. Beomgyu yang hampir menyerah hanya bisa mengangguk, menyerahkan Sion pada bubunya.  Dan tangisan Sion perlahan mereda di pelukan Taeyong.

Kini, suara pintu kamar terbuka membuyarkan lamunan Beomgyu. Ia menoleh dan mendapati Jeno berjalan masuk, wajahnya terlihat lelah namun tetap tersenyum hangat. "Sion rewel ya, sayang?" tanyanya sembari mendekat. Suara Jeno lembut, tapi penuh perhatian, seperti biasa.

Beomgyu mengangguk pelan, jemarinya mengusap wajah yang kusut. "Iya... sepertinya dia rindu Ayahnya," ucapnya lirih. Suaranya hampir tenggelam dalam suara angin yang masuk melalui jendela. Semalam Jeno tidak pulang, dia di seret Jaehyun dan Mark keluar kota untuk menyelesaikan masalah cabang perusahaan yang sedang bermasalah. Ketidakhadirannya rupanya cukup membuat Sion kehilangan rasa nyaman.

Jeno duduk di kursi samping Beomgyu, lalu tanpa banyak bicara, menarik tubuh kekasihnya ke dalam pelukan. "Capek, ya, Dek?" tanyanya lembut, tangannya mengelus rambut Beomgyu dengan penuh kasih sayang.

Beomgyu hanya menggeleng, tapi suaranya bergetar saat berkata, "Capek... tapi nggak lebih capek dari Kakak." Kepalanya menyandar di dada Jeno, mendengarkan debar jantung pria itu yang selalu memberinya rasa tenang.

Sebelumnya, saat Jeno sampai di rumah, pemandangan di ruang tengah membuatnya berhenti sejenak. Taeyong duduk di sofa, Sion tertidur pulas di pelukannya. Wajah kecil putranya terlihat damai, seolah semua tangisnya telah lenyap.

"Bu... Sion..." Jeno berbisik, ingin menghampiri mereka, tapi Taeyong buru-buru memberi isyarat untuk diam. "Ssst... jangan bangunin, Kak. Dia baru tidur. Kasihan Beomgyu kalo Sion terbangun, semalaman dia gak tidur," ujar Taeyong pelan.

Jeno mengangguk, lalu menunduk mencium pipi Sion dengan lembut. Setelah itu, ia beralih mengecup dahi Taeyong. "Kakak ke Adek dulu, ya, Bu," katanya sebelum melangkah menuju lantai atas.

Sekarang, di bawah cahaya matahari yang mulai condong ke barat, Jeno mengecup dahi Beomgyu. "Kakak di sini, Dek. Nggak usah mikir yang berat-berat, ya. Kita bagi capeknya bareng-bareng."

Beomgyu mengangguk pelan, memejamkan mata sejenak. Kehangatan Jeno, suaranya yang menenangkan, dan pelukan yang selalu terasa seperti rumah... itu sudah lebih dari cukup untuknya.

Jeno menatap Beomgyu yang duduk bersandar di dadanya , wajahnya terlihat lelah namun tetap manis di matanya. Dengan lembut, Jeno mengelus pipi kekasihnya, mencoba memberikan kenyamanan. "Adek mau apa, sayang?" tanyanya dengan suara yang lembut, nyaris berbisik.

Beomgyu mengangkat wajahnya, mata cokelatnya terlihat sedikit menerawang, seolah sedang berpikir. "Hmm..." gumamnya pelan, menimbang-nimbang sebelum akhirnya menjawab, "Adek pengen banget jalan sama Kakak."

Mendengar itu, Jeno terkekeh kecil, senyumnya penuh kehangatan. "Bukannya kita udah sering jalan-jalan berdua, hm?" tanyanya sambil menatap Beomgyu dengan tatapan jahil namun penuh cinta.

Beomgyu menggeleng, bibir mungilnya sedikit mengerucut. "Ani... Bukan yang kayak gitu, Kak. Adek pengen jalan-jalan naik motor kakak, Udah lama banget  adek pengen jalan naik motor kayak gitu," ucapnya dengan nada pelan, namun jelas terdengar rindu di suaranya.

Jung BeomgyuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang