🍒54

1.3K 48 14
                                        






Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, menyelimuti langit dengan semburat keemasan. Angin sore berhembus lembut, membawa aroma dedaunan dan udara yang sejuk. Di halaman belakang rumah Jung Jaehyun yang luas, suasana riuh dipenuhi oleh sekelompok anak muda yang tengah sibuk mempersiapkan pesta BBQ.

Acara ini bukan sekadar pesta biasa. Mereka berkumpul untuk menjenguk bayi mungil bernama Sion, sekaligus merayakan rencana pernikahan Beomgyu dan Jeno yang akan dilangsungkan sebentar lagi. Sementara para orang tua sibuk berdiskusi di dalam rumah, tawa dan canda para gadis memenuhi udara sore itu.

"Halo, baby! Aunty bawa banyak hadiah buat Sion dan ibunya," ujar Chanlee ceria, mencium kening Sion dengan gemas. Bayi kecil itu hanya mengerjapkan matanya, membuat semua orang yang melihatnya tersenyum.

Ryujin, yang berdiri tak jauh dari mereka, menghela napas panjang sambil berpura-pura cemberut. "Aduh, ini gimana ceritanya anak gue udah punya anak?" keluhnya, meski jelas ada rasa bangga dan haru yang terselip di matanya.

Di sudut lain, Winter berdiri di dekat Beomgyu yang sedang menggendong Sion dengan penuh kasih. Tatapan Winter tak lepas dari bayi mungil itu, seolah-olah ia sedang mencoba memahami keajaiban hidup yang ada di depannya. "Gyu?" panggil Winter pelan, membuat Beomgyu menoleh.

"Hmm?" gumam Beomgyu lembut, tangannya mengusap pelan kepala Sion.

"Ini serius, bayi selucu ini benar-benar keluar dari perutmu?" tanya Winter polos, membuat teman-teman mereka tertawa.

"Ya iyalah,namanya aja anaknya Beomgyu, kalo. Lahir dari perut gue namanya anaknya ayen, Win," sahut Ayen, menyenggol bahu Winter. Setelah tertawa kecil, Ayen menatap Beomgyu dengan serius. "Tapi, Gyu, gue kadang mikir... kalau waktu itu Kak Jeno nggak ngelakuin hal itu, mungkin gue nggak bakal lihat Sion hari ini. Dan nggak bakal lihat senyum bahagia dari lo," ujarnya tulus.

Beomgyu mengangguk tersenyum kecil menghiasi wajah cantiknya, tapi ada kilatan haru di matanya. Kata-kata Ayen mengingatkannya pada masa-masa sulit dulu. Ia terdiam, membiarkan pikirannya melayang pada kenangan yang sempat membuatnya merasa dunianya hancur.

Dulu, saat Jeno pertama kali menyentuhnya dengan paksa, Beomgyu merasa hidupnya seakan runtuh. Ketika ia mengetahui kehadiran Sion di dalam rahimnya, segalanya terasa gelap. Namun, lambat laun, cinta Jeno yang begitu besar mulai meluruhkan tembok kepedihan yang ia bangun. Hari demi hari, luka itu sembuh, digantikan oleh kebahagiaan baru yang tak pernah ia bayangkan.

Kini, melihat Sion tersenyum dalam pelukannya, Beomgyu menyadari sesuatu yang berbeda. Jika dulu ia berpikir Jeno adalah penyebab lukanya, kini ia tahu Jeno juga adalah obatnya. Cinta mereka, meski berawal dari rasa sakit, telah tumbuh menjadi sesuatu yang lebih indah dari yang pernah ia bayangkan.

Tak berselang lama, suasana ceria itu mendadak berubah heboh ketika terdengar suara melengking dari arah pintu belakang.

"Halo semuaa! Aunty Renjun datang!" teriak Renjun dengan penuh semangat, membuat para gadis yang sedang asyik bercengkerama terkejut. Mereka refleks menoleh ke arahnya, tapi Renjun sama sekali tidak peduli. Dengan langkah percaya diri, ia berjalan langsung menuju Beomgyu yang masih sibuk menggendong Sion.

"Halo, jagoan kecil! Aunty cantik sudah sampai," sapanya penuh ceria, mencium pipi Sion dengan lembut. Bayi itu menggeliat sedikit dalam pelukan Beomgyu, membuat Renjun tertawa kecil.

"Halo, Aunty!" jawab Beomgyu sambil menirukan suara anak kecil, membuat yang lain ikut terkikik. Renjun memandangi Sion lebih lama, matanya berbinar seolah sedang mengagumi sebuah karya seni yang sempurna.

"Wah... Jeno menang banyak, ya. Bisa-bisanya Sion mirip banget sama dia!" komentar Renjun akhirnya, menoleh ke arah yang lain dengan ekspresi dramatis.

"Iya, bener banget!" sahut Ayen cepat sambil mengangguk setuju. Komentar itu disambut tawa pelan dari sahabat-sahabat Beomgyu.

Jung BeomgyuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang