🍒45

1.6K 75 22
                                        

 


  Hari sudah berganti dan malam pun berganti pagi, namun dinginnya udara masih menusuk hingga ke lapisan kulit.
Di luar sana, kebanyakan orang masih terlelap, bergelung dalam hangatnya selimut. Tapi tidak dengan Jeno. Ia tetap terjaga, matanya tak lepas menatap wanita yang ada dalam dekapannya. pandangannya terus beralih ke arah Beomgyu, yang tenggelam dalam damainya tidur.

Jeno membawa tangannya perlahan untuk membelai surai Beomgyu yang tergerai di bawah cahaya samar pagi. Hatinya penuh syukur, seolah semua ini hanyalah sebuah mimpi indah yang enggan ia lepaskan. Gadis yang selama ini menempati tahta tertinggi di hatinya kini berada di dekapannya, nyata, hangat, dan begitu dekat serta dengan perasaan yang sama. Meski sulit dipercaya, senyum bahagia terpancar jelas di wajah tampannya, dan napasnya teratur, seolah mencerminkan kedamaian yang kini ia rasakan.

Namun, sentuhan lembut Jeno rupanya cukup mengusik. Perlahan, Beomgyu membuka matanya yang masih setengah kantuk.
"Kakak... udah bangun?" tanyanya dengan suara pelan, masih dibungkus kantuk.

Jeno tersenyum menenangkan, membalas tatapan lembut Beomgyu. "Adek kok udah bangun? Kakak ganggu ya, sayang? Tidur lagi, ya. Om Eunwoo aja jam segini masih tidur, loh," ucapnya dengan nada lembut dan penuh perhatian.

Beomgyu mengangguk kecil, tapi sebelum kembali memejamkan mata, ia mengulurkan tangannya ke dahi Jeno, memastikan sesuatu. Gerakannya perlahan namun penuh perhatian.
"Kakak... udah nggak panas lagi? Udah nggak pusing lagi, kan?" tanyanya pelan, suaranya mengandung kekhawatiran.

Jeno hanya tersenyum, kemudian mengecup singkat dahi Beomgyu, membiarkan kehangatan itu menjawab pertanyaannya.
"Obatnya kakak, kan, adek. Makanya kakak cepat sembuh," ucap Jeno sambil mengusap lembut pipi Beomgyu, menyembunyikan tawa kecil di balik senyumnya yang tak kunjung pudar.

Jika Jeno diliputi kebahagiaan, Beomgyu merasakan hal serupa. Meski ada sedikit rasa canggung yang menyelimuti, kebahagiaan itu tetap tumbuh perlahan, seperti menjawab keraguan yang pernah menghantui hatinya. Beomgyu mulai yakin, bahwa keputusan untuk hidup bersama Jeno adalah langkah yang tepat, sebuah pilihan yang tak pernah ia sesali.

Tanpa berkata banyak, Beomgyu kembali menyandarkan kepalanya di dada bidang Jeno, mencari kenyamanan yang tak ia temukan di tempat lain.

"Dulu, adek pengen banget tidur dipeluk kakak..." ucap Beomgyu pelan, suaranya terdengar tulus, mengalir bersama kehangatan pagi itu.

Kata-kata sederhana itu membuat Jeno tersenyum, lalu tanpa ragu, ia memeluk Beomgyu semakin erat, seolah berjanji untuk tak pernah membiarkannya merasa sendiri lagi.







Cahaya matahari pagi mulai menerobos jendela ruang makan keluarga Jung, menyapu setiap sudut dengan kehangatan yang lembut. Aroma masakan Taeyong, perpaduan bumbu khas dan sedikit eksperimen, menyatu dengan udara pagi, membuat siapa pun yang mencium wangi itu tak sabar untuk duduk di meja makan. Seperti biasa, Taeyong tak pernah gagal membuat masakannya jadi daya tarik utama pagi hari.

Di meja makan, Jaehyun, Mark, dan Sungchan sudah duduk rapi, menunggu dengan sabar sambil sesekali melempar candaan ringan. Namun suasana itu terusik saat terdengar langkah pelan menuruni tangga, diiringi suara lembut Jeno, "Hati-hati."

Beomgyu,  akhir-akhir ini sering terlambat turun karena kehamilannya, ia berjalan pelan sembari memegang punggungnya yang berasa pegal, dengan sigap jeno menuntunnya, satu tangannya berada di punggung Beomgyu, memberi perlindungan tanpa diminta. Pemandangan itu langsung menarik perhatian semua orang di meja makan.

Jung BeomgyuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang