"Sion-ah... Hadap Ayah," suara Jeno penuh harap, menggema lembut di ruang keluarga yang diterangi sinar hangat lampu. Duduk bersila di atas karpet tebal, ia menatap balita kecilnya yang baru belajar duduk tegak. Namun, Sion hanya sibuk dengan mainannya, memutar-mutar sebuah balok kayu kecil tanpa mengindahkan panggilan ayahnya.
"Coba bilang... 'Ayaaaaah'," ucap Jeno, nyaris memohon. Tangannya terulur, seolah mencoba menggandeng perhatian putranya.
Mata besar Sion akhirnya berpaling, menatap Jeno dengan polos. Sebuah senyuman kecil terukir di wajahnya, namun bukannya berkata sesuai keinginan ayahnya, dia justru melempar pelan mainannya ke depan.
"Da... Da..." gumam Sion, suara kecilnya terdengar seperti melodi.
"Ayah, Sion! A.Y.A.H! Bukan 'Da-da'. Itu 'kan kakekmu!" Frustrasi, Jeno mengacak rambutnya sendiri. Namun balita itu hanya tertawa kecil, memamerkan dua gigi mungilnya.
"Da... Nda..." balas Sion lagi, kali ini sambil menggigit ujung jarinya.
Jeno menghela napas panjang. "Aduh, Sion... Kenapa sih susah banget?" rintihnya.
Suara langkah pelan terdengar. Beomgyu mendekat sambil membawa nampan berisi dua cangkir kopi dan sepiring kue. Ia duduk di samping suaminya, memberikan kopi dengan senyuman lembut yang menenangkan.
"Kenapa sih, Kak?" tanyanya lembut, menatap Jeno yang kini memasang wajah sedih bak anak kecil kehilangan mainan.
"Sion susah banget diajarin nyebut 'Ayah'," jawab Jeno dengan suara lirih.
Beomgyu terkekeh pelan, tangannya mengelus pundak suaminya. "Minum dulu, Kak. Jangan stres begitu," katanya sambil menyodorkan cangkir kopi.
"Sion itu masih kecil. Nanti juga, seiring waktu, dia pasti bilang 'Ayah' tanpa kita minta. Sabar ya." Senyumnya hangat, penuh keyakinan, seolah menepis keresahan Jeno.
Baru saja Jeno mengangguk pelan sambil menyeruput kopinya, sebuah suara berat terdengar dari belakang. "Anak kecil begitu kok sudah dituntut macam-macam? Pelan-pelan aja, Kak," ujar Jaehyun yang tiba-tiba muncul dengan santai, langsung duduk di samping Jeno.
"Papa, diam deh, pah," balas Jeno kesal, namun Jaehyun hanya tertawa kecil, matanya melirik ke arah Sion yang masih asik dengan dunianya.
"Eh, dulu Kakak juga baru bisa bilang 'Papa' setelah usia setahun lebih, tau," Jaehyun menambahkan sambil menyeruput kopi yang beomgyu bawa tadi.
"Papa... Jangan mulai deh," ucap Jeno sambil memijat keningnya, membuat Beomgyu tak bisa menahan tawa kecil.
Di tengah percakapan itu, ruangan kembali dipenuhi suara kecil Sion yang setengah terjaga, memanggil dengan suara lucunya, "nda... nda..."
Jeno mendesah panjang, tapi senyuman tipis muncul di wajahnya. "Ya sudah, 'nda' dulu juga nggak apa-apa... Yang penting tetap sayang Ayah, ya."
Suasana berubah hangat, penuh tawa kecil, ketika keluarga kecil itu kembali menikmati siang dengan canda sederhana mereka.
Usai menghabiskan kopi dan beberapa potong kue, Jeno meletakkan cangkirnya ke meja. Dengan senyuman lebar, ia meraih tubuh kecil Sion yang duduk di atas karpet, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Kajja! Waktunya mandi, ayah akan memandikanmu," serunya penuh semangat. Tangannya yang kuat menahan tubuh gempal Sion, sementara ia mengayunkan putranya seperti pesawat yang melayang di udara. "Pesawat Sion siap terbang!"
Tawa renyah Sion pecah, mengisi ruangan dengan suara polos yang menular. Tubuh mungilnya mengikuti gerakan Jeno, tangan kecilnya terentang seperti sayap. Mata bulatnya bersinar cerah, menikmati permainan sederhana yang diberikan oleh sang ayah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jung Beomgyu
Fanfic✿꙳Completed꙳✿ Kamu tau apa yang aku inginkan? Sederhana saja Kebahagiaan hanya itu saja tidak lebih Warning!! GS area!! Mohon pertimbangkan sebelum membaca Terimakasih.
