🍒49

1.2K 65 16
                                        





"Kak Karina…" suara Beomgyu terdengar pelan, hampir seperti bisikan, saat ia meremas tangan Jeno yang masih ia genggam erat. Jeno, tanpa mengalihkan perhatiannya dari Karina, mengelus punggung tangan Beomgyu dengan ibu jarinya, mencoba menenangkan.

Karina, yang namanya dipanggil, akhirnya mengalihkan pandangannya dari Jeno ke arah Beomgyu. Matanya membelalak lebar saat ia benar-benar memperhatikan Beomgyu. Pandangannya menyisir Beomgyu dari atas ke bawah, matanya berhenti di perut Beomgyu yang menonjol. Ucapan Jeno tadi kembali terngiang di pikirannya.

Seperti bara yang tersulut, emosi Karina memuncak. Ia tahu Jeno dan Beomgyu jelas bukan sedarah, tapi apa yang ia lihat di hadapannya sekarang sungguh tak masuk akal baginya. Tanpa aba-aba, tangannya terangkat, dan—

Plak!

Tamparan keras itu mendarat di pipi Beomgyu, membuat kepala wanita itu tersentak ke samping. Suara tamparan bergema di ruangan, membuat semua orang di toko roti terdiam kaget.

Beomgyu hanya membeku di tempatnya, matanya membesar, tangan yang tadi menggenggam Jeno perlahan terlepas. Pipinya terasa panas, tapi lebih dari itu, hatinya terasa terluka. Ia bahkan tak bisa mengerti apa yang baru saja terjadi.

"LO GILA, RIN!" suara Jeno meledak, penuh kemarahan. Ia mendorong Karina dengan kuat hingga wanita itu kehilangan keseimbangan dan jatuh, menghantam kursi di belakangnya.

Tanpa menunggu, Jeno segera berbalik menghadap Beomgyu. "Adek nggak apa-apa, sayang? Coba liat pipinya." Nada khawatir jelas terdengar di suaranya. Tangannya dengan lembut menyentuh pipi Beomgyu yang memerah, jempolnya mengusap pelan tanda tamparan itu sebelum ia mulai mencium pipi Beomgyu berkali-kali, seolah ingin menghapus rasa sakit. Melihat pipi beomgyu yang memerah  membangkitkan emosi Jeno.

Beomgyu hanya menggeleng pelan, tapi matanya mulai berkaca-kaca. Ia merasa terluka, tapi ia tahu Jeno ada di sisinya.

Melihat pemandangan itu, Karina yang baru saja berusaha bangkit meradang semakin parah. Tangan yang mengepal gemetar, matanya penuh amarah bercampur luka.

"Jadi… selama ini kalian…" suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. "Kalian bermain di belakangku?"

Kalimat itu terputus oleh isakannya sendiri. Tatapan Karina penuh tuduhan dan kesedihan, menembus ke arah Jeno yang hanya menatapnya dengan dingin.  Bisik-bisik orang-orang di sekitar semakin nyaring, seakan-akan mereka menunggu ledakan berikutnya.

Setelah berhasil menenangkan Beomgyu, Jeno beralih ke Karina. Tanpa ragu, tangannya mencengkeram pipi gadis itu dengan kuat, membuat Karina meringis kesakitan. Wajahnya begitu dekat hingga Karina bisa merasakan napas panasnya yang dipenuhi amarah. Sorot mata Jeno tidak lagi seperti biasa ada kekecewaan yang bercampur dengan kemarahan yang tak tertahankan.

"Lo tahu gue gak pernah mau main tangan ke cewek," ucapnya dengan suara serak menahan emosi. "Tapi kali ini lo keterlaluan, Rin. Obsesi lo ke gue bikin lo gelap mata."

Cengkeraman Jeno semakin menguat, membuat Karina terpaksa menahan rasa sakit yang menyayat, namun tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Hanya raut wajahnya yang penuh dengan ketakutan.

Jeno memang dikenal sebagai seseorang yang memegang prinsip untuk tidak menyakiti perempuan,  Bahkan dulu, ketika dia melayangkan pukulan ke Beomgyu dalam situasi terpaksa, Jeno dihantui rasa bersalah hingga berhari-hari. Dia menangis diam-diam, merasa dirinya telah melanggar batas yang tidak seharusnya dilewati.

Beomgyu, yang saat itu menjadi sasaran amarah Jeno, bahkan merasakan bahwa pukulan Jeno lebih mudah diterima daripada perlakuan kasar dari kedua kakaknya. Itu karena Jeno tidak pernah benar-benar berniat menyakitinya. sebaliknya, dia melakukannya dalam keadaan yang penuh konflik dengan dirinya sendiri. Namun kali ini, kemarahan yang mendominasi membuat Jeno hampir kehilangan kendali sepenuhnya.

Jung BeomgyuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang