🍒63

895 43 21
                                        


Tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan
Lakukan sekali lagi tarik nafas..
Tahan...
Tahan...

Selamat membaca♥︎














Beomgyu tau ini bukan jalan yang menuju rumahnya, namun ketakutannya untuk bertanya lebih besar daripada rasa bingung yang menggerogotinya. Pikirannya berputar, setiap detik terasa lebih lama. Hatinya berdebar kencang, tapi ia tidak bisa mengatakan apa-apa.

Mobil berhenti dengan suara rem yang keras, menyentak Beomgyu dari lamunan. Jeno menatap jalan di depan, lalu memejamkan matanya sejenak. Beomgyu melihatnya sekilas ekspresinya datar, tapi ada ketegangan yang tak bisa ia abaikan.

"Turun," suara Jeno keluar datar, namun terasa menekan.

Beomgyu terkejut, mengerjapkan matanya cepat, mencoba menangkap makna dari suara itu. Tanpa mengeluarkan kata, ia langsung membuka pintu mobil, melangkah keluar dengan cepat. Langkahnya terburu-buru, seolah ingin menghindari pertanyaan yang mungkin muncul, atau mungkin, ketidaknyamanan yang sudah terbangun di antara mereka.

Mereka berjalan melalui lorong panjang menuju pintu gedung yang tinggi. Keheningan di antara mereka semakin terasa berat, hanya suara langkah kaki mereka yang bergema di ruang sepi itu. Setiap detik terasa terhitung, setiap napas terasa begitu terdengar.

Sesampainya di lift, Beomgyu memilih diam, bahkan menghindari melihat Jeno di sampingnya. Sesekali ia mencuri pandang ke arah refleksi mereka di dinding kaca, namun langsung menunduk begitu tatapan Jeno beralih ke arah yang sama.

Ketika pintu lift terbuka, Jeno melangkah lebih dulu, dan Beomgyu mengikuti dengan langkah ragu. Begitu mereka sampai di depan sebuah pintu , Jeno tidak berkata apa-apa. Ia memasukkan kode dengan gerakan cepat,pintu pun terbuka dengan suara yang sedikit bergema. Begitu Beomgyu masuk, Jeno menutup pintu dengan keras, suara itu menggema di seluruh ruangan seolah menandakan bahwa tidak ada jalan kembali.
Jeno membawanya ke apartemen miliknya.

"Kau sengaja memancing amarahku, Jung Beomgyu," ucap Jeno dengan nada datar, namun matanya tajam, menembus ke dalam jiwa Beomgyu.

Beomgyu, yang sudah duduk terdiam di sofa, menatap Jeno dengan kebingungan. Ia mendongak, mencoba membaca ekspresi wajah Jeno yang tak menunjukkan emosi. "Apa maksudmu, Kak?" tanyanya pelan, suaranya hampir tak terdengar.

Jeno hanya terdiam sejenak, menarik napas panjang sebelum akhirnya melanjutkan dengan nada yang lebih dingin, "Kau masih bertanya? Hm, coba gunakan otak cerdasmu itu. Di mana letak kesalahanmu?" Suara Jeno menggetarkan, membuat Beomgyu merasa seolah seluruh tubuhnya terkunci di tempatnya.

Beomgyu terkejut, matanya membesar mendengar kata-kata Jeno. Sekian lama mereka tidak berbicara seperti ini, dan sekarang, tatapan Jeno kembali menembusnya. Namun Beomgyu masih mencoba mencari pemahaman, bahkan ketika jantungnya berdegup kencang.

"Adek sungguh enggak tau apa maksud Kakak," suara Beomgyu terdengar lirih, hampir bergetar. Ia menundukkan kepala sejenak, mencoba merangkai kata-kata yang tepat. "Bukankah adek sudah meminta izin semalam dan Kak Jeno mengiyakan? Kalau soal baju, adek minta maaf, tapi adek nggak melepas coat itu, sungguh…" ucapnya, hampir tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menunjuk ke arah coat yang baru saja ia letakkan di sisi kursi, tempat ia meletakkan barang-barangnya setelah tiba di apartemen Jeno.

Jeno menutup matanya sejenak, seolah mencoba meredam amarahnya yang membuncah.

"Kalo karena baju yang adek pake ngebuat kakak marah, adek minta maaf, dan adek janji gak bakal pake baju begini lagi," ucap Beomgyu, suara seraknya hampir tak terdengar. Namun, Jeno masih tak bergeming, tidak memberikan reaksi sedikit pun.

Jung BeomgyuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang