🍒35

2K 95 17
                                        

Part kali ini sepertinya bakal panjang, ya. Semoga kalian tetap betah membacanya!
Selamat membaca.

❁❁❁❁❁❁






  Hari-hari berlalu begitu cepat hingga tanpa terasa, hari ini adalah hari di mana Taehyung dan keluarganya akan kembali ke negara asal mereka. Seharian ini, Jaehyun dan Taeyong sibuk Kesana-kesini untuk menyambut kedatangan mereka bahkan jaehyun sendirilah yang menjemput mereka di bandara.

Namun, di sisi lain, Beomgyu dan Jeno masih terjebak dalam kecanggungan yang tak kunjung mencair. Hubungan mereka terasa dingin, diperparah dengan Jeno yang terus bergulat dengan rasa bersalahnya dan beomgyu yang menjauhinya.

Saat Jaehyun dan Taeyong akhirnya tiba di rumah, mereka dikejutkan oleh Sungchan yang tiba-tiba berlari ke arah mereka dengan napas tersengal-sengal.

“Papa! Bubu! Adek nangis terus dari tadi. Perutnya sakit! Udah kita usapin, tapi gak mempan!” Sungchan melapor panik. Biasanya, ketika Beomgyu mengalami sakit perut, mereka hanya perlu bergantian mengusap perutnya, dan rasa sakit itu perlahan akan mereda. Namun, kali ini berbeda. Sakit yang dirasakan Beomgyu tak kunjung hilang, membuat mereka cemas.

Tanpa berpikir panjang, Jaehyun dan Taeyong segera berlari ke kamar Beomgyu. Begitu mereka sampai, hati keduanya terasa mencelos. Beomgyu meringkuk di atas tempat tidur, wajahnya pucat dan basah oleh keringat. Rintihan kecil terdengar di sela napasnya yang berat.

Jaehyun duduk di tepi tempat tidur, tangannya segera mengusap perut Beomgyu dengan gerakan lembut. “Tenang, sayang, Papa di sini,” bisiknya, mencoba menenangkan. Tapi, Beomgyu tetap meringis. Tangisannya tak berhenti.

Taeyong mencoba hal yang sama, tapi tak ada perubahan. Napasnya memburu, rasa panik mulai menyelimuti dirinya. “Jae, telepon Eunwoo sekarang!” serunya tegas, meski suaranya terdengar bergetar. Tangannya terus mengelus perut Beomgyu, berharap keajaiban datang.

Jaehyun tak membuang waktu. Ia segera menghubungi Eunwoo. Beruntung, Eunwoo sedang berada di apartemennya yang tak jauh dari rumah mereka. Hanya dalam hitungan menit, Eunwoo tiba dengan tas medis di tangannya.

Dokter tampan itu memeriksa Beomgyu dengan tenang, tatapannya tajam dan serius. Setelah beberapa saat, ia menarik napas panjang dan berkata, “Beomgyu hanya mengalami kram perut. Ini umum terjadi pada wanita hamil,”

“Tapi, Woo, beomgyu sering kram, biasanya cukup diusap dan langsung reda. Sekarang dia kesakitan seperti ini...” Suara Jaehyun bergetar, matanya beralih ke Beomgyu yang masih terisak.

Eunwoo mengangguk, memahami kekhawatiran mereka. “Ini terjadi karena tubuhnya beradaptasi dengan perubahan besar. Kondisi emosional juga bisa memperparah kram, terutama jika ada stres atau kecemasan.” Ia menatap mereka berdua dengan lembut. “Yang terpenting sekarang adalah memastikan dia tenang. Kalau gejalanya makin parah, baru kita bawa ke rumah sakit.”

Mereka mengangguk, meski hati mereka masih diliputi kecemasan. Taeyong mendekat, mengecup kening Beomgyu yang basah oleh keringat. “bubu juga di sini, sayang. Kita akan lalui ini bersama,” bisiknya lembut.

Di sudut ruangan, Sungchan berdiri diam, matanya berkaca-kaca melihat adik perempuannya yang menderita. Ia mengepalkan tangannya, seolah ingin ikut meringankan rasa sakit itu.

Sementara itu, Jeno berdiri di luar kamar, tak berani masuk. Rasa bersalahnya semakin menghantui, menambahkan beban di pundaknya yang sudah berat.

Jung BeomgyuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang