🍒50

1.4K 51 11
                                        





  Jaehyun yang tengah sibuk membaca berita saham terkejut saat putra keduanya, Jeno, tiba-tiba muncul di hadapannya.

Jeno berjalan cepat menuju ayahnya, ekspresinya serius. “Papa… Jeno mau ngomong,” ucapnya dengan nada tegas, matanya menatap Jaehyun penuh keyakinan. Jaehyun yang merasa ada yang penting, langsung meletakkan iPad-nya di meja dan menatap Jeno dengan penuh perhatian.

Namun, sebelum Jeno sempat melanjutkan kata-katanya, pintu terbuka, dan Taeyong masuk dengan secangkir teh di tangannya. “Loh, Kak... mau Bubu buatin teh juga?” ucapnya dengan suara lembut, sedikit terkejut melihat Jeno duduk dengan ekspresi serius.

Jeno tersenyum, menggeleng pelan. Ia berdiri, lalu memeluk ringan tubuh Bubu-nya yang masih berdiri di sebelahnya. Momen itu penuh kehangatan, meski Jeno tetap merasa ada yang ingin ia ungkapkan. Namun, kebersamaan mereka tiba-tiba terpotong oleh suara Jaehyun yang kembali berbicara.

“Tadi mau ngomongin apa, Kak?” tanya Jaehyun, serius, dengan sedikit rasa ingin tahu yang tertangkap di matanya.

Jeno menarik napas panjang, lalu mengalihkan pandangannya pada ayahnya. “Jeno rasa… udah nggak bisa nyembunyiin ini dari kalian lagi,” ujarnya, suaranya penuh ketegasan, meski ada sedikit kegugupan yang tersembunyi.

Tiba-tiba, suara langkah terdengar di pintu, dan tak lama kemudian Sungchan muncul bersama Mark. “Apa yang engkau sembunyikan, wahai Jung Jeno?” ucap Sungchan, sambil menatap Jeno dengan ekspresi penasaran yang jelas terlihat di wajahnya. Ternyata, kedua saudara ini sudah mengikuti Jeno sejak tadi, entah apa yang membuat mereka begitu penasaran.

Mark hanya tersenyum lebar, mengangkat bahu. “Sepertinya ada sesuatu yang seru nih,” ucapnya sambil menatap Jeno dengan senyum penuh misteri.

Jeno menatap kedua saudaranya dengan tatapan malas, berharap kali ini mereka berdua tidak ikut campur atau mengganggunya. Ia sudah cukup tegang dengan apa yang akan ia ungkapkan, dan kehadiran mereka membuatnya sedikit kesal. Namun, dengan sekali desahan, Jeno akhirnya memusatkan pandangannya kembali pada Jaehyun, wajahnya penuh keseriusan.

“Jeno mau minta restu papa sama Bubu buat ngeresmiin hubungan Jeno sama adek,” ujar Jeno pelan, namun tegas, seolah-olah setiap kata yang keluar dari mulutnya sudah dipikirkan dengan matang. “Udah beberapa bulan ini Jeno sama Beomgyu jadian,” lanjutnya, nadanya penuh keyakinan, namun juga sedikit gugup.

Seperti petir di siang hari, kata-kata itu langsung mengguncang seluruh ruangan. Taeyong yang berdiri di sebelah Jeno langsung mengerjapkan matanya, mulutnya sedikit terbuka, rasa terkejut bercampur dengan rasa bahagia, meskipun sebenarnya ia sudah sering melihat Jeno dan Beomgyu berdekatan, bahkan bermesraan. Namun, pengakuan langsung dari Jeno tetap saja membuatnya terkejut. Di sisi lain, Jaehyun menatap Jeno dengan mata yang menyiratkan rasa bangga yang tak terbendung, sebuah senyum tipis menghiasi wajahnya.

Berbeda dengan Mark dan Sungchan yang tidak menunjukkan ekspresi terkejut sama sekali. Wajah mereka tenang, seolah sudah menunggu saat ini datang.

“Sudah rahasia umum,” bisik Mark, senyum kecil mengembang di wajahnya. Sungchan hanya mengangguk pelan, seolah membenarkan kata-kata Mark tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun.

Jeno menatap kedua saudaranya dengan tatapan tajam, tapi di balik rasa jengkel itu, ia merasa lega. Akhirnya, semuanya terungkap juga.

Taeyong bangkit dan segera memeluk Jeno dengan penuh haru. Rasa bangga yang mendalam meluap dalam dirinya, tak bisa ia sembunyikan.

“Kakak, makasih ya… udah jadi penguat bagi adek,” ucapnya lirih, suara Taeyong tergetar, penuh rasa terima kasih. “Bubu bangga banget sama Jeno. Karina biar Bubu yang ngurusin nanti, toh sedari awal Bubu yang bawa dia. Maafin Bubu ya, nak?, bubu udah ngehambat kebahagian Jeno. ” ucapnya dengan tulus, matanya mulai berkaca-kaca.  Jeno hanya menggelengkan kepalanya, berusaha menenangkan Taeyong.

Jung BeomgyuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang