🍒70

828 45 11
                                        









Lorong rumah sakit dipenuhi oleh langkah kaki yang tergesa-gesa. Jaehyun berada di depan, diikuti oleh keluarganya yang tak kalah panik. Bahkan Haechan, yang tengah mengandung, tetap ikut berlari sambil menggenggam erat tangan suaminya, Mark.

Telepon dari pihak rumah sakit beberapa menit lalu menjadi mimpi buruk yang mendadak nyata putra mereka, Jeno, sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.

Begitu tiba di depan ruang perawatan, Taeyong menghentikan langkahnya, memandang pintu yang tertutup rapat. Matanya berkaca-kaca, penuh kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan. Hatinya hancur membayangkan putranya terbaring di dalam sana, berjuang melawan rasa sakit.

Jaehyun, dengan sorot mata tegas namun sarat kecemasan, melangkah menuju seorang pria yang duduk gelisah di kursi tunggu. "Kau yang membawa putraku ke sini?" tanyanya, suaranya rendah namun penuh tekanan.

Pria itu, terlihat gugup, mengangguk pelan. "Iya, Tuan. Saya menemukannya di jalan saat hendak berangkat kerja," jawabnya lirih, sesekali melirik takut ke arah Jaehyun.

"Dimana istrinya?" suara Mark tiba-tiba memotong pembicaraan. Ia maju selangkah, tatapannya tajam seperti elang yang tak ingin melewatkan detail apa pun.

"Saya tidak tahu, Tuan," wanita itu menjawab dengan suara gemetar. "Saya menemukannya seorang diri di dalam mobilnya. Tidak ada orang lain."

"Kau yakin?" tanya Sungchan yang kini mulai kehilangan kesabaran. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal.

"Saya berani bersumpah, Tuan. Ketika saya menemukannya, dia sendirian," gadis itu menegaskan, meskipun rasa takut jelas tergambar di wajahnya.

Jaehyun menghela napas panjang, menahan gejolak yang meluap di dadanya. Kekhawatirannya tentang kondisi Jeno bercampur dengan misteri hilangnya Beomgyu dan Sion. Namun, ia berusaha mempertahankan ketenangannya. "Terima kasih, ah iya siapa namamu?" tanyanya dengan nada yang lebih lembut, meski masih penuh otoritas.

"Nama saya Ruka, Tuan," jawab wanita itu dengan nada pelan.

Jaehyun mengangguk singkat. "Ruka, terima kasih sudah menolong putraku. Aku tidak akan melupakan ini."

Ruka hanya membalas dengan anggukan kecil sebelum Jaehyun berbalik. Ia mendekati Taeyong, yang masih berdiri di depan pintu dengan wajah penuh harap dan doa. Hening menyelimuti keluarga itu, hanya suara denyut jantung masing-masing yang berdetak kencang di tengah ketidakpastian.

Taeyong mengusap air matanya dengan gemetar, mencoba menenangkan diri meskipun hatinya sudah hancur sejak mendengar kabar Jeno terluka. Ia menoleh ke arah Jaehyun, menatap suaminya dengan penuh harap, meski ada keraguan di matanya.

"Jaehyun, bagaimana kabar Adek dan sion? Mereka baik-baik saja, kan?" tanyanya, suaranya bergetar. Namun, raut wajah Jaehyun yang suram memberikan jawaban yang tidak diinginkannya.

"Jae..." Taeyong menguatkan dirinya untuk bertanya lagi. "Adek di ruangan mana? Aku mau menemuinya."

Jaehyun hanya menggelengkan kepala pelan, matanya menunduk, tak kuasa menatap Taeyong. Ia tahu bahwa kata-kata yang akan keluar dari mulutnya akan menghancurkan hati istrinya, tapi ia tidak punya pilihan lain.

"Sayang... Adek dan Sion... mereka menghilang," ucapnya akhirnya, suaranya nyaris berbisik. "Penolong itu hanya menemukan Jeno."

Taeyong menatap Jaehyun dengan mata membelalak, air matanya langsung mengalir deras. Ia menggelengkan kepala keras, langkahnya terhuyung mendekat.

"gak! Enggak mungkin!" suaranya pecah, cengkeramannya erat di baju Jaehyun. "Kamu bohong, kan, Jae? Tolong katakan ini cuma bohong. Katakan kalau mereka baik-baik saja!" teriaknya penuh keputusasaan.

Jung BeomgyuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang