Alam terasa seperti sebuah simfoni yang sempurna. Matahari bersinar lembut, memandikan bumi dengan cahayanya yang hangat, sementara awan-awan putih bergerak pelan seolah tak ingin mengganggu. Angin berembus ringan, membawa aroma bunga yang sedang bermekaran, seakan mengiringi hari yang tak akan terlupakan ini. Suara kicauan burung melengkapi suasana, menambahkan kehidupan pada pagi yang tenang namun penuh makna.
Di dalam ruangan yang diterangi cahaya, Beomgyu duduk di depan cermin besar. Wajahnya yang sudah dirias tampak bersinar, bukan hanya karena sapuan makeup, tetapi karena kebahagiaan yang terpancar dari matanya.
"Wah… Kau cantik sekali, nona," puji perias setelah memberi sentuhan terakhir pada wajahnya. Ada decak kagum di setiap katanya, seakan ia pun terpesona oleh karyanya sendiri.
Haechan mendekat dengan langkah pelan, Ia menatap Beomgyu lekat-lekat, bibirnya melengkung dalam senyuman bangga. "Adikku memang selalu cantik," bisiknya penuh haru. Ia berlutut di depan Beomgyu, menyentuh lembut jemarinya, lalu berdiri untuk mengambil gaun yang tergantung di dekatnya.
"Ayo, biarkan gaun ini membuatmu semakin sempurna," katanya sambil membimbing Beomgyu berdiri. Dengan hati-hati, ia memakaikan gaun putih yang anggun itu, memastikan setiap lipatan jatuh pada tempatnya. Tatapan Haechan berubah lembut saat ia mundur satu langkah untuk melihat hasil akhirnya.
"Indah sekali," gumamnya nyaris tak terdengar, namun penuh dengan kehangatan.
Sementara itu, di ruangan lain, Jeno berdiri di depan cermin, namun tidak untuk mengagumi dirinya sendiri. Ia lebih banyak menghela napas, mencoba meredakan degup jantungnya yang terasa semakin cepat. Jas putih yang membalut tubuhnya sudah rapi, tapi tangannya terus saja meremas-remas ujung dasi seakan itu bisa mengalihkan rasa gugupnya.
"Tenang, Jen," suara Mark memecah keheningan. Kakaknya menepuk bahunya ringan, tersenyum seperti seorang yang pernah melewati badai yang sama. "Gugup banget, ya?"
Jeno menoleh dengan tatapan penuh rasa cemas. "Banget, Bang," jawabnya pendek, hampir seperti desahan.
Sungchan, yang duduk santai di sofa, tidak bisa menahan tawanya. "Hahaha! Sok gugup lo Kak. Padahal waktu berbagi keringat lo gak gugup sama sekalikan?" celetuknya, sengaja memancing.
Mark langsung tertawa keras, bahkan sampai membungkuk. "Hahaha! Beda, Chan. Waktu itu, si Jeno udah kerasukan setan, jadi ya lebih santai."
Jeno langsung melotot. "Bisa diem nggak, kalian berdua?!" serunya dengan nada kesal. Wajahnya yang tadi memerah karena gugup kini semakin memanas, tapi kali ini karena rasa malu dan lebih di dominasi ingin menjitak sungchan. Namun, entah bagaimana, hatinya terasa lebih ringan.
"Tapi ya... Kalau gue gak nekat ngelakuin hal gila itu, kayaknya kalian gak bakal ngeliat Sion sekarang," tambah Jeno sambil menyilangkan tangan di dada. Ada nada bangga yang terselip di suaranya, seolah ingin menegaskan bahwa kegilaannya memang layak untuk dibanggakan.
(Agak laen emang si Jeno ini)
Sungchan tersenyum langkahnya ia bawa untuk mendekati Jeno. "Eh, serius, Kak. Gue gak nyangka lo bisa sampai di tahap ini," katanya, sambil menepuk pundak Jeno.
Jeno mendengus pelan, tapi kali ini tanpa kemarahan. Ada kerutan halus di dahinya, seolah sedang merenung, sebelum akhirnya bibirnya perlahan melengkung membentuk senyuman tipis. "Iya, Chan. Gue juga ngerasa... ini semua masih kayak mimpi," gumamnya, suara lirihnya penuh kejujuran.
Tatapannya jatuh ke lantai sejenak, lalu kembali mengangkat wajah. Ada rasa syukur dan haru di matanya, sesuatu yang jarang terlihat dari Jeno. "Tapi kalau ini mimpi, gue harap gue gak akan pernah bangun," lanjutnya dengan nada yang hampir tak terdengar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jung Beomgyu
Fanfiction✿꙳Completed꙳✿ Kamu tau apa yang aku inginkan? Sederhana saja Kebahagiaan hanya itu saja tidak lebih Warning!! GS area!! Mohon pertimbangkan sebelum membaca Terimakasih.
