🍒31

1.9K 90 6
                                        

 

Pagi-pagi sekali, Jaehyun dan Taeyong sudah tampil rapi, mengundang tanda tanya dari ketiga putranya. Biasanya, di jam lima pagi ini mereka masih terlelap, tapi pagi ini suasana rumah terasa berbeda. Mark dan Jeno, yang ditugaskan Jaehyun ke kantor juga masih lengkap dengan piyama nya. Sementara itu, Sungchan, yang sedang libur, hanya bisa pasrah mengikuti kegilaan Jeno yang lagi-lagi berulah.

Jeno, dengan ide tak masuk akalnya, menyeret kakak dan adiknya ke ruang keluarga. Alasannya? Mukbang tomat pagi-pagi buta. Mark masih menatap penuh kebingungan, tangannya menggenggam sebuah tomat yang sudah digigit setengah,  Sementara itu, Sungchan sudah terlihat menderita wajahnya penuh penyesalan, dan perutnya kembung karena terlalu banyak menelan tomat.

“Mau ke mana, Pa? Bu? Rapi amat,” tanya Mark dengan tatapan bingung. Berbeda dengan Sungchan yang melirik penuh harap, seperti memohon pertolongan agar diselamatkan dari nasib tomat ini, demi apapun sungchan tidak menyukai buah ini.

Taeyong mendekati Mark, menyeka bercak merah tomat di pipi anak sulungnya. Suaranya lembut namun cukup jelas untuk didengar ketiga putranya. “Doain Bubu ya, supaya bisa bawa adek pulang.”

Mendengar itu, Sungchan langsung melompat dari kursinya. “Pa… Bu, serius?” tanyanya antusias. Jaehyun hanya mengangguk perlahan, wajahnya menyiratkan keyakinan.

Di sisi lain, Jeno hanya diam mematung. Pikirannya melayang entah ke mana. Ada rasa bahagia mendengar kabar itu, tapi di sisi lain, ada juga rasa takut yang sulit ia ungkapkan. Di tengah keheningan Jeno, rasa campur aduk di ruang keluarga itu terasa begitu nyata, seperti sebuah doa yang mereka ucapkan tanpa suara.

Setelah kepergian Jaehyun dan Taeyong, Jeno tampak lebih diam dari sebelumnya. Tatapan matanya kosong, seolah pikirannya tenggelam dalam ketakutan yang tak bisa ia ungkapkan. Mark, yang menyadari perubahan adiknya, mendekat dan menepuk pundak Jeno pelan.

“Tak apa, gue udah janji. Kali ini, gue gak bakalan ngebiarin lo berjuang sendirian,” ujar Mark dengan nada tegas, seolah tahu persis apa yang tengah berkecamuk di kepala Jeno.

Jeno menatap Mark dengan mata yang meredup. “Tapi, Bang... gimana kalau gue gak bisa ngontrol? Gimana kalau Adek gak nyaman ada gue di sekitar dia? Bang, gue…” Belum sempat Jeno menyelesaikan ucapannya, Sungchan tiba-tiba menyela.

“Kak Jen, maafin gue yang selama ini egois,” potong Sungchan. Nada suaranya terdengar serius, membuat kedua kakaknya menoleh. “Bener kata Kak Mark. Kita selama ini cuma mikirin diri sendiri. Tapi sekarang, kayaknya ini saat yang pas buat gue kasih tahu lo sesuatu.”

Sungchan berdiri dari tempat duduknya, langkahnya pelan tapi pasti. Mark dan Jeno saling berpandangan heran, mencoba menebak apa yang ingin dilakukan adik bungsu mereka.

“Tunggu sebentar,” ujar Sungchan sebelum beranjak pergi.

Tak lama kemudian, Sungchan kembali dengan ponsel di tangannya. Ia menyerahkan layar ponselnya kepada Jeno, memperlihatkan sebuah foto yang diambil beberapa bulan lalu di meja kerja Jaehyun.

Mark dan Jeno terpaku, ekspresi mereka campur aduk antara terkejut dan tidak percaya. Namun perlahan, senyum mulai muncul di wajah Jeno. Sorot kebahagiaan terpancar dari matanya, sesuatu yang sudah lama tidak terlihat.

Melihat itu, Mark kembali menepuk pundak Jeno, kali ini lebih mantap. “Setelah Papa pulang, entah dengan Adek atau tanpa Adek, akuin apa yang selama ini lo tutup rapat-rapat. Jangan lari lagi.”

Jeno mengangguk pelan, membiarkan ucapan Mark menggema di pikirannya.

Sungchan, yang berdiri di dekat mereka, ikut tersenyum. “Selamat berjuang, Kak Jen. Gue bakal bantu sebisa gue,” ucapnya tulus, memberi semangat kepada kakaknya.

Jung BeomgyuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang