🍒42

1.6K 62 11
                                        

 

  Akhir-akhir ini, kecanggungan antara Beomgyu dan Jeno perlahan memudar berkat kegigihan Jeno yang terus mencoba mendekati Beomgyu. Meskipun begitu, Beomgyu masih sering merasa jantungnya berdebar setiap kali Jeno berada di dekatnya. Dia tidak tahu pasti apa alasan di balik perasaan itu. Apakah mungkin ini bawaan dari bayinya yang ingin selalu berada di dekat ayahnya? Ataukah karena dirinya sendiri yang mendambakan hubungan kakak-adik? Atau... mungkinkah Beomgyu mulai menaruh perasaan pada Jeno?

Seperti saat ini, Jeno dan Beomgyu duduk di ruang keluarga yang diterangi lampu hangat. Televisi di depan mereka masih menyala, tapi tak ada yang benar-benar peduli dengan tayangannya. Beomgyu duduk nyaman di sofa, sementara Jeno duduk di karpet di bawahnya, punggungnya bersandar di kaki Beomgyu. Suara game di ponsel Jeno mengisi keheningan di antara mereka.

Beomgyu mengulurkan tangan, jemarinya dengan lembut menyentuh helai-helai rambut Jeno yang jatuh menutupi leher belakangnya. "Rambut Kak Jeno makin panjang, ya," gumamnya, suaranya lembut, hampir seperti bisikan.

Jeno menoleh perlahan, meninggalkan dunianya di layar ponsel. Matanya bertemu dengan Beomgyu, yang kini tersenyum tipis sambil memainkan ujung rambutnya. "Kenapa hmm? Adek Nggak suka?" tanya Jeno dengan nada rendah, penuh perhatian. "Kalau nggak suka, Kakak potong besok yah." Senyumnya melunak, matanya menyiratkan kasih sayang yang tak pernah terucap.

Beomgyu menggeleng cepat, nyaris seperti anak kecil yang tak ingin mainannya diambil. "Enggak, Adek suka, kok," jawabnya cepat. "Adek suka banget rambut Kak Jeno panjang. Kakak nggak usah potong, ya." Ia membuka ikat rambut yang melingkar di pergelangan tangannya, kemudian dengan hati-hati mulai mengikat rambut Jeno. Jemarinya bekerja perlahan, memastikan tidak ada helaian yang tertarik terlalu kencang.

Jeno hanya tertawa kecil, membiarkan Beomgyu melakukan apapun yang diinginkannya. Tatapannya kembali ke ponsel, tapi hatinya terasa hangat. Dia tahu, ada sesuatu dalam gestur kecil itu yang lebih berarti dari sekadar mengikat rambut. Dan meskipun dia berpura-pura acuh, sebenarnya dia menyukainya dan mungkin, lebih dari itu, dia menyukai orang yang ada di balik gestur kecil itu.

Setelah mengencangkan ikatan rambut Jeno, Beomgyu tersenyum puas. "Coba hadap ke sini, Kak," pintanya sambil menunjuk ke arahnya.

Jeno, yang tadinya sibuk dengan ponselnya, menghentikan gerakan jarinya. Ia memutar badan, kini menghadap Beomgyu yang duduk santai di sofa, sementara ia sendiri duduk di atas karpet bulu.

"Nah... begini lebih tampan," ujar Beomgyu dengan nada takjub, matanya memandangi Jeno dengan lekat. Wajah Jeno terlihat semakin menonjol dengan rahang tegasnya, rambut panjang yang menjuntai hingga menutupi leher, bahkan hampir menyentuh pundak, dan bagian depan yang dikuncir  setengah, oleh Beomgyu, memamerkan dahi Jeno yang bersih. Sebuah perpaduan sempurna, pikir Beomgyu dalam hati.

"Kakak benar-benar tampan," puji Beomgyu spontan, senyum kecilnya berubah jadi ekspresi terpana.

Melihat wajah Beomgyu yang cengo, Jeno terkekeh kecil. Dengan gerakan santai, ia meraih tubuh Beomgyu, mendekapnya erat, hingga wajahnya tepat bersandar di perut Beomgyu. "Sudah kakak bilang, kan, kalau kakak memang tampan," ujarnya bangga di tengah pelukan itu. "Nanti aegy kita, kalau laki-laki, pasti akan setampan kakak."

Beomgyu mendengus kecil, matanya berputar malas mendengar kepercayaan diri Jeno yang nyaris meledak. "Aniya, aegy nanti akan mirip aku. Aku yang membawanya, jadi dia akan mewarisi aku," balasnya main-main, mencoba menyingkirkan kepala Jeno dari perutnya. "Awas saja kalau sampai mirip Kakak."

Jeno hanya tertawa, sementara pelukan di perut Beomgyu semakin erat.

Sontak, aksi keduanya menarik perhatian beberapa maid yang berlalu-lalang. Mereka memekik pelan, sebagian saling berbisik, menunjukkan ekspresi gemas bercampur kagum melihat interaksi antara Jeno dan Beomgyu. Sedangkan  jaehyun sudah pergi pagi tadi keluar kota dan di temani taeyong, mark dan sungchan yang juga pergi sedari pagi dengan kegiatannya masing-masing.

Jung BeomgyuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang