Setelah selesai pemeriksaan, Yeonjun berpamitan pada Eunwoo, namun sebelum benar-benar pergi, ia menatap dokter itu dengan sedikit cemas. "Om... Jangan kasih tahu Mama atau yang lainnya ya. Biar Yeonjun sendiri yang bilang nanti," pintanya dengan senyum sumringah, mencoba menyembunyikan kegelisahan di balik wajah cerianya.
Eunwoo tersenyum sambil mengangguk. "Siap, Nyonya Kim," balasnya setengah bercanda. Namun, saat melihat Yeonjun pergi, Eunwoo teringat mantan crushnya, Jimin. Ia seperti melihat bayangan Jimin dalam diri putrinya tingkah dan sifat mereka begitu mirip. Bahkan, ia teringat masa-masa Yoongi kewalahan menghadapi Jimin saat hamil dulu.
Kembali ke tiga wanita itu, rencana mereka berjalan sesuai jadwal. Setelah pemeriksaan, mereka melanjutkan agenda ke toko perlengkapan bayi. Dengan antusias, mereka memilih baju-baju mungil untuk calon bayi Yeonjun, membayangkan momen-momen indah yang akan datang. Setelah puas berbelanja, mereka kini duduk di salah satu kafe, menikmati kopi latte hangat dan beberapa potong kue.
"Aku merasa seperti kembali ke zaman kuliah," ucap Haechan dengan tawa kecil, menyesap kopinya perlahan.
"Kak Haechan bener. Kalau saja aku nggak inget lagi hamil, udah pasti aku seret kalian ke club langgananku dulu!" sahut Yeonjun dengan tawa lantang, membayangkan masa-masa bebasnya dulu.
Beomgyu hanya tersenyum kecil mendengar candaan kakak iparnya, tetapi matanya menatap kosong ke arah gelas es kopi di depannya. Ada kesedihan samar yang tak luput dari perhatian Haechan. Ia menyentuh tangan Beomgyu lembut, memecah keheningan. "Adek... Sayang, kamu kenapa? Gwenchana?" tanyanya penuh perhatian.
Yeonjun yang tadinya sibuk dengan tawanya langsung menatap Beomgyu dengan serius. "Adek, kalau ada apa-apa, bilang ke kita, ya," ucapnya lembut, mencoba menenangkan.
Beomgyu menghela napas panjang sebelum berbicara. "Adek sedih aja, Kak. Kalian punya pengalaman masa kuliah... Tapi adek..." suaranya terhenti, tercekat di tenggorokan. "Adek kan cuma lulus SMA. Bahkan adek hamil Sion pas ujian akhir sekolah," ucapnya lirih, pandangannya tertunduk.
Haechan dan Yeonjun saling menatap, hati mereka terasa berat melihat kesedihan Beomgyu. Haechan akhirnya bicara, "Adek mau kuliah, sayang?" tanyanya lembut.
Beomgyu mengangguk pelan, air matanya hampir tumpah. "Adek mau, Kak... Tapi nanti, kalau Sion sudah agak besar. Sekarang adek mau fokus dulu sama pertumbuhan Sion. Adek nggak mau ketinggalan momen-momen pertumbuhan dia," ucapnya, suaranya bergetar. "Tapi... Adek juga nggak bisa bohong. Adek pengen banget kuliah."
Yeonjun tersenyum hangat, menggenggam tangan Beomgyu. "Adek itu pintar. Kak Njun yakin banget, kamu bisa bagi waktu antara belajar sama urus keluarga. Kamu cuma perlu izin dari Jeno. Kak Njun yakin, dia bakal dukung."
Beomgyu tersenyum kecil, matanya masih sedikit berkaca-kaca. "Iya, Kak... Nanti adek coba izin. Tapi sekarang... Sekarang adek cuma mau pastikan Sion dapet yang terbaik dulu."
Haechan menyentuh pipi Beomgyu, membuatnya menatap langsung ke arahnya. "Yang penting, sekarang adek bahagia, kan?" tanyanya lembut.
Beomgyu mengangguk dengan senyum tulus yang kini menghiasi wajahnya. "Sangat bahagia, Kak. Walaupun awalnya pahit, sekarang adek sangat bersyukur. Kak Jeno, Sion, bubu dan kalian semua... Kalian bikin hidup adek sempurna."
Haechan dan Yeonjun tersenyum, penuh kehangatan. Mereka tau, perjalanan Beomgyu hingga ke titik ini tidak mudah. Tapi mereka juga tahu, hati Beomgyu yang penuh cinta adalah kekuatan terbesar yang dimilikinya.
"Oh, Kak, adek ke toilet dulu ya," ucap Beomgyu di sela obrolan mereka. Haechan dan Yeonjun mengangguk bersamaan.
"Perlu diantar, Dek?" tanya Haechan dengan nada perhatian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jung Beomgyu
Fanfiction✿꙳Completed꙳✿ Kamu tau apa yang aku inginkan? Sederhana saja Kebahagiaan hanya itu saja tidak lebih Warning!! GS area!! Mohon pertimbangkan sebelum membaca Terimakasih.
