Suasana di luar begitu dingin, angin malam yang menusuk seolah menembus setiap lapisan kulit hingga menyergap tulang. Namun, kontras dengan itu, ruangan ini dipenuhi kehangatan, baik dari gelak tawa maupun perasaan nyaman yang menyelimuti.
"Jangan curang, Jaem!" suara protes terdengar.
"Jaemin gak curang? Bisulan dia yang ada," celetuk yang lain, disambut tawa lepas.
"Lucas! Jauhin tangan lo dari gelas gue!" seruan itu membuat tawa makin riuh.
Ruangan ini adalah tempat favorit mereka, basecamp yang bisa di bilang tidak sederhana, dan penuh kehidupan. Setiap sudutnya terasa hidup oleh percakapan, ejekan bercanda, dan keakraban yang tak pernah pudar.
Namun, riuh itu mendadak terhenti oleh suara dentuman pintu yang dibuka keras.
"YAAAAK! Ini dia, tuan muda kita akhirnya tiba!" seru Lucas sambil tertawa, menunjuk ke arah Jeno yang baru saja masuk, melepaskan mantel tebalnya, dan menggantungnya di dekat pintu.
Kedatangan Jeno disambut dengan riuh oleh para pemuda yang sedang berkumpul di sana. Sudah beberapa minggu terakhir, Jeno tak menampakkan batang hidungnya, membuat kehadirannya terasa seperti kejutan.
"Akhirnya lo sembuh juga, Jen! Sakit apa, sih, sampai ngilang lama gitu?" tanya Lucas dengan nada penasaran.
Jeno hanya diam, tidak berminat menanggapi ucapan Lucas. Dengan santai, dia mendudukkan dirinya di sofa kosong, meraih sekaleng soda yang tergeletak di meja. Sebenarnya, godaan untuk menyentuh botol wine di hadapannya cukup besar, tapi Jeno masih punya sedikit akal sehat untuk tidak pulang dalam keadaan mabuk.
"Gue sebenarnya kepo, Jen. Lo sakit apa, sih? Lama banget gak nongol," ucap Jake yang sejak tadi memandang Jeno dengan penasaran.
Jeno baru hendak membuka mulutnya, tetapi Jaemin sudah lebih dulu menyela.
"Orang dia gak sakit," kata Jaemin santai, namun sukses menarik perhatian semua orang.
"Lah, terus kenapa? Bahkan kita mau jenguk juga gak lo bolehin" tanya Eric bingung, ikut menatap Jeno dengan pandangan curiga.
"Dia morning sickness," tambah Jaemin, sembari menunjuk Jeno tanpa beban.
Seketika, suasana jadi ramai. Jake, Eric, Lucas, dan Sunwoo tampak terkejut, sedangkan Jisung tetap tenang dengan fokusnya pada game di ponselnya.
"Hah? Tunggu dulu," seru Sunwoo sembari bangkit dari duduknya. "Karina hamil, Jen? Wah, parah lo!" tuduhnya.
Jeno hanya menggelengkan kepala, tampak malas menanggapi spekulasi liar itu. "Gue gak pernah nyentuh Karina, kalau lo mau tau," balasnya datar.
"Tunggu, tunggu... Kalau Karina gak hamil, jangan-jangan..." Lucas menghentikan kalimatnya, menutup mulut dengan tangan, seolah terkejut oleh pikirannya sendiri. "Lo hamil, Jen?"
Ucapan itu langsung disambut dengan lemparan kaleng kosong dari Jake dan Jaemin.
"Oon!" seru Jake dengan nada malas.
"Ya kali, Jeno hamil. Tolong, ini bukan cerita mpreg," tambah Jaemin, menatap Lucas dengan ekspresi kesal sekaligus geli.
Lucas hanya bisa cengengesan, sementara teman-temannya mulai tergelak. Pikiran absurd Lucas memang kerap menjadi hiburan yang meski sering menyebalkan selalu berhasil memecah suasana.
"Beomgyu yang hamil"
Ini bukan suara Jeno maupun Jaemin. Semua orang, dengan rasa ingin tahu yang perlahan berubah menjadi kebingungan, menoleh ke arah Jisung. Anak itu duduk bersandar di pojok sofa, matanya terpaku pada layar ponselnya, jari-jarinya lincah bergerak mengendalikan game yang sedang ia mainkan. Seolah-olah dia bahkan tak sadar telah melontarkan sesuatu yang baru saja membuat atmosfer ruangan membeku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jung Beomgyu
Fiksi Penggemar✿꙳Completed꙳✿ Kamu tau apa yang aku inginkan? Sederhana saja Kebahagiaan hanya itu saja tidak lebih Warning!! GS area!! Mohon pertimbangkan sebelum membaca Terimakasih.
