Beomgyu menggendong Sion yang sedang sibuk berceloteh, matanya berbinar-binar penuh keceriaan. Suara kecilnya yang tak henti-hentinya mengalirkan kata-kata lucu itu membuat siapa pun yang mendengarnya tak bisa menahan rasa gemas. “Bubu Adek masuk ke kamar dulu ya,” ucap Beomgyu sambil melangkah pelan menuju tangga.
Taeyong yang berdiri di sebalhnya hanya tersenyum melihat cucunya yang ceria. Dengan lembut, ia mendekat dan mengecup pelan pipi Sion. “Iya sayang, sepertinya cucu tampan Bubu ini sudah lelah,” katanya dengan suara penuh kasih, menyentuh hati siapa pun yang mendengarnya.
Baru saja mereka sampai di rumah setelah seharian penuh, Taeyong sengaja mengajak Beomgyu untuk berkunjung ke panti asuhan tempat ia rutin datang. Taeyong sering mengunjungi panti tersebut untuk memberikan sedikit kebahagiaan bagi anak-anak yang kurang beruntung. Ia bahkan menjadi donatur tetap di sana, memastikan anak-anak itu mendapatkan perhatian dan bantuan yang mereka butuhkan.
Beomgyu merasa hati dan pikirannya penuh ketika berada di sana. Melihat anak-anak kecil dengan senyum lebar, tertawa bahagia meskipun hidup mereka jauh dari sempurna, hatinya terasa hangat. Anak-anak itu berebut untuk bermain dengan Sion, yang tak henti-hentinya tertawa kecil, seolah-olah dunia hanya milik mereka.
Namun, meski kebahagiaan itu terasa begitu nyata, ada sedikit kesedihan yang menyelinap di mata Beomgyu. Di tengah tawa dan keceriaan, ia teringat masa lalu, saat hidup terasa begitu tidak adil baginya. Ia merasa bahwa tak ada kesempatan untuk merasa bahagia, namun di hadapan anak-anak itu, rasa syukur mulai tumbuh. “Aku jauh lebih beruntung daripada mereka,” pikir Beomgyu, matanya menatap dengan haru anak-anak yang begitu ceria meski hidup mereka penuh tantangan.
Seiring perjalanan mereka kembali ke rumah, Beomgyu merasa hati yang tadinya penuh kegelisahan kini sedikit lebih ringan. Sion yang tertidur pulas di pelukannya menjadi pengingat betapa hidupnya kini penuh kebahagiaan, bahkan lebih dari yang ia pernah bayangkan.
Hari ini, sepertinya Sion tidak tidur dengan tenang seperti biasanya. Biasanya, bayi kecil itu akan tidur lebih lama, namun kali ini, hanya beberapa jam setelah tidur, Sion sudah kembali terjaga, matanya berbinar penuh keceriaan. Meski tak ada tangisan, celotehnya yang riang tetap saja terdengar menggemaskan di telinga Beomgyu.
"Kok sudah bangun, sayang? Hm?" ucap Beomgyu lembut sambil mengecup pipi Sion, matanya penuh kasih sayang.
Sion terkekeh pelan, tangannya kecil menepuk-nepuk lembut udara, seolah berusaha berbicara dengan dunia di sekitarnya. "Dasar putra Jung Jeno, selalu seperti ini ketika seharian nggak lihat ayahnya," Beomgyu kekeh kecil, suara lembut penuh kelakar.
Namun, tiba-tiba pintu kamar terbuka perlahan, dan sosok Jeno muncul di ambang pintu. Beomgyu memicingkan matanya, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Apa-apaan ini?" pikirnya, matanya bergerak dari kepala hingga kaki suaminya. Rambut Jeno yang tadi pagi masih hitam kini berubah menjadi blonde dan jangan lupakan undercut yang menambah kesan berbeda dari biasanya.
Beomgyu melongo, ekspresinya jelas menunjukkan betapa terkejut dan takjubnya ia melihat penampilan baru Jeno.
Jeno, yang melihat reaksi istrinya, hanya terkekeh. Senyum nakal mengembang di wajahnya. "Kenapa sayang, Kakak tampan, yah?" ujarnya dengan nada menggoda, sambil berjalan mendekat ke Beomgyu.
Sambil tersenyum, Jeno mengulurkan tangannya, mengambil alih Sion dari pelukan Beomgyu dengan lembut. "Anak ayah belum tidur, nak," katanya sambil mencium pipi Sion dengan penuh kasih sayang.
Sion, dengan tangan kecilnya, kembali bertepuk tangan, tertawa riang seolah tahu bahwa ayahnya datang untuk menghiburnya. Suasana menjadi lebih hangat, dengan tawa ceria Sion mengisi udara, sementara Beomgyu hanya tersenyum, matanya penuh cinta melihat interaksi manis antara suami dan anaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jung Beomgyu
Fanfiction✿꙳Completed꙳✿ Kamu tau apa yang aku inginkan? Sederhana saja Kebahagiaan hanya itu saja tidak lebih Warning!! GS area!! Mohon pertimbangkan sebelum membaca Terimakasih.
