🍒38

1.7K 66 12
                                        






  Siang itu, suasana di ruang kerja Jaehyun jauh dari biasanya. Jika biasanya ruangan itu sunyi dengan hanya gemerisik angin yang menyelinap lewat jendela, kali ini keheningan berubah menjadi ketegangan yang mencekam. Cahaya matahari yang menerobos tirai seakan enggan menyentuh lantai, tertahan oleh hawa berat yang memenuhi ruangan.

Di sofa panjang, Jaehyun dan Taehyung duduk bersebelahan. Wajah mereka sama-sama serius, penuh ketegasan. Di depan mereka, Soobin dan Jeno berlutut, masing-masing menghadapi sosok yang selama ini mereka hormati sekaligus takuti.

Taehyung menarik napas dalam, memecah keheningan. "Kau sudah dewasa, Soobin! Mengapa harus menyelesaikan semua ini dengan kekerasan? Tidak bisakah dibicarakan dengan kepala dingin?" Suaranya tajam, menusuk ke dalam keheningan, membuat Soobin semakin menunduk. Ia tahu, amarah Taehyung tidak akan pernah lunak, hanya ibunya yang bisa menenangkan ayahnya dan  saat ini ibunya tidak berada di ruangan yang sama. Jika sudah seperti ini, tamparan keras mungkin hanya tinggal menunggu waktu.

Sementara itu, Jeno tetap diam, wajahnya tertunduk dalam-dalam. Namun bukan hanya rasa takut yang membuatnya begitu. Ia tidak berani menatap kedua pria dewasa di depannya, Bukan!, Bukan karena perkelahiannya dengan Soobin, tapi karena beban rasa bersalah yang terus menghantuinya. Ia tahu betul dosa-dosanya terlalu besar untuk dimaafkan begitu saja.

"Kau bisu, hah?" Taehyung tiba-tiba membentak, nadanya keras hingga membuat Soobin tersentak. Namun, Soobin hanya menggeleng, bibirnya gemetar sebelum akhirnya berbisik pelan, "Maafkan aku, Dad... aku tidak bisa mengontrol emosiku. Maaf."

Amarah Taehyung semakin tersulut. Ia berdiri dan mendekati putra sulungnya dengan tatapan tajam.

"berdiri Soobin" nadanya masih tampak dingin. Soobin, meski ketakutan, tetap berdiri sesuai perintah. Tubuhnya kaku, seolah menunggu apa yang akan terjadi berikutnya.

Sementara itu, Jaehyun tetap diam di tempatnya, matanya tajam mengamati semua yang terjadi. Bukan berarti ia tidak peduli, tapi ia tahu, ini bukan saatnya untuk berbicara. Setiap kalimat yang salah ucap hanya akan memperkeruh suasana. Ia memilih menjadi saksi diam, mengamati dari bayangan, seperti matahari yang menolak menerangi ruangan ini.

Taehyung mendekat, wajahnya mencerminkan kemarahan, rasa malu, dan kekecewaan yang bercampur menjadi satu. Soobin adalah bayangan dirinya, sulit menahan emosi dan sering terbakar oleh amarahnya sendiri. "Aku tidak akan menamparmu kali ini!. Tapi kau harus belajar, Soobin," gumam Taehyung akhirnya, suaranya sedikit merendah. "Belajar bahwa kekerasan bukan jalan untuk menyelesaikan apa pun."

Soobin mengangguk, matanya berusaha menahan, Sementara Jeno tetap membisu, terjebak dalam rasa bersalahnya yang seolah membekukan lidahnya. Jaehyun masih diam, tapi tatapannya penuh makna sebuah peringatan tanpa kata-kata untuk semua yang ada di ruangan itu.

“minta maaflah pada jeno ,” ucap Taehyung, suaranya dingin. Soobin segera mematuhi perintah ayahnya tanpa ragu. Ia tahu, ketika Taehyung berbicara dengan nada seperti itu, tidak ada ruang untuk penolakan.

Soobin menghela napas, rasa takut bercampur rasa bersalah menyelimuti dirinya. Soobin tahu betul sifat ayahnya. Taehyung yang biasanya hangat dan humoris, yang gemar melempar candaan dan mencairkan suasana, kini berubah menjadi badai yang mengerikan ketika amarahnya tersulut. Bagi Soobin, tidak ada yang lebih menakutkan daripada menghadapi Taehyung dalam kondisi seperti ini.

“Jen, gue minta maaf. Maaf karena gue bersumbu pendek.  Gue nggak bisa nahan emosi gue,” ucap Soobin lirih, suaranya hampir tenggelam, tetapi cukup jelas untuk didengar semua orang di ruangan itu. Jeno menggelengkan kepala perlahan, bibirnya membentuk senyuman kecil yang lebih terasa seperti luka. “Gak apa-apa, Bin. Gue pantas dapetin semua ini. Harusnya gue yang minta maaf, bukan lo,” balas Jeno dengan suara serak, menahan beban yang bersarang selama ini didadanya.

Jung BeomgyuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang