Jeno melangkah perlahan menuju Beomgyu, yang tengah asyik membaca buku di taman belakang. Angin pagi yang lembut memainkan helai-helai rambut Beomgyu, membuatnya sesekali menutupi wajahnya. Namun, bahkan dengan rambut yang menghalangi, pesona lembut di wajah Beomgyu tetap terlihat jelas.
"Halo, jagoan kecil. Hari ini jadi anak baik ya nak? Jangan bikin Nda kesakitan, oke? Ayo kerjasama ama ayah hari ini" Jeno tersenyum lembut, suaranya penuh kehangatan. Ia berlutut di hadapan Beomgyu, tangannya terulur dengan hati-hati, mengusap lembut perut buncit Beomgyu, seolah berusaha menyampaikan cinta yang tulus pada kehidupan kecil di dalamnya.
"Iya... Ayaaah," jawab Beomgyu dengan nada manja, suaranya sengaja dibuat seperti anak kecil, memancing senyum hangat di wajah Jeno.
Namun, senyum itu perlahan memudar menjadi tatapan sendu. Jeno meraih wajah Beomgyu dengan lembut, ibu jarinya menghapus helaian rambut yang jatuh di pipi Beomgyu. "Kamu selalu bikin aku gemas, tapi juga selalu bikin aku khawatir," gumamnya lirih, seolah kata-kata itu lebih ditujukan untuk dirinya sendiri.
Tanpa bisa menahan diri, Jeno mengecup bibir Beomgyu singkat tapi penuh arti, seolah berharap bisa menyalurkan sedikit kekuatan dan cinta yang selama ini ia simpan dalam hatinya. Sementara itu, Beomgyu hanya terdiam, menatap Jeno dengan sorot mata yang seolah berkata bahwa ia merasakan hal yang sama.
Sejenak, suasana di antara mereka menjadi hening. Hanya suara angin yang berderu lembut menemani kedua insan yang masih saling melempar senyum. Hingga akhirnya, Beomgyu memecah keheningan dengan suaranya yang lembut namun manja.
"Kakak... Adek mau makan cheesecake," ucapnya sambil mengerjapkan matanya dengan ekspresi yang begitu menggemaskan.
Jeno tertawa kecil, lalu perlahan berdiri. Sebelum benar-benar bangkit, ia menyempatkan diri mencium punggung tangan Beomgyu yang sejak tadi ia genggam erat, seolah tak ingin melepasnya. "Apapun untuk kekasihku ini," ujarnya penuh kelembutan, sambil mencubit pelan pipi Beomgyu yang merona.
Namun saat Jeno mulai melangkah pergi, Beomgyu tiba-tiba menarik ujung bajunya, menghentikan langkahnya. "Kakak mau ke mana?" tanyanya dengan suara penuh keingintahuan, matanya yang besar menatap Jeno polos.
Jeno hanya tersenyum lembut, menatap Beomgyu dengan penuh cinta. "Ya, mau beli apa yang Adek mau," jawabnya dengan sabar.
Beomgyu kembali mengerjapkan matanya, kali ini dengan wajah yang semakin menggemaskan. "Adek ikut yaaa..." pintanya penuh harap, membuat Jeno tak bisa menahan tawa kecilnya. "Ayo, sayang. Kita pergi sama-sama," jawab Jeno akhirnya, meraih tangan Beomgyu dengan kehangatan yang tak pernah pudar.
Mark dan Sungchan berdiri di balkon kamar, membiarkan udara dingin menyapu wajah mereka. Dari tempat mereka berdiri, mata mereka tak lepas menatap dua sosok di bawah sana Jeno dan Beomgyu, yang berjalan beriringan mereka larut dalam tawa dan obrolan ringan. Suara mereka terlalu samar untuk didengar, tapi senyum mereka, pancaran kebahagiaan di wajah itu, terasa seperti teriakan yang menggetarkan hati.
“Gue… nggak pernah lihat Jeno sebahagia itu,” ucap Mark, suaranya rendah dan serak, hampir tenggelam oleh hembusan angin. Ada sesuatu yang berat dalam nada bicaranya kesedihan yang seolah tak mampu disembunyikan.
Sungchan menoleh, menatap Mark sejenak sebelum kembali memandang ke bawah. “Gue juga, Bang,” gumamnya pelan. “Itu senyum yang beda… tulus banget. Baru kali ini gue lihat dia kayak gitu.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Jung Beomgyu
Fanfiction✿꙳Completed꙳✿ Kamu tau apa yang aku inginkan? Sederhana saja Kebahagiaan hanya itu saja tidak lebih Warning!! GS area!! Mohon pertimbangkan sebelum membaca Terimakasih.
