Setelah Taehyung dan keluarganya kembali ke rumahnya , Taeyong duduk termenung di kamarnya. Semua ucapan menyakitkan dari Jeno terus terngiang di benaknya, membuat hatinya benar-benar hancur. Ia merasa telah gagal menjadi seorang ibu bagi Jeno.
Taeyong mengangkat wajahnya ketika mendengar suara pintu terbuka. Di sana, Jaehyun baru saja masuk ke kamar, membawa serta pergulatan batin yang baru saja ia taklukkan.
"Jae..." Suara Taeyong terdengar begitu lirih, namun cukup jelas untuk sampai ke telinga Jaehyun. "Lagi-lagi semua salahku..."
Jaehyun mendekat, menggenggam tangan Taeyong dengan lembut, menyalurkan kehangatan yang penuh kasih sayang. "Tidak sepenuhnya salahmu, Sayang," ucapnya lembut, menatap Taeyong yang tampak rapuh. "Kita sama-sama salah di sini."
Jaehyun menarik napas dalam, melanjutkan dengan suara yang bergetar. "Apa yang terjadi pada Jeno, Beomgyu, dan keluarga kita... Ini kesalahan kita berdua. Kita terlalu sibuk dengan ego kita masing-masing, terlalu terpaku pada kesalahan satu sama lain, hingga lupa melihat sekeliling. Maafkan aku..."
Taeyong menatap Jaehyun dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Tanpa berpikir panjang, ia merengkuh tubuh suaminya, memeluknya erat seolah itu bisa menyatukan kembali kepingan hatinya yang berserakan.
"Tidak, Jae..." bisiknya di sela isak tangis. "Aku yang tidak becus..."
Jaehyun menggeleng pelan, menatap Taeyong dengan mata penuh kesedihan. "Kamu ibu yang baik, Tae. Tapi kita harus berubah... Demi mereka."
Taeyong berdiri di depan pintu kamar Jeno dengan Jaehyun di sisinya. Genggaman lembut di tangannya dari Jaehyun memberikan sedikit rasa tenang, meskipun ketakutan terus mencengkeram hatinya. Taeyong takut, takut keberadaannya hanya akan semakin membebani putranya. Penyesalan membanjiri pikirannya, penyesalan atas perbuatannya, atas kelemahan yang ia anggap berasal dari penyakit yang dideritanya, yang seolah membuat semua orang di sekitarnya ikut menderita.
"Masuklah," ucap Jaehyun dengan suara pelan namun penuh dukungan. "Aku akan menunggumu di kamar Beomgyu."
Taeyong menatap suaminya dalam-dalam. Keraguan jelas tergambar di matanya, seolah mencari alasan untuk tidak melangkah. Namun, lagi-lagi Jaehyun menatapnya dengan senyum menenangkan dan sebuah anggukan kecil yang menyiratkan keyakinan.
"Kamu bisa, Tae," lanjut Jaehyun lembut. "Jeno butuh ibunya."
Dengan napas yang gemetar, Taeyong akhirnya mengangguk pelan. Genggaman Jaehyun di tangannya perlahan terlepas, memberi ruang baginya untuk melangkah. Tapi meski berjarak, kehangatan dari genggaman itu tetap tertinggal, seperti dorongan halus untuk melawan rasa takut yang menguasainya.
Jeno menatap bayangannya di cermin, tangannya perlahan mengoleskan salep pada luka di wajahnya. Ia mendesah pelan, mencoba mengabaikan rasa perih yang terasa di kulitnya. Namun, suara langkah yang tertahan membuatnya menoleh. Di ambang pintu, Taeyong berdiri, matanya sembab, tubuhnya terlihat rapuh.
"Bubu..." suara Jeno bergetar, memecah keheningan di antara mereka.
Langkah Taeyong perlahan mendekat, tapi seperti ada beban tak kasat mata yang menghalangi. Tatapannya dipenuhi penyesalan yang mendalam, seperti hendak menyampaikan sesuatu yang sulit diungkapkan.
Jeno, yang kebingungan melihat ekspresi bubunya, hanya diam. Ia menunggu, mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Hingga akhirnya, Taeyong meraih tubuhnya, memeluknya erat.
"Maafkan Bubu... Maaf karena selama ini Bubu banyak melukaimu," suara Taeyong pecah oleh isakan. "Bubu terlalu sering membuatmu terluka... Bubu... ibu yang buruk."
KAMU SEDANG MEMBACA
Jung Beomgyu
Fanfiction✿꙳Completed꙳✿ Kamu tau apa yang aku inginkan? Sederhana saja Kebahagiaan hanya itu saja tidak lebih Warning!! GS area!! Mohon pertimbangkan sebelum membaca Terimakasih.
