🍒75

1.4K 48 16
                                        





Di luar ruangan, Taeyong dengan tangan gemetar membersihkan luka di telapak tangan Beomgyu. Alkohol menyentuh kulit, membuat wanita muda itu meringis kecil, tetapi ia tidak bersuara. Di sisi lain, Jungkook yang lebih tegar menyeka luka di leher Beomgyu dengan gerakan lembut namun cekatan.

“Nak… jangan pernah lakukan ini lagi… Bubu takut kehilanganmu…” bisik Taeyong, suaranya bergetar, hampir tak terdengar. Air matanya mengalir tanpa henti, membasahi pipinya. Hatinya terhimpit kenangan akan kejadian serupa di masa lalu yang menghantui kembali menghantamnya. Beomgyu pernah berbuat nekat di depan matanya, dan kini, semuanya terasa lebih mencekam.

“M-maaf, Bubu…maaf mama...” jawab Beomgyu lirih. Suaranya serak, penuh rasa bersalah.

Setelah selesai membersihkan luka, Jungkook menangkup wajah Beomgyu dengan kedua tangannya. Ia menatap putrinya dengan mata yang dipenuhi kasih dan ketegasan. “Janji, Sayang. Jangan lakukan hal nekat seperti ini lagi. Demi Mama… demi Bubu… dan demi Sion,” ucapnya dengan lembut.

Beomgyu hanya mengangguk, lemah, menyetujui ucapan kedua ibunya.

Namun, matanya tiba-tiba melesat mencari sosok kecil yang selalu mengisi dunianya. “Bubu… Mama… Sion di mana?” tanyanya panik, hampir tanpa jeda.

“Tenang, Nak. Sion aman. Dia bersama Lucas dan Johnny,” sahut Jungkook, mencoba menenangkan hati putrinya. Mendengar itu, Beomgyu menghela napas lega.

Tak lama kemudian, Namjoon muncul bersama anak buahnya, menggiring Chanyeol dan antek-anteknya menuju mobil. Langkah Chanyeol terhenti sejenak saat pandangannya bertemu dengan Beomgyu. Wajah tuanya terlihat keras, namun matanya penuh sorot yang tak dapat ditebak. Beomgyu segera mengalihkan pandangannya, tidak ingin terperangkap dalam tatapan itu.

“Ayo jalan,” perintah Namjoon dingin, membuat Chanyeol kembali melangkah tanpa kata.

Setelah kepergian mereka, Baekhyun keluar dari gedung bersama Taehyung, Soobin, dan Jaehyun yang memapah satu sama lain. Jaehyun menggandeng kedua putranya erat, sementara Baekhyun berjalan paling depan, tatapannya langsung tertuju pada Beomgyu.

“Aigoo… cucuku sangat cantik. Bodoh sekali tua bangka itu,” ucap Baekhyun geram, merujuk pada suaminya, Chanyeol. Ia mendekati Beomgyu, tangan lembutnya leher dan telapak tangan Beomgyu yang penuh luka. “Sakit, Nak?” tanyanya lembut.

Beomgyu menggeleng pelan, meskipun hatinya merasa asing. Ia tahu wanita ini ibu dari ayahnya. Namun kehangatan itu terasa begitu jauh.

Baekhyun mengalihkan pandangannya pada Taeyong. “Kau Taeyong, bukan?” tanyanya.

Taeyong mengangguk, dan Baekhyun menggenggam tangannya erat. “Terima kasih sudah membesarkan cucuku,” ucapnya tulus.

Taeyong tersenyum tipis, matanya kembali berkaca-kaca. “Bibi… jangan berterima kasih pada saya. Suami saya yang membesarkannya dengan penuh cinta,” jawabnya. Baekhyun hanya mengangguk sambil melirik Jaehyun di kejauhan. “Ah, putra Yunho itu…” gumamnya pelan.

“Eomma, sebaiknya kita pulang. Kita harus merawat mereka. Sion juga menunggu,” ujar Jungkook sembari menunjuk ke arah para pria yang baru saja keluar dari dalam gedung. Baekhyun mengangguk, setuju.

Namun, Beomgyu tiba-tiba terlihat gelisah. Matanya mengedar ke seluruh ruangan, mencari seseorang. Tidak, dia tidak berhalusinasi… Tadi dia melihat Jeno, bukan?

Hatinya mencelos saat tak menemukan sosok itu. Tapi kemudian, di belakang Jaehyun dan kedua saudaranya, ia menangkap bayangan yang dikenalnya. Senyumnya perlahan merekah, dan ia langsung berlari ke arah Jeno, membuat semua orang terkejut.

Jung BeomgyuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang