74

724 91 6
                                        

Di meja makan besar keluarga Kim, hanya ada tiga kursi yang terisi. Son Ye Jin, Kim Hyun Bin, dan Rose. Piring-piring yang berisi hidangan malam teronggok begitu saja, sementara ruang makan terasa kosong tanpa kehadiran tiga orang lainnya.

"Jisoo belum pulang juga?" son ye jin membuka suara.
"Dia pasti masih sibuk dengan pekerjaan di kantornya. Aku rasa, ini sudah menjadi kebiasaan baru baginya" kim hyu bin menjawab.

Rose melirik jam dinding, wajahnya penuh kecemasan. "Sudah pukul sepuluh malam. Dulu, sebelum dia menjadi begitu sibuk, makan malam adalah waktu yang tidak pernah kami lewatkan bersama".

Son Ye Jin menghela napas panjang. "Aku khawatir dengan Jisoo. Dia terlalu memaksakan diri".

Rose menunduk, mengingat semua malam yang telah berlalu tanpa bisa menghabiskan waktu bersama kakaknya.

"Setiap malam, sehun oppa melihatnya di kantor, menyelesaikan pekerjaan sampai larut malam. Aku tahu dia berusaha keras, tapi kesehatan tubuhnya bisa terganggu, terutama jika ini terus berlangsung" rose.

Jennie yang baru saja pulang dari rumah sakit, masuk ke ruang makan dan mendengar percakapan mereka. Wajahnya terlihat cemas dan lelah, namun ada sesuatu yang lain yang juga mengganggunya.

"Aku baru saja melihat Jisoo eonni di kantor. Dia hampir tidak menyadari aku datang karena terlalu tenggelam dalam pekerjaannya" jennie duduk di salah satu kursi kosong.

Son Ye Jin menggelengkan kepala. "Eomma khawatir dia tidak makan dengan benar. Waktu sarapan atau makan siang pun sering dilewatkan demi rapat atau meeting mendadak".

"Itu yang membuatku semakin khawatir eomma. Kami berdua, Rose dan aku juga bekerja di bidang medis, dan kami tahu betul bahwa pola makan yang buruk serta tidur yang tidak teratur akan mempengaruhi kesehatan dalam jangka panjang".

Rose menatap ibunya "Aku tahu, eomma. Tapi bagaimana kalau kita coba bicara dengan Jisoo eonni? Mungkin dia tidak sadar sudah terlalu melupakan rutinitas kita".

Son Ye Jin mengangguk "Kita harus bicara dengannya sebelum semuanya terlambat".

°°°

Malam itu, setelah selesai rapat panjang yang tak kunjung usai, Jisoo akhirnya merapikan dokumennya. Sambil memeriksa ponselnya, dia melihat beberapa pesan masuk dari ketiga adiknya.

Chaeyoungie🐿️
Eonni, sudah malam. Jangan lupa makan. Jangan sampai jatuh sakit karena terlalu bekerja keras.

Jendeukie🐻
Eonni, kenapa kau masih belum pulang? Aku khawatir. Tidur yang cukup itu penting.

Lily🐣
Eonni, jangan terlalu memaksakan diri. Aku merindukan jisoo eonniku yang dulu.

Jisoo hanya menghela napas, membalas pesan mereka dengan cepat. "Tenang saja. Aku baik-baik saja. Hanya ingin menyelesaikan beberapa pekerjaan".

Namun, setelah menekan tombol kirim, rasa bersalah mulai merayapi hatinya.

"Kenapa aku jadi seperti ini? Dulu aku selalu ada untuk mereka… Tapi sekarang, aku malah terjebak dalam rutinitas ini" ucapnya dalam hati.

Saat itu, Minji, asisten Jisoo, masuk ke ruangan dengan wajah cemas.

"Sajangnim, sudah sangat larut. Kalau boleh saya sarankan, istirahatlah. Masih banyak pekerjaan yang bisa ditunda" ucap minji.

Jisoo menggelengkan kepala. "Aku tidak bisa, Minji. Banyak hal yang perlu diselesaikan. Aku harus memastikan semua berjalan lancar".

Minji menatapnya dengan khawatir. "Sajangnim, saya sangat menghormati dedikasi Anda, tapi saya khawatir dengan kesehatan Anda. Anda sudah bekerja berjam-jam, tanpa makan dengan baik. Istirahatlah sedikit".

Jisoo hanya tersenyum kecil. "Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah memperhatikan".

Namun, Minji tidak bisa menghilangkan kekhawatirannya. Dia keluar dengan ragu, meninggalkan Jisoo sendirian di ruangannya yang gelap.

Malam itu, Jisoo kembali larut. Keluarganya sudah tidur ketika ia sampai di rumah. Ia berdiri di depan ruang makan, menatap kursi kosong di meja makan besar yang biasanya selalu penuh dengan tawa dan cerita. Ia merasakan seberkas penyesalan yang mengalir begitu dalam.

Namun, untuk kali ini, Jisoo tahu ia harus memilih pekerjaannya. Ia tidak ingin mengecewakan investor dan merusak apa yang sudah ia bangun. Keputusan itu mungkin akan terus membebaninya, tetapi saat itu, ia merasa tidak ada pilihan lain.

°°°

Keesokan harinya, jisoo lagi-lagi melewatkan sarapan pagi bersama pasalnya ia harus menghadiri rapat penting dari beberapa investor di perusahannya.

"Appa, tidak bisakah kau membuat jisoo eonni berhenti dari pekerjaannya?" tanya lisa di sela-sela makannya.
"Bisa saja, tapi appa tidak mungkin melakukannya nak" kim hyu bin berucap lembut.

"Wae?".
"Bagaimana mungkin appa menghancurkan karir anak appa sendiri".

"Tidak masalah appa, lagian jisoo eonni masih bisa bekerja di perusahaan appa kan?" rose berucap.
"Kau tahu sendiri eonnimu tidak akan suka hal ini".

"Aku setuju dengan mereka appa. Buat saja perusahaan eonni bangkrut, dengan itu ia tidak perlu lagi bekerja terlalu keras seperti ini" jennie ikut nimbrung.
"Ada apa dengan kalian? kalian ingin membuat karir kakak kalian hancur?" son ye jin rasanya sulit untuk berkata-kata.

"Ini terpaksa eomma. Lagian jisoo eonni tidak akan berhenti sebelum perusahaan sialan itu hancur".
"Jennie ya" kim hyun bin menggeleng ke arah putri keduanya itu.

"Mianhae, aku hanya kesal dengan tingkah jisoo eonni".
"Dengarkan, appa tidak mungkin menghancurkan karir putri appa sendiri. Appa yakin kakakmu akan kembali seperti dulu, maka dari itu kalian harus turut andil dalam hal ini".

Ketiganya tampak terdiam memikirkan ucapan ayahnya itu.

"Jisoo sangat menyayangi kalian, hanya saja ia tidak bisa melepaskan tanggung jawab di perusahannya sayang" son ye jin menambahkan.
"Kami tahu eomma. Yang sangat kami sayangkan itu kenapa sikapnya harus berubah? bukankah dia memimpin perusahannya sejak lama dan ia masih tetap meluangkan waktunya untuk kami?.

"Jennie eonni benar. Jisoo eonni berubah sejak ia keluar dari rumah sakit saat itu" lisa ingat betul saat di mana sang kakak mendapatkan luka tembak yang mengharuskannya untuk terbaring di rumah sakit dan setelah sembuh dia menjadi pribadi yang sangat menggilai dunia kerja.

Mereka pun terus mengobrol dengan jisoo yang menjadi topik utamanya.

°°°

Keluarga KimTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang