62

913 94 2
                                        

Hari demi hari berlalu, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu oleh jisoo tiba.

"Eonni, kau benar-benar tidak merasakan nyeri lagi kan?" tanya jennie kembali.
"Ne, kau sudah menanyakan itu sedari tadi jennie ya".

"Aku hanya memastikan, lagian kau kan sering bohong" celetuk jennie.
"Mwo? Bisa-bisanya berkata seperti itu kepada kakak sendiri".

Jennie tampak bodoh amat, ia kembali menyiapkan beberapa barang jisoo untuk di bawa kembali ke mansion.

"Eonni, mobilnya sudah siap" sosok rose muncul dan menghampiri keduanya.
"Arraseo" jisoo dan jennie berjalan beriringan menuju pintu keluar, begitupun dengan rose.

"Biar aku yang membawanya eonni" ucap rose saat ketiganya berada di dalam lift.
"Gwenchana, biar aku chaeng" jennie tampaknya tidak merasa terbebani dengan barang bawaannya.

Rose pun mengangguk mengerti.

Tidak lama, pintu lift terbuka dan tanpa menunggu lama ketiganya segera melangkah keluar menuju ke tempat parkir.

"Kau sendiri saja?" tanya jisoo.
"Ne, lisa sedang mengerjakan sesuatu dan appa eomma menunggu di rumah seperti permintaan eonni".

"Ahh arraseo".

Mereka pun masuk ke dalam mobil.

"Eonni, tidak bisakah salah satu diantara kalian duduk di depan?" tanya rose.
"Memangnya kenapa?" tanya jisoo.

"Aku terlihat seperti supir kalau begini" cemberutnya.
"Aigoo" jennie tidak bisa menahan kekehannya, begitupun dengan jisoo.

"Jangan tertawa, cepatlah ke depan eonni".
"Kau ingin duduk di depan eonni?" tanya jennie.

"Ani" tolak jisoo.
"Jadi gimana dong? aku juga tidak ingin duduk di depan".

"Kalau begitu aku tidak ingin menyetir".
"Cepatlah ke depan jennie ya".

"Arra" jennie pun segera berpindah posisi ke depan, tepat di samping rose.
"Nah begitu dong" rose pun kembali tersenyum dan segera melajukan mobilnya.

°°°

Setengah jam berlalu, mobil milik rose tiba di mansion kim. Ketiganya pun melangkah masuk.

"Surprise" persis ketika membuka pintu, terdengar suara ledakan kecil dan kertas warna-warni beterbangan.
"Yak kim lisa! Kau membuat jantungku berdegup kencang" ucap jennie.

"Hahaha mianhae eonni, lagian kau kan dokter jadi bukan masalah besar kan?".
"Terserah kau sajalah".

"Sekarang kita makan ya" ajak sang ibu.
"Ne eomma".

"Woah, kenapa makanannya banyak sekali?" tanya jisoo.
"Untuk merayakan kepulangan eonni. Dan pastinya sangat spesial karena aku dan eomma yang membuatnya".

"Jinja? Aku merasa ragu" ucap rose.
"Benar kok, tanyakan saja pada eomma".

"Benar eomma? Lisa membantumu membuat semuanya?" tanya rose.
"Hmm" sang ibu hanya tersenyum.

"Hahaha melihat respon eomma, itu semakin memperjelas" ucap jennie.
"Kau benar eonni" timpal rose.

"Aisss kenapa tidak ada yang mempercayai omonganku?".
"Eonni percaya kok, jadi makanlah eoh?" jisoo memilih untuk menghentikan perdebatan kecil itu.

Mereka terus makan sambil berbincang santai tentang berbagai hal.

"Omong-omong, appa di mana?" tanya jisoo kepada sang ibu.

"Ahh eomma lupa memberitahu. Appa kalian mendapatkan telepon dari kantor cabang Dubai tadi".

"Belum beres?".
"Ne, sebenarnya masalahnya belum benar-benar tuntas, jadi appa kalian terpaksa harus terbang ke sana tadi. Dia meminta maaf karena tidak bisa ikut menyambut kepulanganmu nak".

"Gwenchana eomma, itu tidak masalah. Apa aku perlu membantu appa untuk menyelesaikan masalah di Dubai?".
"Aniyo" bukan sang ibu, melainkan ketiga adiknya yang menjawab kompak.

"Aku tidak berbicara dengan kalian".
"Pokoknya tidak, kau baru sembuh eonni dan tidak boleh terlalu kecapean".

"Aku hanya berniat membantu appa kok".
"Tetap tidak boleh, lagian appa bisa menyelesaikan masalahnya sendiri".

"Arraseo, kalau begitu aku ke kamar dulu ya?".
"Mau apa?" tanya jennie, pasalnya setelah selesai makan mereka biasanya akan bersantai di ruang tengah.

"Adalah, nanti aku turun kembali" jisoo segera beranjak dari duduknya dan melangkah ke arah tangga.
"Pasti dia ingin menelpon" ucap lisa.

"Menelpon?" tanya rose heran.
"Ne, dia pasti terpikirkan dengan perusahannya".

"Ahh kau benar, kalau begitu aku ke atas dulu" pamit jennie.
"Aigoo, kurasa jennie eonni tidak akan membiarkan jisoo eonni bekerja dalam waktu dekat ini".

"Itu harus, jisoo eonni perlu istirahat agar kondisinya pulih total".
"Arraseo".

"Eonni" panggil jennie ketika tidak melihat sosok jisoo.

"Sehun ah, bagaimana keadaan kantor? Kau tidak mengacau kan?" ia menyelipkan sedikit candaan.
"Sangat kacau, kau harus siap-siap bangkrut sebentar lagi jisoo ya" timpal sehun di seberang telpon.

"Omo, seharusnya aku tidak mempercayai dirimu sedari awal".
"Kau baru menyadarinya".

Mereka terus saja saling menimpali candaan satu sama lain.

"Omong-omong, bagaimana dengan kontrak kerja sama dengan perusahaan paris itu?".
"Tetap berjalan, mereka tetap menunggu dirimu kembali".

"Syukurlah, kukira mereka membatalkannya".
"Tidak mungkin".

"Kau benar".

"Eonni, aku mencarimu sedari tadi" jennie tampak sedikit kesal.
"Ahh mianhae jennie ya, eonni hanya ingin bersantai di balkon sebentar".

"Siapa?" tunjuk jennie ke arah telepon.
"Sehun".

"Ahh kebetulan sekali" tanpa aba-aba, jennie merebut ponsel milik jisoo.
"Apa yang~".

"Halo oppa, aku hanya ingin memberitahu jika waktu cuti jisoo eonni akan diperpanjang karena dia harus fokus istirahat sampai waktu yang tidak ditentukan eoh?".
"Jennie ya?".

"Ne oppa, aku minta tolong untuk tetap menghandle pekerjaan kantor sampai jisoo eonni kembali bekerja".
"Arraseo, kau tidak perlu khawatir".

Tidak lama, sambung telepon itu terputus.

"Apa yang kau katakan barusan?"
"Apa eonni?".

"Kenapa kau berbicara tentang cuti yang di perpanjang, aku sudah kembali dan baik-baik saja sekarang".
"Benarkah? Tapi sebagai dokter pribadimu, aku belum memperbolehkan dirimu untuk kembali bekerja".

"Kenapa begitu? Aku sudah sehat dan akan kembali bekerja besok".
"Oo tidak bisa eonni".

"Pokoknya eonni akan kembali bekerja besok, pekerjaan eonni sudah menumpuk di kantor".
"Sekali tidak, tetap tidak" jennie beranjak dari duduknya dan melangkah masuk ke kamar.

"Jennie ya" panggil jisoo yang ikut menyusul ke dalam.
"Kau istirahat saja dan bersantai di mansion eonni. Lagian ini juga untuk kebaikanmu".

"Tidak bisa jennie ya, orang kantor sudah bekerja terlalu keras karena tidak ada diriku".

Jennie tidak menanggapi, ia melangkah ke arah pintu keluar.

"Kim jennie" teriak jisoo, tapi lagi-lagi adiknya itu tampak bodoh amat dan tetap berjalan keluar kamar hingga sosoknya hilang.

°°°

Note
Cerita ini jarang update dikarenakan beberapa hal yang harus saya lakukan di kehidupan sehari-hari, untuk itu saya meminta maaf dan terimakasih kepada para pembaca yang masih setia menunggu. Sabar-sabar yaa🙃🙏

Keluarga KimTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang