Pagi hari, tepatnya pukul tujuh pagi. Jisoo terbangun dari tidurnya karena suara ponsel yang terus berdering.
"Aisss siapa sih" kesalnya. Dengan malas ia menjulurkan tangannya ke nakas di sisi tempat tidur, menggapai handphonenya.
"Yeoboseyo" ia menjawab tanpa melihat nama penelpon.
"Eonni sudah bangun?".
"Ahh jennie ya. Ada apa?" walaupun masih setengah sadar, ia tetap mengenali suara sang adik.
"Kenapa tidak memberitahu kami tentang keberangkatan eonni ke paris?".
"Ini mendadak, jadi aku tidak sempat mengabari kalian. Lagian appa sudah mengetahuinya".
"Ya terus? bukankah kau juga wajib memberitahukan kepada kami?".
"Hmm arraseo".
"Apa-apaan dengan respon eonni?".
"Memangnya aku harus mengatakan apa jennie ya? jangan terus mengomel".
"Kenapa kau jadi menyebalkan begini? kau tidak sadar jika belakangan ini telah mengabaikan kami karena pekerjaan?".
"Aku hanya menjalankan kewajibanku. Kau tahu pekerjaanku sangat menumpuk akibat cuti yang cukup lama".
"Molla, aku hanya ingin kau memperhatikan kesehatan dirimu. Kami sangat khawatir jika sesuatu terjadi kepada eonni".
"Aku mengerti. Gomawo telah memperhatikan eonni".
"Kalau begitu aku tutup ya? nanti malam aku telepon lagi".
"Ne?" jisoo tentunya bingung dengan ucapan sang adik pasalnya mereka sedang berada di negara yang memiliki perbedaan waktu sekitar 8 jam.
"Pokoknya eonni harus menjawabnya" tekan jennie sebelum menutup teleponnya.
"Arraseo" pasrahnya.
Sambungan telepon itu pun terputus.
Jisoo menyimpan asal handphonenya dan kembali menikmati tidurnya. Ia tidak memiliki kegiatan pagi ini, hanya rapat di sore hari nanti.
°°°
Seorang pria tengah berada di salah satu kedai hot pot yang sangat terkenal di paris.
"Kau tidak bekerja?" tanya sang pemilik kedai yang hendak membuka kedainya.
"Ne, aku ingin membantu halmoni hari ini".
"Tidak usah, aku punya karyawan. Urus saja pekerjaanmu".
"Aku tidak punya kegiatan hari ini halmoni".
"Terserahmu lah" sang nenek kembali melanjutkan kegiatannya.
Eunwoo pun bergegas membantu para karyawan mempersiapkan alat dan bahan serta merapikan kedai tersebut.
"Halmoni" eunwoo menghampiri sang nenek ketika sudah selesai.
"Ne".
"Aku dan jisoo berpacaran".
"Mworago?".
"Kenapa terkejut begitu?".
"Bagaimana bisa dia menjalin hubungan dengan seorang pria sepertimu? kau tidak berbuat hal-hal aneh kan?".
"Halmoni! apa yang salah denganku eoh? aku tampan, kaya, baik, sopan, pengertian, dan pastinya setia".
"Kau percaya diri sekali ya? semoga saja jisoo segera sadar".
"Ya halmoni! aku serius".
"Arraseo, cukkae. Halmoni turut berbahagia mendengarnya" akhirnya sang nenek merespon serius.
"Gomawo halmoni" eunwoo pun memeluk sang nenek.
"Kapan kalian berpacaran?".
"Dua minggu lalu".
"Bukankah kau ke korea beberapa bulan lalu? kenapa hubungan kalian baru dua mingguan?".
"Ya saat itu kami belum berpacaran. Aku baru menembaknya saat hendak kembali ke paris, itupun dia tidak langsung menjawabnya".
"Lalu bagaimana kalian berpacaran?".
"Molla, aku hanya menghubungi dia untuk menanyakan kabarnya saat itu. Tanpa kuduga dia memberikan jawaban akan ungkapan perasaanku dulu".
"Ahh untunglah. Jisoo di mana sekarang?".
KAMU SEDANG MEMBACA
Keluarga Kim
Hayran KurguKim hyu bin dan son ye jin adalah sepasang suami istri yang terkenal karena kekayaannya yang melimpah. Mereka merupakan orang nomor satu yang berpengaruh dalam dunia bisnis di Korea Selatan. Keduanya di karuniai empat orang putri yang tumbuh dewasa...
