Malam itu, Lisa, Rose, dan Jennie duduk di ruang tamu mansion. Wajah mereka tampak sedikit kesal, dengan tatapan yang penuh keluhan.
"Jisoo eonni benar-benar sudah berubah" ucap lisa.
"Ya, sejak perusahaannya berkembang pesat, dia hampir tidak pernah punya waktu untuk kita" jennie menanggapi.
"Dulu dia selalu menjadi orang pertama yang ada untuk kita. Sekarang? Bahkan balas chat saja hanya 'Oke' atau 'Nanti aku hubungi'." ucap rose.
Lisa menopang dagunya dengan kedua tangan. "Aku merasa kita bukan prioritasnya lagi".
Jennie menghela napas panjang. "Aku juga merasa seperti itu. Waktu aku kelelahan setelah operasi panjang di rumah sakit, aku ingin bercerita padanya. Tapi dia hanya menjawab, 'Wah, pasti capek ya. Aku juga lagi banyak meeting. Semangat ya, Jennie'."
Rose menunduk, memainkan ujung rambutnya. "Dia bahkan tidak mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku".
"Jeongmal?" jennie tampaknya amat terkejut akan penuturan rose.
Mereka memang tidak melakukan perayaan ulang tahun karena kesibukan masing-masing, tapi ucapan selamat hari jadi tidak pernah terlupakan di antara mereka. Semalam, tepatnya pukul dua belas malam, satu persatu anggota keluarganya menghampiri kamar rose dan mengucapkan selamat ulang tahun dan tidak lupa memberikan kado. Hanya sosok jisoo yang tidak terlihat tapi mereka berusaha untuk memaklumi karena pastinya dia pulang larut dan sangat lelah.
Lisa menggelengkan kepala. "Kita harus bicara dengannya".
Jennie dan Rose saling berpandangan, lalu mengangguk.
°°°
Keesokan harinya, mereka bertiga datang ke kantor Jisoo tanpa pemberitahuan. Begitu masuk ke lantai utama, para pegawai tampak sibuk mondar-mandir dengan dokumen dan laptop mereka. Sekretaris Jisoo, Minji, menghentikan mereka di depan pintu.
"Maaf, sajangnim sedang sangat sibuk hari ini. Kalian sudah membuat janji?".
Lisa menatap Minji tak percaya. "Serius? Kami adiknya".
"Aku tahu, tapi~"
"Minji-ssi, kami hanya butuh lima menit. Kami harus bicara dengannya" jennie angkat bicara.
Minji terlihat ragu, tetapi akhirnya mengetuk pintu ruangan Jisoo.
"Sajangnim, adik-adik Anda ingin bertemu".
Dari dalam, terdengar suara Jisoo yang jelas terdengar lelah.
"Aku sedang rapat. Suruh mereka menunggu"
Lisa mendecak kesal. "Astaga, ini bahkan lebih parah dari yang kuduga".
Rose tidak tahan lagi. Dia membuka pintu ruangan Jisoo tanpa izin dan masuk. Jennie dan Lisa mengikuti dari belakang.
Di dalam, Jisoo sedang duduk di balik meja dengan setumpuk dokumen dan laptopnya terbuka. Dia menghela napas saat melihat mereka.
"Apa yang kalian lakukan? Aku sedang bekerja".
Lisa melipat tangan di dada. "Kapan terakhir kali kita ngobrol seperti dulu, eonni?".
Jennie ikut menambahkan. "Kapan terakhir kali kau mengajak kami makan malam? Atau sekadar menelepon untuk menanyakan kabar?".
Rose, yang biasanya tenang, kini menatap Jisoo dengan ekspresi sedih. "Kau bahkan lupa ulang tahunku, Jisoo eonni".
Jisoo terdiam. Dia menatap adik-adiknya satu per satu, lalu mencoba mengingat sesuatu.
"Kemarin? Bukankah... ulang tahunmu masih bulan depan?".
"Itulah masalahnya! Kau bahkan tidak ingat!" jennie tidak bisa menahan amarahnya.
Ruangan itu hening. Wajah Jisoo berubah, terlihat menyesal.
"Dulu kau selalu ada untuk kami, eonni. Saat aku pertama kali ikut kompetisi desain, kau begadang hanya untuk melihat presentasiku. Saat Jennie eonni kelelahan karena koas di rumah sakit, kau membawakannya makanan favoritnya. Saat chaeyoung menangis karena pertama kali gagal operasi, kau memeluknya dan mengatakan dia akan jadi dokter hebat. Dulu, kami adalah prioritasmu. Sekarang?" lisa menatap kecewa.
Jennie melanjutkan, suaranya sedikit bergetar. "Sekarang kami hanya orang-orang yang kau balas chat dengan satu kata".
Jisoo merasa hatinya mencelos. Dia tahu pekerjaannya telah menghabiskan hampir seluruh waktunya, tetapi dia tidak menyadari seberapa banyak dirinya telah menjauh dari keluarganya.
Dia berdiri, berjalan mendekati mereka, lalu menghela napas. "Maafkan aku..."
Jennie masih kesal. "Kau selalu sibuk, eonni. Aku mengerti kau CEO dan kau harus bekerja keras. Tapi bukankah kita tetap keluargamu?"
Jisoo menatap mata mereka satu per satu. Dia bisa melihat luka yang telah ia ciptakan tanpa sadar. Dia merasa seperti orang yang gagal, bukan sebagai CEO, tetapi sebagai kakak.
"Aku benar-benar minta maaf... Aku tidak sadar sudah sejauh ini dari kalian".
Rose, yang paling lembut hatinya, akhirnya melembutkan ekspresinya. "Eonni... kami tidak butuh kau setiap saat. Kami hanya ingin tahu bahwa kami masih penting bagimu".
Jisoo menatap mereka dengan penuh penyesalan, lalu mengangguk. "Kalian selalu penting bagiku. Aku berjanji, mulai sekarang aku akan memperbaiki semuanya".
Lisa mendengus kecil. "Eonni, jangan hanya bilang. Buktikan".
Jisoo tersenyum, lalu membuka kalender di laptopnya dan dengan cepat mengetik sesuatu.
"Oke, aku baru saja memblokir waktuku besok malam. Aku akan mengajak kalian bertiga makan malam di tempat favorit kita. Tidak ada laptop, tidak ada telepon kantor".
Jennie menaikkan alisnya. "Janji?"
Jisoo mengangguk tegas. "Janji".
Rose tersenyum kecil. "Baiklah... kami pegang janjimu".
Lisa akhirnya tersenyum juga. "Kalau kau berani batal, kami akan menyerbu kantormu lagi".
Jisoo tertawa kecil, lalu menarik ketiga adiknya ke dalam pelukan erat. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, dia merasa seperti Jisoo yang dulu. Bukan hanya seorang CEO, tetapi seorang kakak yang mencintai adik-adiknya lebih dari apa pun.
Mereka bertiga memeluknya balik. Untuk sesaat, mereka kembali menjadi keluarga kecil yang selalu saling mendukung, tanpa batasan waktu dan pekerjaan.
Jisoo berjanji, dia tidak akan membiarkan dirinya terjebak dalam kesibukan hingga melupakan orang-orang yang paling berharga baginya.
°°°
KAMU SEDANG MEMBACA
Keluarga Kim
FanfictionKim hyu bin dan son ye jin adalah sepasang suami istri yang terkenal karena kekayaannya yang melimpah. Mereka merupakan orang nomor satu yang berpengaruh dalam dunia bisnis di Korea Selatan. Keduanya di karuniai empat orang putri yang tumbuh dewasa...
