77

1.5K 101 15
                                        

Setelah beberapa hari beristirahat total di mansion, Jisoo akhirnya merasa lebih baik. Dengan dukungan penuh dari adik-adiknya dan pengawasan ketat mereka, dia mulai kembali beraktivitas, tetapi dengan ritme yang lebih sehat.

Pagi itu, saat ia turun ke ruang makan, dia melihat Rose, Jennie, dan Lisa sibuk menyiapkan sesuatu. Aroma wangi roti panggang dan kopi memenuhi ruangan.

"Kenapa pagi-pagi sudah ramai?" tanya Jisoo, menarik kursi dan duduk.

Jennie menatapnya sambil mengaduk sup di atas kompor. "Kami ingin memastikan kau sarapan dengan benar sebelum kembali ke kantor."

Lisa duduk di meja dengan ekspresi puas. "Dan ada sesuatu yang harus kami diskusikan."

Jisoo menatap mereka dengan curiga. "Apa lagi kali ini? Jadwal baru? Larangan kerja lebih dari 5 jam?"

Rose tertawa kecil dan duduk di sebelahnya. "Bukan. Kami ingin mengadakan makan malam keluarga di taman mansion seperti dulu."

Jisoo mengangkat alis. "Makan malam keluarga?"

Jennie mengangguk. "Appa yang mengusulkan ini. Dia ingin kita semua berkumpul lagi, bukan hanya kita berempat, tapi juga pacar-pacar kita."

Lisa tersenyum lebar. "Beruntungnya, Eunwoo oppa sedang di Korea, dan Jungkook baru saja tiba dari Paris" eunwoo memang berkunjung ke mansion untuk menjenguk jisoo.

Jisoo tersenyum, mengerti ke arah pembicaraan ini. "Itu ide yang bagus".

Namun, sebelum dia bisa menikmati rencana tersebut, Jennie menghela napas panjang. "Masalahnya, appa juga menyuruhku untuk menghubungi Taehyung."

Lisa menahan tawa, sementara Rose menatap Jennie dengan ekspresi penuh arti.

Jisoo tertawa pelan. "Dan kau menolak?"

"Tentu saja!" Jennie bersedekap, tampak kesal. "Kami bahkan tidak memiliki hubungan apa pun. Aku tidak mengerti kenapa appa ingin aku mengundangnya".

Lisa menyenggol lengannya. "Jennie eonni, semua orang tahu bagaimana perasaan Taehyung oppa padamu. Kau saja yang pura-pura tidak sadar."

Jennie mendengus. "Dia mungkin menyukaiku, tapi itu tidak berarti aku harus mengundangnya ke makan malam keluarga!"

Rose menatapnya lembut. "Jennie eonni... mungkin ini saatnya kau memberi kesempatan pada dirimu sendiri."

Jisoo mengangguk setuju. "Lagi pula, apa salahnya? Hanya makan malam, bukan pernikahan".

Jennie menghela napas panjang, lalu mengambil ponselnya. "Baiklah... aku akan menghubunginya. Tapi kalau dia menolak, jangan salahkan aku."

Lisa terkikik. "Percayalah, dia pasti langsung datang bahkan sebelum kau selesai bicara".

Jisoo tersenyum, melihat ketiga adiknya begitu bersemangat. Setelah sekian lama sibuk dengan kehidupan masing-masing, akhirnya mereka bisa kembali berkumpul dalam suasana yang hangat.

Malam itu akan menjadi malam spesial dan mungkin, penuh kejutan yang tidak terduga.

°°°

Malam itu, taman belakang mansion keluarga Kim berubah menjadi tempat yang indah dengan lampu-lampu kecil yang menggantung di antara pepohonan. Meja panjang telah disiapkan dengan berbagai hidangan favorit keluarga. Aroma masakan menguar di udara, menciptakan suasana yang nyaman dan penuh nostalgia.

Son Ye Jin dan Kim Hyun Bin duduk berdampingan di ujung meja, tersenyum puas melihat anak-anak mereka berkumpul.

Jennie duduk dengan ekspresi sedikit canggung. Meski ia masih setengah hati mengundang Taehyung, pria itu datang dengan penuh semangat, membawa sebuket bunga mawar putih untuknya.

"Kau benar-benar berlebihan," bisik Jennie saat menerima bunga itu.

Taehyung tersenyum santai. "Setidaknya aku tidak datang dengan tangan kosong".

Lisa dan Jungkook duduk bersebelahan, sesekali bercanda satu sama lain. Jungkook tampak sangat nyaman, seolah-olah dia sudah menjadi bagian dari keluarga ini sejak lama.

Rose dan Sehun juga tampak bahagia, tangan mereka saling menggenggam di bawah meja.

Eunwoo, yang duduk di sebelah Jisoo, tersenyum melihat suasana hangat ini. "Aku senang akhirnya bisa ikut makan malam keluarga seperti ini lagi".

Jisoo mengangguk. "Ya, sudah lama kita tidak melakukan ini".

Kim Hyun Bin mengetuk gelasnya dengan sendok, menarik perhatian semua orang. "Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian semua karena sudah datang malam ini. Sebagai seorang ayah, melihat kalian semua tumbuh dewasa dan sukses di bidang masing-masing adalah kebanggaan terbesar dalam hidupku."

Son Ye Jin tersenyum lembut. "Dan tentu saja, kami juga sangat senang melihat kalian menemukan orang-orang yang berharga dalam hidup kalian".

Semua orang tersenyum, merasakan kehangatan dalam kata-kata mereka.

Namun, suasana hangat itu sedikit berubah ketika Lisa tiba-tiba berseru, "Omo, aku hampir lupa! Kami punya kejutan untuk Jisoo eonni!"

Jisoo menatap adik-adiknya dengan bingung. "Ke... kejutan?"

Jennie tersenyum misterius dan memberikan sebuah kotak kecil berwarna biru tua. "Ini dari kami bertiga."

Dengan rasa penasaran, Jisoo membuka kotak itu. Di dalamnya ada sebuah kalung dengan liontin berbentuk bunga camellia, bunga kesukaannya sejak kecil.

Rose tersenyum. "Kami ingin mengingatkanmu bahwa tidak peduli seberapa sibuknya kita, keluarga akan selalu menjadi rumahmu".

Jisoo menatap kalung itu dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih... aku benar-benar tidak menyangka".

Lisa menyenggol lengannya. "Sekarang, janji pada kami, kau tidak akan bekerja sampai mengabaikan kesehatanmu lagi."

Jisoo tertawa kecil. "Aku janji".

Mereka berempat saling berpelukan, sementara yang lain tersenyum melihat kedekatan mereka.

Malam itu, di bawah langit berbintang dan cahaya lampu taman yang berkelap-kelip, keluarga Kim kembali merasakan kehangatan yang sempat mereka lupakan. Dan tanpa mereka sadari, malam ini bukan hanya tentang kebersamaan, tetapi juga tentang awal baru untuk hubungan mereka. Sebagai saudara, sebagai pasangan, dan sebagai keluarga yang tidak akan pernah terpisahkan.

THE END.
___

Terima Kasih, Para Pembaca Setia!

Akhirnya, setelah perjalanan panjang sepanjang 77 chapter, cerita ini resmi selesai. Saya masih sulit percaya kalau cerita ini benar-benar bisa selesai, dan itu semua tidak akan mungkin tanpa dukungan kalian, para pembaca setia yang selalu menunggu setiap update, meninggalkan komentar, memberikan vote, dan bahkan sekadar membaca dalam diam.

Terima kasih sudah ikut merasakan emosi dalam cerita ini, tertawa, menangis, kesal, bahkan mungkin gemas dengan para karakter. Setiap interaksi dari kalian sangat berarti buat saya dan menjadi motivasi terbesar untuk terus menulis.

Mungkin cerita ini sudah selesai, tapi perjalanan kita belum! Aku harap kita bisa bertemu lagi di cerita-cerita berikutnya. Jangan lupa tetap mendukung dan menantikan karya selanjutnya!

Sekali lagi, terima kasih dari lubuk hati yang terdalam. Kalian luar biasa!...

Keluarga KimTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang