76

899 110 8
                                        

Malam hari, mansion keluarga Kim dalam keadaan tenang, namun di dalam kamar Jisoo, keadaannya jauh dari damai. Tubuhnya terasa panas, kepalanya berdenyut hebat, dan tenggorokannya terasa kering. Sejak kembali dari kantor, dia sudah merasakan tubuhnya melemah, tetapi seperti biasa, dia mengabaikannya dan mencoba bekerja dari tempat tidurnya.

Namun, semua itu hanya berlangsung sebentar sebelum tubuhnya benar-benar menyerah. Pandangannya berputar, napasnya terasa berat, dan tiba-tiba dunia di sekitarnya menjadi gelap.

Keesokan paginya, Jennie yang hendak mengingatkan Jisoo tentang janji makan malam mereka mengetuk pintu kamar sang kakak. Tidak ada jawaban. Dia mengetuk sekali lagi, kali ini lebih keras.

"Eonni? Kau masih tidur?"

Tetap tidak ada jawaban. Jennie mulai merasa cemas. Dengan cepat, dia membuka pintu dan matanya langsung membelalak melihat Jisoo terbaring lemas di tempat tidur, wajahnya pucat, dan keringat dingin membasahi dahinya.

"Jisoo eonni!"

Teriakan Jennie membuat Rose yang baru saja keluar dari kamar langsung berlari ke arah mereka. Begitu melihat kondisi Jisoo, Rose segera duduk di tepi ranjang dan menyentuh dahinya.

"Ya Tuhan… dia demam tinggi!"

Jennie langsung mengambil termometer dari laci dan memeriksa suhu tubuh kakaknya.

"40 derajat Celsius! Ini bukan demam biasa, chaeng!"

Rose langsung bertindak cepat. "Aku akan ambil peralatan medis di kamarku! Pastikan dia tetap sadar, eonni!" tanpa rose beritahu, jennie pasti akan melakukannya.

Jennie mengangguk dan mengguncang tubuh Jisoo perlahan. "Eonni, bangun. Kau mendengarku?"

Kelopak mata Jisoo perlahan terbuka, dan dia menatap Jennie dengan pandangan kabur. "Je… Jennie?"

Jennie mendengus kesal. "Kau sadar juga akhirnya. Kau gila ya, bekerja terus sampai begini?"

Jisoo hanya bisa tersenyum lemah. "Aku baik-baik saja…"

Jennie langsung mendelik. "Kau pikir demam 40 derajat itu baik-baik saja?"

Rose kembali dengan tas medisnya. Dia memeriksa tekanan darah Jisoo, lalu menggelengkan kepala dengan ekspresi marah. "Tensinya rendah, tubuhnya dehidrasi. Kau kurang tidur dan kurang makan, ya?".

Jisoo mencoba berbicara, tapi Jennie langsung memotong. "Tentu saja dia kurang tidur dan kurang makan! Aku yakin dia bekerja sampai subuh lagi!".

Rose menatap kakaknya dengan tajam. "Jisoo eonni, sebagai dokter, aku seharusnya menangani ini dengan profesional, tapi aku benar-benar marah sekarang. Kau pikir tubuhmu terbuat dari besi?".

Jisoo hanya bisa terdiam, tahu bahwa adik-adiknya benar.

Jennie menghela napas dalam, berusaha menahan emosinya. "Eonni, kita baru saja bicara soal ini kemarin. Kau janji akan menjaga hubungan kita, tapi bagaimana bisa kita tetap bersama kalau kau terus-terusan mengabaikan kesehatanmu sendiri?".

Rose menambahkan, suaranya lebih lembut tapi tetap penuh teguran. "Kami tidak ingin kehilanganmu, eonni. Kau bukan hanya CEO, kau adalah kakak kami. Kami tidak butuh perusahaanmu, tidak butuh kesuksesanmu jika itu berarti kau akan mengorbankan hidupmu sendiri".

Jisoo menatap adik-adiknya satu per satu. Rasa bersalah semakin menumpuk di hatinya. Dia benar-benar tidak sadar sudah sejauh ini mengorbankan dirinya sendiri demi pekerjaan.

"Aku… Aku minta maaf" suaranya lirih, hampir seperti bisikan.

Jennie dan Rose saling berpandangan sebelum menghela napas.

Keluarga KimTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang