Limario menghela nafasnya sembari memeriksa sesekali kompresan yang ada pada dahi Jennie, karna faktor kehamilan juga memikirkan baby Ella, Jennie akhirnya jatuh sakit.
"Makan dulu ya bun? Bunda dari pagi belom makan loh" Bujuk Limario tapi Jennie malah menggelengkan kepalanya sembari memeluk erat tangan Limario.
"Ayah seneng-seneng aja kalau bunda meluk ayah kayak gini, tapi meluk ayah nggak bakalan bikin bunda langsung sembuh" Ujar Limario tapi Jennie hanya diam saja dengan masih pada posisinya.
"Yaudah, ayah baring dulu. Biar bundanya nggak pegel" Ujar Limario yang membuat Jennie akhirnya mau melepaskan tangannya.
"Sini" Ujar Limario memeluk Jennie yang langsung menenggelamkan wajahnya pada dada Limario.
"Adek, jangan bikin bundanya sakit dong. Kasihan nih bundanya" Ujar Limario sembari mengusap pelan perut Jennie.
"Adek lagi mikirin kakaknya" Jawab Jennie yang membuat Limario tersenyum mengingat Jennie melakukan segala macam cara agar baby Ella mau meresponnya.
"Setidaknya nggak separah kemarin-kemarin kan? Sekarang kakak udah mulai mau digendong sama makan makanan yang bunda masak" Ujar Limario yang membuat Jennie mengangguk.
"Ayah gimana? Nggak ada niatan bujukin si kakak?" Tanya Jennie karna dengan Limario, baby Ella masih enggan untuk berbaikan.
"Si kakak tuh versinya bunda tapi lebih kerasnya, ayah sampai bingung harus gimana" Jawab Limario yang membuat Jennie terkekeh pelan karna Jennie juga sadar akan sikap baby Ella yang benar-benar mirip dengannya tapi dengan sikap yang lebih keras.
"Bunda pikir dulu tuh si kakak cuman ngambil muka bunda aja, taunya sampai ke sifat-sifat juga" Ujar Jennie yang membuat Limario tersenyum sembari mengusap punggung Jennie.
"Kalau si adek ngikut kakaknya, gimana?" Tanya Limario yang membuat Jennie terdiam mendengar pertanyaan dari Limario.
"Aku beneran nggak bisa ngebayanginnya yah" Jawab Jennie tidak tau bagaimana pusingnya dia nanti ketika mendapat dua versi dirinya sendiri didalam satu rumah.
"Yaudah, ayah mau ke toilet dulu" Ujar Limario hendak berdiri tapi Jennie malah mengeratkan pelukannya pada Limario.
"Bun, ayah mau ke toilet loh" Ujar Limario tapi Jennie tidak memperdulikannya sama sekali dan malah memperkuat pelukannya.
"Bunda mau ayah pipis disini?" Tanya Limario tapi Jennie hanya diam sebentar dan nampak berpikir sebentar.
"Pake popoknya abang aja" Jawab Jennie dengan polosnya, Limario benar-benar tak menyangka dengan jawaban yang diberikan oleh Jennie.
"Yaudah, cepet ya" Ujar Jennie akhirnya melepaskan Limario agar segera menuju ke toilet daripada benar-benar pipis di atas ranjang mereka.
"Mau minum susunya sekarang? Takut kemaleman" Tanya Limario setelah keluar dari dalam toilet.
"Boleh deh yah" Jawab Jennie setelah melihat jam yang ada di dinding kamarnya dengan Limario.
"Yaudah, bunda tunggu disini ya? Ayah buatin susu hamilnya dulu" Ujar Limario segera berlalu untuk membuatkan susu hamil untuk Jennie.
"Huft, bosen" Ujar Jennie memilih turun dari ranjang dan menyusul Limario dengan jalan agak sempoyongan karna masih merasakan sakit di kepalanya.
"Loh? Kok bunda kesini?" Tanya Limario ketika melihat Jennie datang mendekat kearahnya, Limario langsung memegang tangan Jennie agar tidak terjatuh.
"Kangen sama ayah" Jawab Jennie sembari memeluk Limario, Limario sontak menghela nafasnya karna belum ada lima menit dia pergi.
"Peluknya dari belakang aja ya? Ayah mau buatin susunya dulu, takut kena air panas" Ujar Limario yang membuat Jennie hanya bisa menurut dan berpindah memeluk Limario dari belakang.
