Dua Garis(?)

1.8K 156 2
                                        

Jennie merasa kepalanya benar-benar pusing sekarang apalagi beberapa kali dia memuntahkan isi perutnya.

"Pulang aja deh" Ujar Jennie meraih tasnya juga ipadnya untuk memilih pulang karna dia sudah tidak tahan.

"Saya pulang duluan ya, lagi nggak enak badan. Nanti kalau udah waktunya tutup, langsung tutup aja" Pesan Jennie pada salah satu pegawainya, Jennie sontak berjalan kearah luar.

"Ayo pak" Ajak Jennie pada sang supir pribadi yang sudah menunggu sejak tadi, sang supir mengangguk dan berjalan cepat untuk membukakan pintu agar Jennie dapat masuk.

"Tolong nanti mampir ke apotek ya pak" Ujar Jennie karna Jennie berniat untuk membeli obat masuk angin.

"Eh? Iya ya, aku udah telat datang bulan" Gumam Jennie setelah melihat jadwal siklus halangannya.

"Nggak mungkin kan" Tanya Jennie meraba perutnya secara perlahan, kedua mata Jennie berkaca-kaca mengingat jika benar dia hamil.

"Tunggu ya pak" Ujar Jennie setelah mobil mereka berhenti tepat didepan sebuah apotek yang cukup lengkap.

"Silahkan, ada yang bisa saya bantu?" Tanya sang apoteker sembari tersenyum pada Jennie.

"Saya mau beli obat masuk angin sama testpacknya juga 2" Jawab Jennie yang membuat sang apoteker mengangguk dan mulai mengambilkan pesanan untuk Jennie.

"Terimakasih" Ujar sang apoteker setelah Jennie membayar biaya obat serta dua buah testpacknya.

"Kalau emang belum, yaudah" Gumam Jennie karna dia juga sudah pernah periksa seorang diri dan hasilnya masih garis satu.

"Terimakasih pak, bapak bisa istirahat" Ujar Jennie ketika mereka telah sampai didepan rumah Jennie.

"Baik bu" Jawab sang supir pribadi kemudian Jennie memilih masuk kedalam rumahnya, Jennie memilih langsung masuk kedalam kamarnya.

"Please" Lirih Jennie sembari menutup matanya untuk melihat hasil apa yang ada pada testpack tersebut.

"Ha? Ini serius?" Tanya Jennie menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dia lihat.

"Dua garis?" Gumam Jennie bergetar melihat hasil kedua testpack tersebut, air mata sontak jatuh melalui kedua pipi Jennie.

"Ini beneran?" Tanya Jennie sembari mengusap sangat pelan perutnya sendiri karna takut akan menyakiti bayi yang ada didalam kandungannya.

"Nini" Panggil seseorang yang membuat Jennie yang sedang memasak langsung menoleh dan tersenyum melihat Limario yang baru saja pulang dari kantor.

"Kata pegawai kamu, kamu pulang cepet" Ujar Limario sembari mengecek dahi Jennie memastikan apakah Jennie baik-baik saja atau tidak.

"Aku nggak kenapa-napa sayang, udah sembuh juga kok" Jawab Jennie tersenyum melihat wajah khawatir Limario.

"Mending kamu mandi dulu, setelah itu kita makan malam bareng" Ujar Jennie sembari fokus pada masakannya.

"Oke deh, aku mandi dulu" Ujar Limario mencium puncak kepala Jennie sedangkan Jennie hanya bisa tersenyum saja.

"Oh iya sayang, diatas meja rias. Ada kado, itu buat kamu" Ujar Jennie sebelum Limario benar-benar berlalu.

"Kado? Emang aku ultah?" Tanya Limario bingung karna hari ini mereka tidak sedang merayakan apa-apa.

"Emang kado cuman buat ultah? Aku iseng aja kok" Jawab Jennie yang membuat Limario sontak tersenyum mendengar jawaban dari Jennie.

"Oke tuan putri, dilaksanakan" Ujar Limario berlalu segera sebelum membuat Jennie kesal karna terus menjawabnya.

"Emangnya kado apa sih?" Tanya Limario menjadi penasaran dengan kado apa yang akan diberikan oleh Jennie.

Our StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang