Limario dan Jennie sama-sama terbangun karna bunyi telfon dari ponsel Jennie yang cukup kuat hingga membuat keduanya terbangun.
"Hm? Hpnya siapa sayang? Matiin" Ujar Jennie dengan mata yang masih tertutup sempurna, Jennie menarik selimut untuk menutupi kepalanya.
"Dia yang punya hp, dia juga yang ngomel" Gumam Limario ketika melihat ternyata ponsel Jennie yang berbunyi.
"Sayang, ini Irene nelfon" Ujar Limario setelah melihat nama yang tertera pada ponsel Jennie yang masih berdering.
"Nggak usah diangkat lah, paling dia nanyain masalah baju. Besok aja" Ujar Jennie yang membuat Limario hanya mengangguk dan menyimpan kembali ponsel Jennie untuk ikut tidur kembali.
"Astaga" Ujar Jennie ketika kini mendengar bunyi telfon lagi, Limario juga ikut terbangun dan meraih ponselnya untuk melihat siapa yang menelfon.
"Siapa sih sayang?" Tanya Jennie ketika melihat jam masih menunjukkan pukul 3 dini hari.
"Seulgi" Jawab Limario mengusap rambutnya dengan kasar karna dia juga baru tidur jam 12 tadi.
"Coba angkat dulu, siapa tau penting karna tadi Irene dan sekarang malah Seulgi" Ujar Jennie yang membuat Limario hanya bisa mengangguk dengan lemas.
"Apaan Gi? Nggak sekalian lo bunyiin toa buat bangunin gue sama Jennie?" Tanya Limario merasa kesal apalagi matanya benar-benar tak bisa diajak berkompromi.
"Gini Lim, jangan marah-marah dulu" Ujar Seulgi dari ujung telfon seperti sedang khawatir dan juga bingung.
"Langsung aja, kenapa? Gue baru tidur 3 jam yang lalu ya anjir" Ujar Limario merasa benar-benar kesal pada Seulgi sekarang.
"Irene ngidam Lim" Jawab Seulgi yang membuat Limario rasanya ingin mengumpati Seulgi sekarang juga.
"Terus masalahnya sama gue apaan sipittt?" Tanya Limario benar-benar kesal karna waktu tidurnya terbuang percuma karna hanya ingin mendengar bahwa Irene tengah ngidam? Lelucon macam apa ini.
"Bukan gitu, masalahnya dia ngidam pengen dibuatin Tom Yam sama lu" Jawab Seulgi ketika sadar jika Limario hendak mematikan telfonnya.
"Ha?" Kaget Limario yang membuat Jennie kaget dan terbangun karna suara Limario yang cukup besar.
"Gue mohon banget Lim, daritadi Irene nangis nih" Ujar Seulgi perlahan mendekati Irene yang terdengar menangis.
"Astaga Tuhan, gue punya salah apasih sama anak lu" Ujar Limario benar-benar frustasi sekarang.
"Gue aja baru bisa buat nasi goreng sama sandwich Gi, gimana coba gue buat Tom Yam" Ujar Limario karna dia sama sekali tidak tau cara membuat makanan khas Thailand tersebut.
"Gue mohon banget Lim, ini Irene nggak bakalan berhenti nangis kalau lo nggak buatin Tom Yam buat dia" Ujar Seulgi bingung juga harus apa sekarang.
"Kenapa sayang?" Tanya Jennie melihat wajah frustasi dari Limario, Limario sontak menghela nafasnya sejenak.
"Irene ngidam pengen dimasakin Tom Yam sama aku" Jawab Limario yang membuat Jennie kaget mendengar hal tersebut.
"Ha? Tom Yam?" Tanya Jennie masih kaget dengan permintaan dari Irene, Limario nampak menghela nafasnya beberapa kali.
"Lim, lo mau anak gue malah ngileran karna ini?" Tanya Seulgi diujung sana, Limario mengusap rambutnya dengan kasar.
"Gimana kalau beli aja? Nanti bilangnya itu dari Lim" Saran Jennie yang kini ikut mendengar percakapan antara Limario dengan Seulgi.
"Dia mau ngelihat Lim masak langsung didepannya" Ujar Seulgi yang membuat Limario merosot kearah kasur dengan lemas.
"Yaudah Gi, dateng kesini aja sama Irene" Ujar Jennie karna mendengar suara tangisan Irene yang terdengar.
