(Season 2) 76. The Bandits

68 18 13
                                        

07.30. K.S.T

Saat ini, hanya ada 2 pilihan yang bisa dilakukan oleh seorang Hwang Yeji. Pilihan pertama, menjalani hari seperti biasanya dan bertahan hidup sesuai kapasitasnya. Pilihan kedua, Yeji bisa datang ke Renjun dan melaporkan sesuatu yang sepertinya akan membuatnya kena semprot sang pemimpin.

Jika Yeji dilahirkan sebagai manusia yang tidak bertanggung jawab, mungkin dia tidak akan sulit memilih pilihan tersebut. Masalahnya, Yeji tahu kalau dia memilih pilihan pertama mungkin akan terjadi hal-hal yang tidak dia inginkan terhadap rombongannya. Dan mungkin hal tersebut akan menambah list rasa bersalah dan menyesalnya.

Dari 30 menit yang lalu, Yeji tidak bisa tenang. Satu-satunya hal yang paling dia sesali pagi ini adalah rasa keingintahuannya yang terlalu tinggi sehingga dirinya tidak bisa menahan diri untuk membuka tirai jendela lantai 2 dan melihat orang-orang yang kemarin menjadi atensinya.

Lalu apa yang terjadi?

Yeji melihat dengan jelas ada satu orang di rooftop melihat ke arahnya. Karena sinar mentari telah menyinari kota Seoul, Yeji bisa melihat dengan jelas rupa orang tersebut. Dan sepertinya sinar mentari juga membantu orang di sana melihat sosok Yeji dengan jelas di balik jendela. Karena setelahnya, Yeji mendapatkan lambaian tangan darinya.

Terlihat ramah? Ya memang. Tetapi tahu apalagi yang dilakukan oleh orang itu?

Dia mengangkat sniper riflenya dan menembakan satu peluru ke arah Yeji, melubangi jendela kamar dan melesat melewati pundak gadis tersebut.

Saat itu juga Yeji syok, dan segera menutup tirai jendela yang menjadi aksesnya bertemu kontak dengan sang penembak. Jantungnya langsung berdegup kencang tidak karuan, baru saja mungkin nyawanya hampir melayang. Dia memeriksa kondisi sekitar dan untung saja Ryujin, Yuna, dan Chaeryeong belum bangun sehingga tidak ada saksi yang melihat kejadian barusan.

Oke, Yeji sekarang yakin orang-orang di rumah itu sama sekali tidak ramah. Katakan saja Yeji naif, namun baginya tembakan seperti tadi tidak mungkin bermaksud sebagai salam perkenalan.

Yah, sisi baiknya dia mendapatkan jawaban dari keabu-abuan pendapat Renjun, Jeno, dan Yeonjun tentang orang-orang di depan sana. Yeji akui, keputusan Renjun untuk tidak membuat kontak dengan orang-orang di sana nyatanya sangatlah tepat.

Sayangnya, Yeji sudah terlanjur di notice terlalu banyak oleh mereka dan peluru tadi adalah tandanya.

30 menit lamanya setelah kejadian itu, Yeji hanya berani duduk di lantai sembari menyandarkan punggungnya ke sisi kasur. Dunia seakan berhenti berputar di sekitarnya sampai-sampai dia tidak sadar bahwa Ryujin, Yuna, dan Chaeryeong telah bangun dan bersiap-siap sejak 20 menit yang lalu.

Gadis Hwang itu hanya punya 2 hal yang terus berputar tiada henti di kepalanya.

Pertama adalah fakta bahwa dirinya hampir mati 30 menit yang lalu. Dan kedua adalah fakta bahwa dirinya harus segera mengatakan kepada Renjun kelakuan orang-orang gila tersebut padanya. Masalahnya ada pada reaksi Renjun setelahnya.

Percayalah, Yeji malas jika harus menghadapi Renjun mode ahjuma bawel.

"Eonni, kau tidak apa-apa? Wajahmu pucat." Ryujin yang sedang bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan tidak bisa menahan rasa khawatirnya terhadap wajah pucat Yeji.

Gadis bermata kucing itu terlepas dari lamunannya ketika Ryujin menyentuh pundaknya. Bagaikan orang yang baru saja terbebas dari kerasukan, Yeji tersentak dan langsung berdiri dengan gerakan yang rusuh dan sedikit tergesa-gesa.

"Iya, aku baik-baik saja. Aku, turun duluan. Kau segera menyusul ya." Yeji langsung melesat keluar kamar tersebut meninggalkan Ryujin, Yuna, dan Chaeryeong yang bertanya-tanya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 20 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

No More HomeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang