Pukul 17.30 WIB. Langit Jakarta memerah, namun bagi Yoda, cahaya senja itu tidak membawa ketenangan. Sejak bangun dari mimpi buruk tadi siang, hati Yoda tidak tenang sama sekali.
Niatnya ingin istirahat mumpung Yasha tidak ada di rumah malah di buat kepikiran karena dalam mimpi dia malah menemukan Yasha yang dingin dan tak bernyawa di tengah reruntuhan, dunia rasanya selalu selangkah di belakang bayang-bayang ketakutan itu.
Ia duduk di kursi meja belajar nya, menatap miniatur atap rumah yang setengah jadi. Tangan kanannya gemetar halus, membuat garis pensil di kertas sketsa menjadi miring. Ia mencoba memaksakan fokus, mencoba meyakinkan diri bahwa itu cuma mimpi, seperti sebelum nya, percaya bahwa Yasha aman, bersama kakak nya dan malam ini akan berjalan sesuai rencana Yasir yang akan mengadakan makan malam bersama di halaman belakang.
"Cuma mimpi. Cuma mimpi," gumamnya pelan, seolah mengucapkan mantra penangkal.
Ponselnya tergeletak diam. Layarnya gelap. Namun, setiap kali ada suara angin atau dentang jam dinding, jantungnya berdegup kencang. Tubuhnya dalam mode siaga tinggi, takut sakali ada kabar yang akan membuatnya hancur.
Lalu, ponsel itu bergetar.
Bukan notifikasi. Bukan pesan grup keluarga. Tapi panggilan masuk.
Nama yang muncul di layar : Penyumbang Terbesar.
Darah Yoda membeku seketika. Bukan kaget biasa. Ini adalah rasa takut yang nyata, rasa takut yang persis sama dengan yang ia rasakan saat berlari melewati lorong gelap dalam mimpinya. Tangannya kaku saat meraih ponsel. Jari-jarinya mati rasa. Napasnya tercekat, seolah paru-parunya lupa cara bekerja.
Iya... ini dia. Ini momen itu. Mimpi itu nyata.
Ia mengangkat telepon. Suaranya keluar serak, hampir seperti bisikan orang yang sedang tenggelam. "Halo, Pih..."
Hening di seberang sana. Hening yang panjang, berat, dan mematikan. Hening yang persis sama dengan keheningan di kamar Yasha dalam mimpinya waktu itu.
Lalu, suara Yasir pecah. Bukan tegur sapa. Bukan pertanyaan. Tapi kalimat yang menghancurkan sisa-sisa kewarasan Yoda.
"Da... Turun ke bawah. Sekarang."
Suara Yasir bukan suara pemimpin keluarga yang tenang. Itu suara pria yang dunianya baru saja runtuh. Suara yang Yoda kenali dari nada bicara Yasir saat nenek mereka meninggal sepuluh tahun lalu.
Belum sempat Yoda bertanya ada apa, Yasir lebih dulu bicara. Mengucapkan kata yang benar-benar menghantam Yoda hingga tak bersisa.
"Yasha kecelakaan, Da. Kritis. Sultan bilang jantungnya drop. Kak Raivan udah handle di RS Sahabat Medika. Cepat, Da."
Kritis. Jantung drop. RS Sahabat Medika.
Kata-kata itu tidak diproses sebagai informasi. Kata-kata itu adalah konfirmasi. Otak Yoda tidak mendengar "kecelakaan". Otaknya mendengar: "Mimpi lo benar. Dia meninggal. Lo gagal menjaganya. Lo terlambat."
Ponsel jatuh dari tangannya, mendarat di karpet dengan suara gedebuk pelan. Yoda tidak menyadarinya. Ia tidak bisa bergerak. Matanya terpaku pada miniatur atap rumah di depannya, simbol keamanan yang kini terasa seperti lelucon kejam. Dunianya tidak runtuh perlahan. Dunianya sudah lama runtuh, dan telepon tadi hanyalah pemberitahuan resmi bahwa puing-puing itu akhirnya menimpanya.
"Da!"
Suara Hanna terdengar dari bawah, tercekik isakan, memecah kesadaran nya. Bukan panggilan sayang. Itu jeritan ibu yang kehilangan anak.
Tubuh Yoda bergerak sendiri. Bukan karena keputusan sadar, tapi karena insting bertahan hidup yang tersisa. Ia bangkit, kakinya terasa seperti terbuat dari timah. Ia tidak mengambil jaket. Ia tidak memakai sepatu yang tepat. Ia berjalan menuruni tangga seperti orang yang sedang berjalan dalam tidur, matanya kosong, napasnya dangkal dan cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gema Yasha Gemelard
Fan-FictionHanya berisi keseharian Yasha yang manja, jahil dan di sayang keluarga. Lanjutan dari book Yasha sebelumnya.
